Latest News

Penampakan Hantu Noni Belanda Berkaki Kuda di Benteng Vredeburg Kerap Terlihat




Benteng Vredeburg salah satu gedung bersejarah di kota Yogyakarta yang menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia. Gedung bergaya Belanda ini telah berusia lebih dari 251 tahun. Benteng Vredeburg dibangun oleh pemerintah Belanda atas seizin Gubernur Yogyakarta pada kala itu adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1765. Pada saat itu Benteng Vredeburg berfungsi sebagai benteng pertahanan dan markas militer. Benteng Vredeburg kini menjadi salah satu destinasi wisata populer di Yogyakarta dan dinobatkan sebagai Museum Khusus Perjuangan Nasional.

Museum Benteng Vredeburg menyimpan berbagai koleksi benda- benda bersejarah. Beberapa diantaranya adalah berbagai karya seni, patung, macam- macam senjata peninggalan belanda, berbagai diorama yang mengandung cerita sejarah. Arsitektur bangunan bergaya vintage khas kolonial ju menjadi daya tarik wisatawan untuk menjelajahi lebih dalam tentang Benteng Vredeburg.

Sejarah Museum Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1760 oleh pemerintah Belanda berdasarkan persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Benteng Vredeburg semula bernama Benteng Rustenburg, atas seizin Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1765- 1788 bengunan benteng di sepurnakan dan berganti nama menjadi Benteng Vredeburg.  Belanda mengatakan bahwa tujuan utama dibangunya Benteng Vredeburg adalah untuk menjaga keamanan Keraton Yogyakarta dan sekitarnya.



Tujuan yang sebenarnya adalah agar Belanda lebih mudah mengawasi segala aktivitas yang terjadi di dalam Keraton Yogyakarta. Setelah kekuasaan Belanda di Indonesia diganti oleh Jepang Benteng Vredeburg masih digunakan sebagai benteng pertahanan bagi tentara Kempetai Jepang juga sebagai penjara bagi tahanan Jepang. Para pribumi dan kaum penentang Jepang ditangkap dan dipenjarakan di dalam tahanan di Benteng Vredeburg.

Pendirian Benteng Vredeburg bermula dari disepakatinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Isi dari perjanjian tersebut membelah wilayah jawa menjadi dua bagian kekuasaan dan memberikan keuntungan bagi Belanda sehingga mereka bisa semakin memperkuat kekuasaan atas tanah jawa. Perjanjian Giyanti merupakan perjanjian antara pihak Belanda dengan pihak Mataram yang diwakili oleh Sunan Pakubuwono II dan Pangeran Mangkubumi.

Perjanjian tersebut melahirkan wilayah Kesultanan Yogyakarta di bawah pemerintahan Pangeran Mangkubumi  sebagai Sultan Hamengku Buwono I dan sebagian wilayah menjadi wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Wilayah Kesultanan Yogyakarta mengalami perkembangan cukup pesat dan membuat Belanda khawatir akan hal tersebut. Oleh karena itu Belanda selalu berusaha mengawasi segala aktivitas di dalam Keraton Yogyakarta.


Misteri Benteng Vredeburg


Dibalik keindahan dan kemegahan dari bangunan Benteng Vredeburg, tempat ini juga tidak lepas dari sejarah kelam yang menyelimutinya. Benteng Vredeburg menyimpang banyak cerita misteri yang belum banyak diketahui oleh masyarakat terutama masyarakat dari luar kota Yogyakarta. Setelah dikuasai Belanda, Indonesia dikuasai oleh Jepang. Oleh Jepang Benteng Vredeburg digunakan sebagai markas tentara Kempetai Jepang yang kejam dan penjara bagi pribumi dan pemberontak Jepang.

Masyarakat setempat percaya bahwa di antara banyak bangunan di Benteng Vredeburg terdapat salah satu ruangan sebagai loji makhluk astral yang dikenal sangat angker. Mulai dari hantu pasukan tentara Belanda, suara teriakan yang misterius, sampai penampakan hantu noni Belanda berkaki kuda yang sering menampakan wujudnya di sekitar komplek Benteng Vredeburg.

Walaupun Benteng Vredeburg terletak di tengah keramaian namun sisi mistis yang dimilikinya tidak bisa di hilangkan. Museum Benteng Vredeburg terkenal dengan cerita mistisnya terutama saat malam tiba. Hal ini tak lepas dari usia bangunan Benteng Vredeburg yang sudah tua.

Serdadu Belanda
Cerita ini disampaikan oleh seorang penjaga stand pameran yang waktu itu diadakan di area Benteng Vredeburg. Kala itu tengah diadakan sebuah pameran kesenian di area Benteng Vredeburg, stand pameran yang ia jaga adalah stand lukisan yang cukup mahal harganya sehingga harus dijaga selama 24 jam.

Menjelang subuh dia mendengar seperti suara derap sepatu prajurit yang sedang baris berbaris dari arah benteng. Karena merasa penasaran dia mencari sumber suara tersebut dan betapa terkejutnya dia mendapati pemandangan yang dia lihat adalah sekelompok prajurit tanpa kepala.

Menurut keterangan warga sekitar mereka juga sering mendengar suara gaduh ketika menjelang waktu subuh, padahal pada malam hari apalagi dini hari Benteng Vredeburg tidak ada aktivitas orang atau wisatawan yang berkunjung. Sebagai tempat wisata Benteng Vredeburg hanya buka sampai pukul 18.00 saja.

Noni Belanda
Benteng Vredeburg dipercaya dihuni oleh sosok noni-noni Belanda. Hantu wanita ini memiliki wajah cantik namun berkaki kuda. Sosok ini tidak pernah diketahui mengganggu wisatawan namun beberapa orang yang pernah melihatnya mengakui bahwa sosok wanita ini terlihat cantik dengan gaun panjang namun memiliki kaki dengan bentuk seperti kaki kuda.

Seorang tukang becak yang sering mangkal di sekitar lokasi Benteng Vredeburg. Menjelang dini hari dia melewati Benteng Vredeburg dia melihat seorang wanita cantik dengan gaun panjang tengah berdiri di depan pintu gerbang. Tanpa pikir panjang dia langsung menawari jasa becaknya namun ketika wanita tersebut menyibakan gaunnya terlihat sepasang kaki seperti kaki kuda terlihat dengan jelas. Begitu terkejutnya tukang becak tersebut langsung mengayuh becaknya dengan kencang karena ketakutan.

Suara Rintihan
Konon suara rintihan selalu terdengar dari dalam gedung Benteng Vredeburg pada jam malam. Suara rintihan seperti kesakitan seringkali terdengar dan membuat bulu kuduk berdiri. Pada tahun 1998 saat diadakan renovasi besar-besaran pasar beringharjo yang lokasinya berdekatan dengan Benteng Vredeburg, pada malam hari ketika para pekerja tengah tertidur pulas tiba-tiba terdengar suara jeritan yang mnegerikan dari arah Benteng Vredeburg membangunkan mereka.

Beberapa malam mereka lalui dengan teror jeritan yang selalu muncul dan membuat mereka merasa ketakutan. Tak hanya satu kali mereka dengan jeritan tersebut namun hampir setiap malam. Para pekerja kemudian mencari sumber suara yang mereka dengar tersebut. Saat mereka menelusuri lokasi sekitar Benteng Vredeburg mereka menemukan kerangka manusia yang dikubur di sebelah utara Benteng Vredeburg. Setelah kejadian tersebut jeritan misterius tersebut sudah tidak terdengar lagi.


Larangan Membuang Sampah Sembarangan
Peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan pasti selalu kita temui terutama di tempat wisata. Namun di Museum Benteng Vredeburg peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan rupanya mempunyai alasan khusus selain untuk menjaga kebersihan museum. Konon jika ada seseorang membuang sampah sembarangan atau mengotori patung-patung yang ada di dalam museum orang tersebut akan pingsan dan tidak sadarkan diri. Oleh karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik kita menjaga tingkah laku kita agar tidak sampai mengusik makhluk astral yang menghuni museum.

Benteng Vredeburg memiliki dua jenis tahanan yaitu sel untuk kaum pribumi yang menentang Belanda dan satu lagi adalah untuk para bangsawan yang tidak mengikuti keinginan Belanda. Konon para tawanan di dalam penjara tersebut tidak diberi makan secara layak,bahkan sampai ada yang meninggal di dalam tahanan karena kelaparan.

Benteng Vredeburg juga dikelilingi dengan parit yang luas dan dalam. Parit ini semula sebagai pertahanan agar musuh tidak mudah mendekat. Namun tak hanya itu parit ini juga sebagai penjagaan agar para tawanan tidak mudah kabur dari dalam tahanan Benteng Vredeburg.

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.