Latest News

Desa Trunyan, Bali, Dark Tourism di Pulau Dewata




Terunyan atau Desa Trunyan salah satu desa yang terletak di Pulau Bali. Desa Trunyan terletak di sebelah timur Danau Batur, Kintamani, Bangli, Bali. Wilayah ini merupakan desa tertua di Pulau Bali. Penduduk Desa Trunyan adalah warga asli Bali atau Bali Aga. Desa ini menjadi kawasan yang sulit untuk di kunjungi, untuk mencapai Desa Trunyan pengunjung harus naik perahu menyeberangi danau. Menurut cerita para tetua Bali desa ini sudah ada dan dihuni sejak tahun 882 Masehi oleh Bali Aga sebelum ada keturunan kerjaan Maataran mengungsi ke Bali.

Desa Trunyan berda di kawasan pegunungan dan memiliki udara sangat sejuk. Memiliki pemandangan bentang alam yang indah juga tradisi yang menarik. Tradisi tersebut adalah Mapasah, sebuah tradisi masayarakat Desa Trunyan membiarkan mayat dalam keadaan terbuka. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Trunyan untuk mengubur mayat orang- orang yang tinggal di Desa Trunyan. Dan hanya orang- orang yang meninggal secara wajar yang dimakamkan di tempat ini.

Mapasah diawali dengan upacara pembersihan mayat. Pemebersihan dilakukan dengan cara memandikan jenazah dengan air hujan. Setelah proses pembersihan selesai jenazah dimakamkan dengan cara di letakkan di atas permukaan tanah. Untuk menghindari hewan buas yang kemungkinan akan merusak mayat disekitar mayat dibuat pagar pelindung yang terbuat dari anyaman bambu. Pagar ini disebut dengan ancak saji, berbentuk segitiga memanjang sesuai dengan ukuran mayat yang dilindunginya.

Ancak saji di kuburan Trunyan hanya berjumlah sebelas. Sesuai dengan ketentuan adat Desa Trunyan jika ada mayat baru maka mayat lama yang sudah menjadi tengkorak akan di pindahkan. Tulang tulang seperti tulang badan, tangan dan kaki di tumpuk rapi disamping pintu masuk. Sedangkan untuk tengkorak di susun di atas batu di bawah pohon Taru Menyan berjajar dengan tengkorak- tengkorak lainya. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk mengunjungi tempat ini. Bahakan tradisi unik Mapasah sudah dikenal oleh wisatawan mancanegara. Sampai sekarang tempat ini dikenal dengan nama Kuburan Trunyan. Tradisi Mapasah di Desa Trunyan menimbulkan berbagai cerita misteri yang meneyelimutinya.

Nama desa Trunyan sendiri berasal dari sebuah pohon yang sudah lama tumbuh di desa tersebut bernama pohon Taru Menyan. Taru Menyan berarti Kayu Wangi. Pohon ini sudah ada di Desa Trunyan sejak ribuan tahun yang lalu dan hanya bisa di temukan di tempat ini. Kebereradaan pohon inilah yang konon membuat mayat- mayat yang ada disekitarnya tidak berbau busuk seperti mayat pada umumnya.

Kuburan Trunyan memiliki tiga jenis sema (kuburan) untuk orang- orang yang maninggal. Tiga kuburan tersebut diantaranya Sema Wayah, adalah untuk makam orang- orang dewasa yang meninggal secara wajar. Kedua adalah Sema Bantas adalah kuburan bagi orang- orang yang meninggal secara tidak wajar seperti sebab kecelakaan, dibunuh atau bunuh diri. Kuburan ketiga adalah Sema Muda, yaitu untuk mengubur mayat bayi atau anak- anak serta orang dewasa yang belum menikah.


Kuburan Trunyan juga dinobatkan sebagai wisata paling seram di Bali bahkan di Indonesia. Di dalam area kuburan keramat ini pengunjung di larang untuk memindahkan, membersihkan atau membawa benda- benda dari Kuburan Trunyan. Tak hanya itu pengunjung juga harus menjaga kesopanan ketika berbicara saat berada di tempat ini. Orang atau pengunjung yang datang ke tempat ini harus menjaga niatnya ketika datang kesini jangan sampai berkeinginan untuk berbuat jahat atau usil ketika berada di Kuburan Trunyan. Jika seseorang tersebut dengan sengaja melanggar aturan- aturan tersebut konon orang tersebut akan tertimpa bencana.

Pada tahun 2017 silam terjadi kecelakaan sebuah mobil minibus terjun ke dalam Danau Batur saat sedang melaju di tanjakan Desa Trunyan. Kecelakaan tersebut menyebabkan satu orang meninggal, dua orang hilang dan empat orang luka- luka. Salah satu korban selamat bernama I Ketut Jaksa mengatakan bahwa sebelum meninggalkan area kuburan dia melihat sosok kakek- kakek berjalan mengikuti rombonganya. Sampai mobil melaju ke arah Penelokan meninggalkan Desa Trunyan. Namun saat berada di tanjakan mobil tiba- tiba mati menyebabkan mobil mundur samapi akhirnya masuk ke dalam Danau Batur. Kecelakaan ini konon diduga karena rombongan teresbut melanggar aturan yang berlaku di Kuburan Trunyan dan menyebabkan penunggu disana merasa terusik.

Misteri Pohon Taru Menyan
Pohon Taru Menyan yang terdapat di Desa Trunyan konon telah tumbuh lebih dari ribuan tahun. Banyak cerita misteri yang beredar dimasyarakat meneharnu pohon Taru Menyan yang tumbuh di area pemakaman Desa Trunyan. Masyarakat merasa terdapat keanehan yang tersimpan di balik tumbuhnya pohon tua tersebut karena meskipun sudah tumbuh dari dulu sampai sekarang pohon ini tidak mengalami perubahan meskipun usianya sudah sangat tua. Sulur- sulur dari pohon Taru Menyan konon bisa menyerap aroma apapun yang ada disekitarnya dan memiliki aroma wangi yang khas.

Menurut cerita legenda konon wangi pohon ini tercium sampai ke wilayah Jawa Tengah. Bahkan tiga putra makhota dan putri mahkota dari keraton Surakarta samapi terhipnotis dengan aroma wangi dari pohon ini. Karena penasaran mereka kemudian memutuskan untuk mencari sumber dari wangi tersebut. Akhirnya putra sulung dari Keraton Surakarta menemukan keberadaan wangi tersebut. Putra sulung dari Keraton Surakarta kemudian bertemu dengan penunggu Pohon Taru Menyan yang ternyata adalah sosok puteri cantik bernama Ratu Ayu Marketeg.

Mereka berdua kemudian memutuskan untuk menikah dan membangun kerajaan kecil ditempat tersebut. Sang Raja merasa khawatir aroma wangi dari pohon Trunyan akan membahayakan kerajaanya. Dia kemudian memerintahkan warganya untuk meletakkan mayat di bawah pohon Taru Menyan sehingga aroma wangi dari pohon tersebut tidak di ketahui oleh orang- orang di luar sana. Namun kenehan mulai muncul karena mayat- mayat yang diletakkan disana  sama sekali tidak tercium bau busuk. Padahal menurut logika jika mayat diletakan begitu saja tanpa dikubur pasti akan menimbulkan bau tidak sedap. Namun hal ini tidak terjadi, justru yang tercium adalah aroma wangi khas dari pohon Taru Menyan.

Larangan Wanita Mengantar Jenazah
Desa Trunyan memiliki aturan bahwa wanita di larang ikut mengantar jenazah ke Kuburan Trunyan. Konon jika seorang wanita ikut mengantar jenazah ke pemakaman mitosnya akan terjadi bencana yang melanda desa. Kejadian ini kabarnya kerap terjadi di desa Trunyan dan  belum ada yang bisa memecahkan tentang mitos tersebut. Wanita yang sedang dalam keadaan haid juga dilarang masuk ke dalam area Kuburan Trunyan karena dianggp dalam kondisi tidak suci.

Menurut cerita leluhur, dahulu ada beberapa wanita yang ikut mengantarkan jenazah kerabatnya masuk ke dalam pemakaman ini. Namun kemudian mereka tidak mau pulang dan ingin tinggal disana karena sedih kehilangan salah satu anggota keluarganya. Kabarnya para perempuan tersebut kemudian sakit dan sampai meninggal setelah masuk ke area pemakaman.

Misteri Pura Pacening Jagat
Selain kuburan misterius di Desa Trunyan terdapat Pura Pacening Jagat atau yang berarti Pusar Dunia. Pura ini tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang dan dianggap sebagai tempat suci. Pengunjung yang datang hanya diperblehkan melihat pura dari bagian luar saja. Didalam pura tersebut terdapat patung Ratu Gede Pusering Jagat. Konon patung ini bisa bertambah besar dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.