Latest News

Pengaruh Pandemi Corona Virus Mampu Merubahan Sistem Kerja Untuk Selamanya



Narayatrip.com--Hanya dalam beberapa bulan, pandemi virus corona telah mengubah kebiasaan hidup sehari- hari orang- orang di seluruh dunia.


Bagi warga Amerika, dampak pandemi dari segi perekonomian menciptakan sistem baru sebagai dasar sebuah pekerjaan, sebuah gerakan baru secara besar- besaran merubah sistem kerja untuk bekerja dari jarak jauh dan meroketnya angka pengangguran yang diperkirakan akan terus meningkat. Lebih dari 30 juta orang di Amerika menjadi pengangguran dalan enam minggu terkahir, Amerika Serikat diprediksi akan terus mengalami kemrosotan perekonomian sampai tahun 2021.

 Di tengah anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah di seluruh penjuru negeri, para pekerja kantor telah mengubah kebisaan bekerja sehari- hari dikantor dan kini mereka bisa melakukanya di meja makan, sofa, maupun tempat tidur dari rumah mereka masing- masing.

Kebanyakan dari mereka mulai berfikir tentang nasib diri mereka dalam situasi jangka panjang, seperti perjuangan dunia bisnis untuk menentukan langkah kedepan sedangkan aturan pembatasan secara perlahan terus meningkat. Tetapi perubahan apalagi yang akan dijumpai pada beberapa bulan atau beberapa tahun yang akan datang?

 CNBC Make It  berbincang mengenai masa depan pada para pelaku kerja seperti CEO, Designer, dan lainya untuk mencari tahu bagaimana pandemi ini dapat mempengaruhi sistem kerja untuk selamanya. Bekerja di kantor hanya akan menjadi simbol sebuah status.

Menyusul kabar terjadinya pandemi, kemungkinan besar warga Amerika akan membagi waktu pemereka untuk bekerja antara bekerja dari rumah atau dari kantor, kata Brent Capron, seorang direktur desain interior di perusahaan arsitektur Perkins and Wills New York Studio.

 “Orang- orang akan tetap melakukan pekerjaan”, katanay.”Tetapi mengenai jumlah waktu anda bekerja, berkumpul dengan yang lain dan mengenai apa saja yang anda lakukan dalam satu pekan. Saya melihat akan terjadi sebuah perubahan tradisi menuju ke masa depan.”

Dengan lebih banyak orang yang mulai bekerja dari jarak jauh, perusahaan mungkin nantinya akan menyediakan akses khusus perusahaan yang terhubung secara regional sebagai ruang kerja bersama dimanapun para pekerja berada daripada harus menyediakan sebuah kantor dimana mayoritas pekerjaan terpusat dikerjakan di dalam kantor.

 Sebagai akibatnya, kantor dari sebuah perusahaan hanya akan menjadi simbol sebuah status dari keberadaan perusahaan yang memiliki tenaga dan anggaran yang besar untuk menjamin real estate mahal di sebuah kota besar.

 Investasi sebuah perusahaan melalui kantor pusat menjadi media untuk merekrut bakat, kata Jane Oates, presiden WorkingNation, sebuah organisasi kemasyaratakan dan seorang mantan asisten sekretaris di Departemen Tenaga Kerja.

 Para pencari kerja menganggapnya sebagai kesempatan kerja yang menarik terhadap perusahaan yang memiliki lokasi atau kantor yang meningkatkan kesadaran mereka akan adanya sebuah perusahaan dan berpengaruh terhapas seluruh kegitan industry.

 Rapat penting dilakukan melalui Email dan IM Seperti yang diharapkan selama ini jadwal rapat akan lebih sedikit dilakukan, kata Nadjia Yousif, direktur pelakasa dan mitra Boston Consulting Groups London.

Situasi pandemi menjadi sebuah media baru, katanya. Dimana orang- orang yang sebelumnya tidak terbiasa menggunakan teknologi dalam bekerja kini mereka mau tidak mau harus mampu beradaptasi menggunakan alat- alat teknologi untuk melakukan pekerjaan. Dan dalam beberapa kasus yang di jumpai, pekerja menjadi lebih efisien dalam menyelesaiakn tugas mereka.

 “Orang- orang harus lebih bersabar dalam mempelajari sebuah teknologi baru dan menggunakanya, karena mau tidak mau mereka harus melakukanya,” kata Yousif. “menurut saya hal tersebut akan lebih baik dilakukan secara terus menerus sehingga kita mampu menciptakan semangat baru untuk melakukan bekerja secara virtual.”

Untuk itu, diharapkan ini mampu menjadikan pekerjaan lebih mudah dilakukan dan lebih efisien dan memudahkan komunikasi diantara kolega. Semakin banyak rapat dilakukan melalui email dan akan banyak email yang berubah menjadi pesan instan. Bagi anggota tim yang tidak memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja lebih lama di kantor, menerima panggilan pertemuan rapat akan menjadi lebih mudah dilakukan melalui video.

Hal tersebut juga mampu meningkatkan kepercayaan di antara rekan kerja jika ada salah satu dari anggota tim yang tidak dapat berinteraksi secara langsung. Saat anda menerima isyarat non- verbal, atau anda diundang ke rumah rekan melalui panggilan video, “Membentuk sebuah kedekatan dengan caara yang lebih mudah dibandingkan dengan yang terjadi di lingkungan kerja tradisional yang mengharuskan seseorang harus ada di kantor,” katanya.

Menjadi akhir dari perjalan bisnis yang kita ketahui selama ini Karena akses perjalan telah dihentikan, bekerja dari rumah menjadi satu- satunya pilihan yang bisa dilakukan perusahaan juga berusaha untuk meminimalisir biaya yang dikeluarkan untuk menyeimbangkan anggaran yang mereka miliki, banyak pakar bisnis meyakini bahwa perjalan bisnis yang selama ini kita kenal akan menjadi bagian dari masa lalu.

 “Saya tidak yakin mengenai perjalanan bisnis akan sama seperti sebelum pandemic,” kata Gary Leff, pakar industri perjalanan dan penulis blog View from The Wing.

Mengubah preferensi konsumen dan minat yang lebih besar pada pembatasan social akan membatasi acara- acara yang mengundang masa dalam jumlah besar seperti konferensi dan konvensi untuk masa yang akan datang, kata Leff, dan secara terus menerus akan mengurangi jumlah perjalanan bisnis.

 Selain itu, Leff mengharapkan bahwa selama waktu pandemi ini perusahaan akan menyadari bahwa beberapa perjalanan bisnis sebenarnya tidak perlu untuk dilakukan dan dapat diganti dengan pertemuan melalui video.

Leff juga menunjukan solusi bagi perusahaan agar dapat mengatasi kerugian ditengah situasi pandemic seperti sekarang ini yaitu dengan memangkas anggaran perjalanan bisnis. Gedung perkantoran sebagai pusat konferensi yang rumit Dengan adanya perombakan gedung perkantoran sebagai symbol status tertinggi sebuah perusahaan bisa berpengaruh pada tujuan utama perusahaan.

“Apakah kantor benar- benar menjadi pusat pertemuan yang rumit?” tanya Capron.

Dia memperkirakan gedung perkantoran diwaktu yang akan datang hanya akan menjadi tempat untuk mengadakan pertemuan atau konferensi sementara pekerjaan bisa dilakukan dari jarak jauh. Ini berarti akan lebih sedikit kantor dengan sekat- sekat dan lebih banyak ruangan untuk pertemuan seperti konferensi dan acara lain sebuah perusahaan. Selain itu rencana untuk membuka lantai kantor tanpa sekat meja akan tetap dilakukan.

Meskipun hal tersebut dianggap dapat mematikan produktivitas seseorang dalam bekerja, kemungkinan perusahaan masih akan tetap menggunkaan tata letak dalam upaya untuk menurukan biaya real estat. Tata letak terbuka akan berubah namun beberapa situasi mungkin akan berbeda, meja masih berjarak, di setiap pintu masuk akan disediakan handsanitizer dan tisu antibakteri, setelah itu karyawan bisa mencari ruangan untuk fokus bekerja, seperti bilik pribadi.

Capron berhenti mengatakan bilik akan kembali. Runag kerja yang lapang dan tidak ada kursi yang disediakan seperti sebelumnya dianggap akan menurunkan popularits. Pekerja menginginkan keamanan dan control pribadi terhadap ruangan pribadi yang mereka gunakan bekerja dan merapikannya seiap hari atau berapa hari sekali.

 Diruang kerja bersama, akan lebih banyak perlengkapan yang digunakan tanpa harus disentuh seperti sensor pintu, wastafel dan sabun otomatis, dispenser, bank, lift yang bisa diaktifkan melalui suara. Arsitek juga bisa mendesaign ruangan dengan bangan bangunan yang lebih tahan lama, furniture, lantai dan lainya yang tahan terhadap perawatan kebersihan, itu menjadi kebutuhan kantor- kantor dimasa yang akan datang.

 Pemeriksaan medis menjadi kebiasaan di tempat kerja Pakar kesehatan dan hokum memperkirakan tindakan skrining medis, seperti pemeriksaan suhu dan tes antibody akan mulai berkaku ketika nanti orang- orang kembali bekerja di beberapa bulan mendatang.

 Tindakan ini juga sudah ditemui di beberapa kasus yang berguna untuk mengurangi penyebaran virus korona di kalangan pekerja, beberapa perusahaan besar di negara Amerika diantaranya Amazon, Walmart, Home Depot and Starbucks telah memberlakukan cek suhu tubuh para karyawan sebelum mulai bekerja.

 Menurut pakar pekerjaan dan ketenagakerjaan David Barron, pemilik usaha tidak hanya diijinkan secara hukum untuk memeriksa suhu tubuh karyawan, kini hal tersebut juga telah mendapat dukungan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

 “Selama pemilik usaha tidak mendiskrminasi siapa saja yang akan diperiksa subuh tubuhnya, hal tersebut secara hukum boleh dilakukan.”

Tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya para pekerja di Amerika Serikat diminta untuk menunjukan bukti atau surat keterangan sehat yang membuktikan bahwa mereka tidak terinfeksi virus Covid-19 sebelum mereka bisa kembali bekerja, kata Baron.

Cara ini sedang dilakukakan di beberapa negara salah satunya adalah Inggris yang sedang meluncurkan program baru yaitu paspor inmunitas. Dimana pekerja melakykan tes kesehatan tubuh untuk memastikan bahwa merka memiliki kekebalan tubuh yang baik. Namun, beberapa ilmuwan sebelumnya telah mengatatakan hal tersbut belum terbukti secara ilmiah bahwa seseorang yang memiliki kekebalan tubuh yang baik dapat terhindar dari virus corona.

 Anthony Fauci, direktur Institut Nasioanl Alergi dan Penyakit Menular dan anggota gugus tugas virus corona di Gedung Putih mengungkapkan bahwa program sertifikat kesehatan sedang dalam proses pembahasana.

 “Hal ini mungkin akan membawa keuntungan di beberapa kondisi tersentu,” ungkapnya kepada CNN.

 Hubungan dengan rekan kerja menjadi lebih dekat Jika saja sudah dapat dipastikan bagiamana dampak pandemi ini mempengaruhi dunia kerja di masa yang akan datang, hal tersebut tentunya akan memperkuat hubungan pribadi yang tejalin diantara rekan kerja.

 “Untuk waktu yang cukup lama, kita bertemu pekerjaan dan kesibukan mereka masing- masing tanpa disadari pertemuan itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang baru kita sadari saat ini,“ kata Lakshmi Rengarajan, seorang konsultan hubungan kerja dari WeWork and Match.com.

“Menurut saya hubungan antara rekan kerja dalam satu tim akan menjadi lebih dekat ketika mereka bertemu kembali di tempat kerja.”

Profesor Whartin dari organisasi psikologi dan Adam Grant penulis “Original” juga memiliki pemikiran yang sama. Mereka mengungkapan bahwa ketika rekan kerja kembali bekerja dikantor mereka akan meninggalkan kebiasaan mengirim pesan seperti sebelumnya, mereka akan benar- benar sadar, berjalan- jalan dan bertemu satu sama lain secara langsung.

 “Mungkin nantinya akan terlihat lebih sedikit kebiasaan menyedihkan yaitu makan siang di meja kerja,” katanya.

Hubungan antara rekan kerja bisa menjadi lebih erat, mereka mulai bisa mengandalkan dan percaya satu sama lain dan mulai mengenal satu sama lain ke tingkat yang bersifat pribadi. Maskipun begitu harus sadari dengan adanya interaksi secara langsung, jabat tangan bisa menjadi media untuk menularkan virus. Fauci menyarankan untuk tidak melakukan jabat tangan untuk sementara waktu bahkan mungkin akan terus berlangsung setelah pandemi berkahir. Pendapat ini juga disetujui oleh para pakar kesehatan.

 Rangarajan menagatakan ada beberapa gerkaan tubuh lain yang bisa dilakukan untuk menyapa dan menunjukan rasa hormat tanpa harus berjabat tangan, seperti anggukan atau senyum, itu mejadi kebiasaan baik yang bisa dilkaukan.

 “Mungkin bisa melalui kontak mata atau mendengarkan,” kata Rengarajan.

 Masker menjadi kebutuhan pokok sehari- hari Busana kasual akan tetap menjadi trend di dalam dunia kerja, namun diperkirakan akan muncul trend baru ditengah pandemic yaitu munculnya pakaian kerja dari rumah dan masker wajah sebagai aksesoris yang wajib untuk dikenakan untuk bersosialisasi.

 Pekerja yang sering melakukan pekerjaan melalui video dapat membuat pakaian mereka agar terlihat lebih rapi dan bagus di kamera, pemilihan warna- warna cerah, pemilihan motif pakaian dan tidak begaris. Atau menggunakan warna netral dengan motif kecil dan sedikit tambahan aksesoris.

“Jika kita lebih banyak menghabiskan waktu kita dilayar, saya pikir orang- orang akan lebih memperhatikan penampilan mereka agar terlihat profesioanl dan bagus ketita muncul di layar,” kata Natalie Nudell, mahasiswa fakultas mode dan tekstil sejarawan di Fashion Institute of Technology di New York City.

 Penggunaan masker di dalam kantor bisa menjadi hal biasa, terutama di perusahaan besar dengan lebih banyak pekerja yang datang dari berbagai tempat pemakaian masker akan lebih ketat untuk di lakukan. Peristiwa ini bisa menjadi peluang para pelaku industri tekstil untuk berinovasi membuat masker yang bisa menjamin perlindungan namun tetap nyaman dan fashionable.

 Jam kerja yang biasa dimulai pukul 09.00- 17.00 akan menjadi masa lalu Pekerja bisa secara profesional membagi waktu mereka untuk berkeja di kantor dan kehidupan rumah tangga di waktu yang sama, tak jarang juga banyak perusahaan yang memberi kelonggaran tentang peraturan waktu kapan harus memulai pekerjaan dan menyelesaikan pekerjaan mereka setiap hari.

 “Menurut saya akan terjadi sebuah norma baru dalam sebuah hubungan kerja tentang kepercayaan dan rasa hormat” bagaimana kemajuan para pemilik usaha megatur karyawanya, kata pelatih tenaga kerja Julie Kratz. Dia menjelaskan bahwa dengan banyak karyawan yang mampu bekerja dri rumah diwaktu sekarang ini, akan sulit bagi pengusaha untuk menolak fleksibilitas jam kerja dan sistem kerja.

“Untuk sebagian besar pekerja kantoran, anda bisa melakukan pekerjaan dari jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi, anda dapat mengatur jadwal seusai keinginan anda sendiri,” tambah Kratz, dia mengatakan bahwa klienya yang bekerja di perusahaan teknologi Salesforce mampu bekerja dengan jam kerja yang fleksibel sebelum adanya pandemic Covid-19.

 Untuk mempertahankan hubungan organisasi, Kratz mangatakan pengusaha harus menetapkan agenda untuk mengadakan pertemuan rapat di kantor atau dilakukan secara online untuk berkoordinasi dengan staf dan anggota tim lainya.

Selain itu ia mengungkapakan untuk menciptan keseimbangan antara waktu kerja dan waktu pribadi, karyawan dan manajer harus bekerja sama dengan baik untuk menghindari rasa tertekan dengan email atau pesan yang muncul sepanjang hari. 

Ia menekankan, “Bagaimanapun juga ini bukan tentang membuang aturan yang sudah berlaku, tetapi ini tentang bagaimana membuat orang bekerja sama dengan baik.”

Tunjangan dari kantor pusat menjadi hal umum Ketika Twitter dan perusahaan e-commerce Shopify mengeluarkan perintah untuk bekerja dari rumah pada bulan Maret, kedua perusahaan tersebut menyediakan sumber daya tambahan kepada para karyawanya untuk membantu memperlancar menyelesaikan pekerjaan dari jarak jauh.

Shopify memberikan tunjangan sebanyak $1000 kepada karyawanya untuk membeli kebutuhan yang diperlukan untuk menunjang pekerjaan mereka dari rumah. Sementara Twitter, seluruh karyawan termasuk pekerja paruh waktu menerima peralatan kantor seperti meja, kursi dan bantal ergonomis untuk bisa bekerja dari rumah.

 Jika bekerja dari rumah menjadi suatu kebiasaan maka tak heran jika seseorang menerima gaji meskipun dia berdiam dirumah saja, kata penulis terkenal Jacob Morgan. Ia menjelaskan, agar pekerjaan dari jarak jauh lebih efektif, perusahaan harus menyediakan sumber daya yang dibutuhkan karyawan agar menjadi lebih produktif. Termasuk kebutuhan terkecil yang memungkinkan pekerja untuk mencukupi kebutuhan dalam menyesuaikan ruang kerja mereka.

 “Kemudahan bekerja dari jarak jauh memungkinkan perusahaan menghemat pengeluaran untuk biaya pengadaan fasilitas yang cukup besar,” tambah pelatih kerja Julie Kratz.

 Menurut perusahaan konsultan berbasis penelitian Global Workplace Analytics, Rata- rata bagi perusahaan yang mengizinkan karyawanya untuk bekerja dari rumah mampu menghemat biaya sekitar $11.000 pertahun untuk setiap karywan yang bekerja dari jarak jauh.

Perusahaan bisa menggunakan sebagian biaya utnuk berinvestasi dalam pengaturan kerja jarak jauh,

“Ini dirasa mampu menghargai loyalitas karyawan terhadap perusahaan karena anda sebagai pemilik perusahaan memperdulikan karyawan. Selain anda ingin keryawan tetap produktif anda juga memperhatikan kebutuhan merka untuk bekerja dengan baik,” kata Kratz.

 Tempat kerja menjadi lebih adil untuk perempuan Dengan peraturan kerja jarak jauh yang sekarang ini telah berlaku, dengan kemudahan bekerja berjangka panjang memungkinkan perempuan bisa tetap bekerja sambil mengurus rumah tangga, kata Elise Gould, ahli ekonomi di Econimic Policy Institute. 

Perubahan peraturan tempat kerja memberikan danpak besar pada perempuan, karena mereka biasanya cenderung menyesuaikan mereka antara pekerjaan dan keluarga daripada laki-laki. Faktanya sekitar 31% wanita yang memutuskan untuk tidak bekerja setelah memiliki anak meskipun pada kenyataanya mereka tetap ingin bekerja namun karena peraturan sistem kerja yang tidak fleksibel maka mereka terpaksa melakukanya, menurut survee FlexJobs 2019 menyatakan lebih dari 2.000 wanita dengan anak di bawah usia 18 tahun.

 Menurut PayScale, pemutusan kerja ini menjadi beban tersendiri bagi perempua karena kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dana pensiun namun mereka tetap harus membayar untuk jaminan sosial.

Budaya Kerja yang Lebih Fleksibel

Budaya kerja yang lebih fleksibel juga dapat menciptakan keselarasan antara laki- laki dan perempuan karena mereka dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga mereka.

“Anda akan mulai menyadari banyak pria yang mulai menginginkan sistem kerja fleksibel seperti sekarang ini, mereka juga berpendapat bahwa dengan hal itu mereka dapat menikmati waktu bersama dengan anak- anak mereka,” kata Kratz.

 Berbagai macam pilihan sistem kerja telah ditemui namun hal tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi tuntutat perushaan, negara- negara lain mulai menciptan budaya kerja dengan menyeimbangkan keselarasan gender.

“Anda dapat menjumpainya di negara Skandinavia, mereka menawarkan sistem kerja fleksibel dan karena itu kesetaraan gender terlihat jauh lebih tinggi dari pada negara lain,” kata Kratz.

 Posisi manajemen menengah dapat dihilangkan selamanya Dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun yang akan datang, kita dapat melihat dihapusnya manajemen menengah.

 “Salah satu hal besar yang terjadi saat krisis moneter global pada tahun 2008 adalah mengeluarkan semua jenis manajemen menengah yang memiliki posisi sulit untuk di promosikan,” kata Brian Kropp, wakil presiden perusahaan riset Gartner.

Itulah salah satu alasan mengapa pertumbuhan upah menjadi lamban, bahkan ketika ekonomi mencapai kemajuanya lagi pekerja jarang jarang ada yang dipromosikan menjadi manajemen menengah karena begitu banyak posisi yang dihilangkan selama terjadi kemrosotan. Kita bisa mengamati perubahan yang serupa setelah masa pandemi, kata John Sculley, CEO Apple tahun 1983- 1993.

“Banyak oraganisasi maupaun perusahaan yang akan mengatakannanti dulu kami belum membutuhkan setiap bagian manajemen seperti sebelumnya,” kata Sculley, ketua perusahaan manajemen manfaat farmasi RxAdvance kepada CNBC Make It.

 Sedangkan posisi lain lebih optimis setelah selesai pandemi seperti permintaan posisi untuk manajer karena perusahaan ingin mengoptimalkan produktivitas mereka. Salah satu ketakutan akan struktur manajemen secara keseluruhan adalah bahwa akan lebih sedikit manajer yang akan mengawasi jumlah laporan langsung kepada atasan, menciptakan ruang untuk menciptakan kesalahan, kurangnya pengawasan dan kesalahan dalam pengelolaan data.

 “Saya pribadi menganggap manajer yang baik akan selalu di butuhkan,” kata Oates. “Anda tidak dapat memiliki tenaga kerja yang baik apabila anda tidak memiliki manajer yang baik.”

Otomasi dapat dipercepat Setelah sekian lama para futuris memperingatkan tentang “robot pencuri pekerjaan” pandemi corona virus semakin manambah kekhawatiran bahwa robot akan menggantikan pekerjaan manusia. Kerena pembatasan sosial banyak oraganisasi dari restoran ke pengecer dengan terpaksa untuk tetap beroperasi dengan mengurangi karyawan. Hal lain yang menjadi nilai lebih adalah robot dan mesin hitung tidak bisa sakit.

 “Corona virus telah menyebabkan percepatan beberapa trend dunia kerja seperti otomatisasi,” kata Karen Fichuk, Ceo Randstand North America, dia menambahkan bahwa warga Amerika yang kini telah kehilangan pekerjaan perlu mengembankan keterampilan dan kreatifitas mereka untuk dapat menemukan pekerjaan yang baru.

“Yang kami pahami adalah saat ini dibutuhkan utnuk mengembangkan keterampilan dan pelatihan secara besar- besaran terutama kepada mereka yang telah diberhentikan dari pekerjaan.” Jake Schwartz, salah satu pendiri dan CEO General Essembly, setuju bahwa corona virus akan mempercepat otomatisasi.

“Ini menarik masa depan,” katanya.

Selama bertahun- tahun, perusahaan telah berupaya mengotomatiskan pekerjaan berulang melalui alogaritma yang dapat menyelesaikan tugas administrative dan robot yang dapat menyelesaikan produksi dan drone yang dapat menyelesaikan pengiriman barang. Para peneliti mengungkapkan bahwa otomatosassi semacam ini dapat lebih mudah dilakukan selama krisis ekonomi.

 “Perusahaan menjelma menjadi perusahaan yang lebih cepat jika mereka melakukan otomatisasi lebih cepat. Dan dalam hal ini apakah nantnya kita akan melihat pengangguran massal? Kami belum bisa memastikan,” kata Schwartz.

Kemungkinan permintaan menutup kesenjangan digital semakin meningkat Menurut Komisi Komunikasi Federal Sekitar 21 juta warga Amerika Serikat tidak memiliki akses internet, dengan beberapa laporan memperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat. Hal tersebut berarti bahwa ada jutaa pekerja, terlepas dari pekerja industri atau bukan, mereka tidak dapat bekerja dari jarak jauh.

 Meskipun pembahasan mengenai kesenjangan digital telah terjadi selama bertahun- tahun, kini dengan adanya pandemi corona virus memberikan peluang yang lebih besar, kata Kathryn de Wit, manajer inisiatif penelitian broadband di The Pew Charitable Trusts.

Banyak sekolah dan kantor di tutup, de Wi mengatakan bahwa dia berharap tentang satu hal yang perlu diperhatikan dalam situasi seperti sekarang ini adalah pejabat pemerintak perlu meningkatkan infrasturktur broadband, terutama jika pekerjaan jarak jauh menjadi satu- satunya pilihan karyawan untuk dilakukan.

“Kami melihat para pemimpin daerah, federal dan negara bagian bisa melakukan langkah pertama dengan memberikan akses WiFi di bus dan membagikan hotspot secara gratis,”katanya.

“Itu menjadi solusi yang bagus dan juga sangat dibutuhkan, tetapo broadband adalah infrastuktur. Dibutuhkan banyak waktu dan sumber daya untuk membenahinya. Jika kita ingin memastikan bahwa setiap warga Amerika dapat bekerja, besosialisasi dan belajar dari rumah, amak kita perlu mulai membahas tetang seprti apa solusi jangka panjang yang bisa dilakukan.”

 Menurut de Wit, untuk setiap negara bagian solusinya akan terlihat sedikit berbeda karena masing- masing memiliki wilayah geografis yang berbeda, jumlah sumber daya yang berbeda, sistem politik dan kebijakan yang berbeda.” Tetapi dengan rencana dan anggaran yang tepat setiap negara bagian dapat memberi penduduk mereka akses yang sama untuk bekerja dari jarak jauh dimasa depan. 

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.