Latest News

Payung Lukis, Upaya Mempertahankan Budaya Lokal



Perjalanan, 19 Mei 2018

Narayatrip.com-Di dalam bus yang bergerak secara pasti, tidak ada keraguan bahwa kunjungan kali ini akan memberi saya pengalaman baru. Sebentuk kisah pasti ada di dalam 
perjuangan seorang pengrajin Payung, begitulah saya pikir.

Sebab, tidak pernah ada keberhasilan yang diraih tanpa perjuangan. Di dalam proses itu pasti ada proses latihan, memahami, menyelami setiap bahan yang dibutuhkan, dan memprosesnya satu per satu menjadi bentuk yang nyata, yang tidak hanya diri sendiri yang bisa menikmati tapi juga orang lain.

Kiranya begitulah esensi seni, menawarkan petualangan, rasa baru, mengingatkan kita pada proses, dan banyak hal lainnya lagi. Seperti menyentil kebutuhan hidup kita sebagai manusia.


Kunjungan ini diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, dalam tajuk acara Carevisit Dompet Dhuafa. Acara ini sebagai bentuk pertanggungjawaban staf Dompet Dhuafa yang telah menyalurkan dana dari para penghibah kepada yang membutuhkan.

***
Tempatnya sederhana, berada di tengah-tengah Kampung Juwiring. Ketika rombongan blogger sampai di desa tersebut, pandanngan kami sudah disuguhi dengan gambar-gambar mural payung-pagmyung hias di dinding.

Kami sudah tergoda untuk mengambil foto si tempat itu, tapi tentu saja kami harus masuk dulu menemui tuan rumah.

Rumah pengrajin itu terlihat biasa, tentu yang membedakannya adalah di teras rumahnya ada bagian khusus untuk material payung. Terlihat ada beberapa kerangka payung berwarna cokelat di terasnya. Ada juga dua  payung besar bertuliskan Payung Lukis Juwiring.

Warna-warna payung utu cerah ceria, seakan-akan mengajak kita untuk berpesta. Tak lama, pesta itu memang berlangsung. Blogger yang ikut dalam perjalanan ini mendapatkan kesempatan untuk melukis sendiri. Setiap blogger mendapatkan sebuah payung yang masih bersih. Kami bebas berekspresi di sana, bebas menuangkan hasrat menggambar kami. Hasilnya, jangan ditanya, tentu saja tak seindah para pengrajin, aneh-aneh pokoknya.

Payung Lukis, Desa Juwiring Klaten

Payung Lukis Juwiring sudah berkiprah cukup lama di Indonesia, payung-payung ini sudah pernah ikut festival payung untuk memeriahkan branding pariwisata Indonesia. Payung Juwiring pernah ikut dalam festival di Solo, dalam festival itu mereka berhasil menjual payung dengan kisaran harga Rp 75.000 per buah. Payung Juwiring juga akan segera bergabung dengan festival di Kompleks Borobudur tanggal 7-9 Sept 2018.

Soal sejarah, jangan tanyakan dulu kapan pastinya, karena belum ditemukan data sejarah yang mengungkapkannya. Satu hal yang pasti, payung lukis pernah mengalami masa kejayaan/masa keemasan tahun 60-an. Ada pabrik payung yang memproduksi oayung tersebut hingga ribuan. Pada masa itu payung lukis masih difungsikan sebagai pelindung dari hujan dan panas, tapi karena perkembangan jaman, fungsinya tergeser. Kini payung lukis dilihat sebagai karya seni yang bernilai tinggi, sebagai sebuah hiasan hotel, dan lain sebagainya.

Apapun bentuk dan fungsinya sekarang, yang jelas saya melihat payung lukis bisa menjadi sebuah properti berharga dalam set film bernuansa Tionghoa, sehingga nilai artistiknya bisa diperlihatkan. 

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.