Latest News

Sekilas Tentang Arsitektur Tua di Rantauprapat


Rantau prapat

Narayatrip.com- Pernakah terpikir untuk mengenali sedikit saja arsitektur tua di setiap kota
yang ada di Indonesia? Banyak orang menyukai cerita di balik pembangunan arsitektur tua
yang masih tersisa di kota-kota besar di Indonesia.

Saat ini arsitektur tua ini sudah menjadi destinasi wisata, menjadi pemandangan yang memberikan
perasaan tertentu, suatu keajaiban yang dinamakan nostalgia. Ketika semua orang dapat merasakan
sisa-sisa kenangan yang nampak dari arsitektur tua yang tetap dipertahankan.

Di Rantauprapat juga terdapat beberapa arsitektur tua, tertarikkah Anda untuk melakukan perjalanan
singkat melihat detail masing-masing arsitektur tua berikut ini:

1. Stasiun Teluk Mengkudu (TKD)
Statiun Teluk Mengkudu yang berada di salah satu titik dekat dengan daerah Rantauprapat ini merupakan stasiun kereta api yang terletak di Pematang Setrak, Teluk Mengkudu, Serdang Bedagai.
Stasiun ini berada di Divisi Regional 1 Sumatera Barat dan NAD.

Nampak jelas, adanya sisa-sisa arsitektur kolonial di beberapa bagian Stasiun Teluk. Stasiun ini memiliki tiga armada, antara lain:
- Sribilah: ke Medan dan Rantau Prapat
- Putri Deli: ke Medan dan Tanjung Balai
- Siantar Ekspres: ke Medan dan Siantar

Rantau prapat


2.  Kantor telepon Koetaradja
Salah satu arsitektur tua ini dibangun di jaman Belanda. Bangunan ini menjadi kantor telepon yang menggunakan telegraf sebagai alat untuk berkomunikasi di jamannya. Ketika orang-orang kini sudah beralih ke telepon, kantor komunikasi yang didirikan di jaman Belanda ini menjadi bagian dari kenangan kota.

Identifikasi yang menjelaskan kapan arsitektur tua ini dibangun ada di bagian atas bangunan, tepatnya terdapat di dekat ventilasi salah satu jendelanya, terukir angka 1903. Kemungkinan angka tersebut menunjukkan waktu pembangunan Kantor Telepon Koetaradja tersebut. Hal itu berarti, gedung Kantor Telepon Koetaradja dibangun di era kepemimpinan Sultan Muhammad Daudsyah (1874-1903).

3. Vihara Kwan Im Teng
Tak terpungkiri di banyak daerah di Indonesia menjadi tempat tinggal keturunan Tionghoa.
Keberadaan mereka juga dapat ditelisik di daerah Rantauprapat, bukti terjelasnya ialah dengan
adanya arsitektur tua seperti Toa Pe Kong di Jalan Sanusi dan Vihara Kwan Im Teng di Jalan Asam Manis.

Vihara kwan im teng

Kedua arsitektur tua tersebut merupakan rumah ibadah yang berusia sudah lebih dari seabad.
Selain rumah ibadah, ada juga Chung Hwa School, sekolah yang berdiri sejak 1937 dan Sin Min School.

Kedua arsitektur tua berupa tempat ibadah dan sekolah membuktikan bahwa etnis Tionghoa tinggal sangat lama di daerah tersebut. Mereka tinggal sebagai warga negara lokal.

Sin Min School telah diambil alih pemerintah dan sampai sekarang sudah menjadi sebuah sekolah kejuruan. Sedangkan Chung Hwa School pada 1976,  atas perintah Laksusda Sumut melalui dinas pendidikan mengganti nama sekolah tersebut menjadi Perguruan Panglima Polem.

Kini, komunitas Tionghoa tinggal di kawasan kota, sehingga jika Anda bertravelling ke daerah tersebut, Anda bsia menjumpai mereka di daerah Jalan Imam Bonjol, Ahmad Dahlan, dan Sudir­man.

Bila Anda membutuhkan informasi paket wisata baik dalam maupun luar negeri dengan harga terjangkau, silahkan klik Paket Wisata. Tersedia berbagai wisata paket wisata baik dalam maupun luar negeri, paket wisata populer seperti Singapura, Pattaya, Bangkok, Thailand, Korea Selatan, Pulau Jeju, dan juga ke Dubai dan ke Eropa juga tersedia, lengkap dengan itinerarynya. 

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.