Latest News

Pura Gua Lawah dan Ular Naga Besuki



Narayatrip.com--Pura Gua Lawah, Bali Pura Gua Lawah terletak di Jalan Raya Gua Lawah, Pesinggahan, Dawan, Klingkung, Bali.


Pura Gua Lawah merupakan salah satu dari enam pura penting di pulau Bali. Laha dalam bahasa Bali berarti kelelawar. Hal tersebut mengandung makna bahwa Pura Gua Lawah adalah sebuah Pura yang didalamnya terdapat gua sebagai tempat tinggal kelelawar. Keberadaan Gua Lawah yang terletak di bawah pepohonan rindah di area pura menjadi keunikan tersendiri untuk tempat ini. Mulut gua menjadi tempat tinggal ribuan kelelawar di dalamnya.

 Meskipun banyak kelelawar di dalam gua namun keberadaan mereka tidak mengganggu wisatawan yang datang berkunjung sehingga pengunjung tidak perlu khawatir akan gangguan yang mungkin di timbulkan olek para kelelawar yang ada disana. Masuk ke area pura pengunjung akan melihat bale- bale dan tiga gapura besar menghadap ke selatan. Di bagian atas bangunan gapura terdapt pahatan kelelawar yang sedang mengepakan sayapnya.

Dari Pura Gua Lawah pengunjung bisa menyaksikan pemandangan indah berupa lautan biru dan hamparan pasir hitam yang eksotis. Keberadaan Gua Lawah di dalam pura menjadi pemandangan unik dan tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini. Juga keberadaan pura yang bediri dengan megah terlihat indah dari kejauhan. Keunikan serta keindahan pemandangan alam di sekitar Pura Gua Lawah mamaou menjadikan tempat ini menjadi objek wisata yang diminati oleh banyak wisatawan, baik wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Pura Gua Lawah memiliki keindahan struktur bangunan yang indah dan memukau maka tak heran jika tempat ini selalu ramai pengunjung.

 Pura Gua Lawah berdiri di wilayah pertemuan antara laut dan gunung sehingga pura ini juga menjadi tempat sembahyang umat Hindu di Bali. Warga sekitar Gua Lawah sampai saat ini masih rutin melakukan upacara Nyegara Gunung sebagai wujud untuk menghormati kekuatan gunung, laut, batu besar, gua, mata air, dan cempuhan yang sudah secara turun-temurun menjadi kepercayaan umat Hindu. Kehidupan masyarakat Bali sebagai penganut agama Hindu memang sangat erat hubunganya dengan kepercayaan pemujaan pada alam. Oleh karean itu umat Hindu sangat memuliakan laut dan gunung.

 Sejarah Pura Gua Lawah 


 Pura Gua Lawah diperkirakan dibangun pada abad ke 11 oleh Mpu Kututuran. Perkiraan tesebut berdasarkan penemuan lontar Mpu Kuturan yang didalamnya tertulis tentang Pura Gua Lawah. Tujuanya adalah sebagai tempat untuk pemujaan para dewa yaitu Dewa Baruna atau Dewa Laut. Mpu Kuturan kala itu datang ke Bali pada abad ke 10 pada masa pemerintahan Anak Wangsa yaitu adik dari Airlangga. Pada saat itu Mpu Kuturan menemukan banyak sekali sekte yang ada di Bali.

Mpu Kututuran mengajarkan konsep tri murti untuk mempersatukan sekte- sekte yang ada di Bali. Kedatangan Mpu Kuuran memberikan perubahan yang cukup besar untuk wilayah tersebut. Mpu Kututuran mengajarkan bagaimana cara sembahyang atau pemujaan kepada parahyangan atau Sang Hyang Widi kepada penganut agama Hindu. Selain dalam lontar Mpu Kuturan, Pura Gua Lawah juga disebutkan dalam babad Sidhimantra Tatwa. Dalam babad tersebut disebutkan bahwa Pura Gua Lawah memiliki hubungan dengan Pura Besakih.

Pura Gua Lawah pertama kali di rawat oleh Gusti Batan Waringin atas petunjuk dari Ida Panataran putra dari Ida Tulus Dewayang sebagai pemangku Pura Besakih. Pura Gua Lawang konon menjadi jalan Ida Batara Agung Basukih keluar dari Gunung Agung saat hendak menyucikan diri ke laut. Pura Gua Lawah juga berkaitan dengan perjalanan Danghyang Niratha/ Dahyang Dwijendra yang memiliki gelar sebagai Penanda Sakti Wawu Rawuh. Dia adalah soerang brahma suci dari tanah jawa yang hijrah ke Bali untuk menyebarkan agama Hindu. Dalam perjalananya Dahyang Dwijendra dari Gelgel menuju Kusamba, dia berhenti di Gua Lawuh.

Dari Gua Lawuh dia melihat pemandangan laut dan gunung yang indah. Dwijandra kemudian membangun Padmasana sebagai tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Pura Gua Lawah merupakan perwujudan dari Naga Basukih. Dalam mitologi Hindu Naga Basukih adalah salah satu dari tiga jelmaan dewa yang diturunkan ke bumi untuk menyelamatkan bumi. Naga Basukih menjadi simbol dari keseimbangan alam antara gunung dan laut. Pura Gua Lawah juga manjadi saksi perang Kusamba, yaitu perang antara rakyat Kalungkung melawan Tentara Hindia Belanda. Pura ini dinobatkan sebagai Pura Khayangan Jagat sebagai istana dari Dewa Maheswara dan Sang Hyang Basukih yang berfungsi sebagai pusat Nyegara Gunung.

Pura Gua Lawah menjadi tempat pemujaan Dewa Maheswara sebagai penguasa angin tengggara menurut kepercayaan Hindu. Misteri Pura Gua Lawah Pura Gua Lawah menjadi salah satu pura yang disucikan oleh masyarakat sekitar. Menurut kepercayaan Gua Lawah menjadi pintu untuk menuju ke tempat yang berbeda yaitu Gunung Agung, Talibeng dan Tangkid Babang yang sampai sekarang masih menjadi misteri bagi masayarkat sekitar. Pura ini juga dikenal memiliki hubungan dengan kekuatan arwah nenek moyang. Masyarakat setempat juga menganggap kelelawar yang tinggal di dalam Gua Lawah adalah kelelawar keramat. Konon jika ada seseorang yang mengganggu atau bahkan sampai membunuh kelelawar di sana maka orang tersebut akan mengalami hal buruk. 

Masyarakat percaya bahwa Pura Gua Lawah terhubung dengan Gunung Agun atau Pura Besakih melalui sebuah lorong di dalam gua. Lorong tersebut juga konon mampu menembus gunung dan menghubungkan ke tempat- tempat lain. Tak hanya dihuni oleh ribuan kelelawar konon Gua Lawah juga mennjadi tempat tinggal bagi sepasang ular raksasa yang memakai mahkota dikepalanya. Menurut kepercayaan masyarakat didalam gua terdapat sebuah lorong khusus sebagai tempat tinggal ular tersebut. Menurut keterangan masyarakat setempat lorong Gua Lawah memiliki panjang 30 kilometer. Sebuah kisah legenda bercerita dulu ada seorang pangeran dari Mengwi bersembunyi di dalam Gua Lawah. Dia kemudian mengikuti lorong yang ada di dalam gua sampai kemudian dia menemukan jalan menuju keluar dan dia keluar di Pura Besakih di lereng Gunung Agung.

Masyarakat Bali terutama penganut agama Hindu mempercayai bahwa Gua Lawah menjadi tempat persemayaman Naga Basukih. Gua ini sendiri merupakan lambang dari kepala Naga Basukih dimana badan dan ekornya berada di Pura. Oleh karena itu jika anda berkunjung ke tempat ini anda harus menjaga kesopanan dan mengikuti setiap peraturan yang ada di Pura Gua Lawah. Jangan coba- coba untuk berkata kasar ataupun bertingkah tidak sopan karena akan menyinggung dan membuat marah penghuni tempat ini.

Warga maupun wisatawan juga dilarang untuk memburu kelelawar yang ada di dalam gua karena di anggap sebagai kelelawar istimewa dan dilindungi oleh adat istidat warga setempat. Karena pura ini dianggap sebagai tempat suci maka wanita yang sedang dalam masa haid dilarang masuk ke dalam pura maupun gua karena dianggap dalam keadaan yang tidak suci.

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.