Latest News

Joko Anwar Bongkar 17 Profesi di Perfilman yang Jumlah Pro-nya Masih Langka di Indonesia

Joko Anwar

Narayatrip.com-Kamu penasaran dengan dunia perfilman dan tertarik untuk menggarap sebuah film sampai best seller, jadi legend, dan nggak timeless?

Belajar dulu deh sama ahlinya, nih Joko Anwar, sang sutradar kondang yang baru saja sukses merilis film horor Pengabdi Setan membagikan profesi di perfilman khususnya Indonesia yang bisa kamu prospek untuk masa depan kamu!

Joko Anwar membongkar lowongan profesi ini lewat thread tweet panjang di twitter, akun pribadinya. Thread ini sudah di retweets sampai ribuan, mencapai lebih dari 1,481 retweets dan kemungkinan akan terus bertambah.

Apa saja sih, profesi perfilman yang bisa diprospek? simak penjelasan Joko Anwar berikut yang sudah disarikan dari Thread panjangnya di Twitter @jokoanwar.

Joko Anwar pada 2 Januari, melalui akun twitter pribadinya menulis, profesi di dunia perfilman sangat menjanjikan, ada beberapa profesi yang masih langka di Indonesia dan ini bisa menjadi
peluang untuk siapa saja yang tertarik untuk berkarir di dunia perfilman.

1. Asisten Sutradara (Assistant Director) (AD)


Asisten Sutradara (AD)adalah tangan kanan sutradara untuk ngurus schedule, mastiin kru/pemain siap suting, supaya sutradara bisa konsentrasi di urusan kreatif. AD yg pintar adalah kunci suting yg tepat waktu dan lancar.

sutradara


AD terbagi atas First Assistant Director (1st AD) dan 2nd AD. Untuk produksi dalam skala besar,
bisa ada dua 2nd AD, sehingga menjadi 3AD dan 4 AD.

AD tidak mengurusi soal kreatif, jadi seharusnya bukan orang yg bikin pengadeganan, menentukan letak kamera, mengarahkan akting pemain dan lain sebagainya. Tugas ini menjadi tanggung jawab sutradara.

Kerja AD dimulai dari setelah terima skenario. AD akan membuat breakdown jadwal suting, breakdown keperluan departemen-departemen lain, dan skedul aktor. Satu hal yang menantang dalam tugas AD adalah orang yang tiap akan suting teriak "STAND BY!", "ROLL SOUND!", "ROLL CAMERA!" Baru setelah itu sutradaranya akan teriak "ACTION!" dan "CUT!"

One hell of a job, tapi ini adalah seni tersendiri. Di saat suting, 2nd AD bisa siapkan aktor, cek make-up, dan bantu bikin skedul untuk suting keesokan harinya.

AD atau astrada harus tahu at least basic knowledge dari tiap departemen termasuk penyutradaraan, kamera, artistik, semuanya. Kepribadiannya harus ramah sekaligus tegas. Yang pemalu, pendiam, nggak bisa jadi AD. Astrada bisa dibilang sosok yang keren lah di lokasi.

Fee AD di film bisa sampai dengan 1/3 fee sutradara. Tapi karena tugas AD selesai setelah suting selesai, AD bisa cari job lebih banyak dalam setahun.

2. Production Designer (PD) dan Art Director 

Kedua jabatan ini sering dipegang satu orang di produksi film skala kecil seperti sering di Indonesia.
Tapi PD tugasnya lebih besar. Setelah terima skenario dan dapat arahan sutradara, PD mendesain 'dunia' dari film termasuk set.

Production Designer dan Art Director bertugas mewujudkan visi sutradara, dan mengembangkannya.
Kalau mereka pintar, filmnya juga keren.Di produksi film Indonesia, jarang dibuat set model.
Biasanya hanya drawing karena jarang film Indonesia yg bangun set dari nol. Biasanya pakai lokasi/bangunan yang udah ada. Tapi ke depannya semakin maju perfilman, maka akan lebih dibutuhkan PD. Belajar dari sekarang!

Saat ini, profesi Production Designer dan Art Director sangat langka. Suting selalu rebutan.
Jadi, segeralah belajar buat yg tertarik. Syarat dasar: punya citarasa estetika tinggi, bisa gambar teknik, sketsa.

Art director yang biasanya kerja di film-film saya (Joko Anwar-red) termasuk @IwenRozari dan @winduart

3. Make-up Artist (MUA) dan Special Make-up Effects 

Make-up Artis (MUA) bukan sekedar bedakin pemain film supaya putih atau menor, tapi menegaskan karakter yang dipegang oleh aktor/aktris tersebut sesuai tuntutan skenario dan arahan sutradara.

Make-up Artist dan Special Make-up Effects bisa dipegang orang yang sama, seperti yang dilakukan @DarwynTse untuk film Pengabdi Setan. Efek luka di kulit, make-up setan, mock-up karakter termasuk contoh tugasnya. Kebayang kan kerennya profesi Make-up Artist dan Special Make-up Effects di perfilman? Jumlahnya juga sedikit lo di Indonesia.

Ini juga membutuhkan skill yang tinggi. Jadi nggak bisa modal bedak aja. Bisa belajar di pendidikan formal, kursus, atau otodidak.

4. Casting Director dan Talent Coordinator (Talco)

Dua profesi ini juga susah dicari di Indonesia karena jumlahnya yang bagus masih sedikit.
Casting Director bertugas mencari aktor/aktris yang cocok untuk karakter-karakter yang ada di skenario.

Casting Director yg baik bukan sekedar memberitahukan lowongan casting ke manajemen aktor/aktris yang dia kenal, tapi aktif mencari dari tempat lain. Dari mana saja. Tentunya harus punya mata khusus untuk bisa lihat orang yg punya potensi. Bukan sekedar cari yang bening.

Banyak aktor/aktris berbakat yang aktingnya keren, termasuk di Indonesia, ditemukan oleh casting director. Calon pemain diaudisi bisa dengan disuruh baca skenario untuk karakter tertentu. Nanti para kandidat terbaik ditunjukkan ke sutradara untuk diaudisi kembali siapa yg paling cocok.

Syarat untuk jadi casting director antara lain harus memiliki pengetahuan tentang akting, sangat bagus kalau punya pergaulan yang luas sehingga bisa mencari calon aktor di banyak kalangan. Casting Director di Indonesia biasanya juga merangkap sebagai Talent Coordinator (Talco). Kalau casting director bertugas sebelum suting, TalCo bertugas membantu Assistant Director untuk mengatur skedul aktor/aktris dan mempersiapkan mereka saat suting.

TalCo juga bertanggung jawab supaya aktor/aktris dalam kondisi dan mood yang prima sebelum masuk ke set untuk akting. Agak ribet kalau ada aktor/aktris yang punya kelakuan seperti diva (ada beberapa di perfilman Indonesia untungnya belum pernah main di film saya).

Talco harus selalu tahu dan menyiapkan kebutuhan para pemain. Talco harus bisa menjadi teman dari para pemain tapi juga harus bisa bertindak tegas kalau dibutuhkan. Jadi nggak bisa dipegang oleh orang yang nggak pede. Talco juga profesi yang kurang jumlahnya di perfilman Indonesia.

5. Location Manager.

Bertugas mencari lokasi sesuai tuntutan skenario dan arahan sutradara untuk dipakai suting.
Setelah menemukan kandidat lokasi, sutradara akan melihat apakah sesuai yg dia bayangkan.
Kalau cocok, Location Manager harus mengurus perijinan dan sewa tempat tersebut

Location Manager harus luwes berkomunikasi supaya diberikan ijin oleh pemilik lokasi, gampang mengurus perijinan, dan bisa dapat harga sewa yang murah. Ini adalah salah satu profesi yg sangat jarang di perfilman Indonesia.

Padahal tidak harus menempuh pendidikan khusus. Sudah jarang, yang ada banyak yang tidak jujur.
Sering mark-up harga atau kongkalikong dengan pemilik lokasi untuk naikin harga. Jadi kalau ada yang jujur, pasti akan sering dipakai jasanya.

Ayolah coba.

sutrdara


Ngomong-ngomong cara untuk bisa kerja di perfilman biasanya dimulai dari magang.
Bisa lihat cara kerja orang-orang secara langsung. Kalau rajin dan cekatan pasti next-nya akan dipekerjakan secara profesional. Jadi anak magang jangan malas apalagi banyak omong. Observe.

Gimana caranya bisa tau ada film yg akan diproduksi sehingga bisa magang? Cari tau lah, bisa lewat medsos, bisa dengan bergaul. Dulu aja nggak ada medsos yang pengen kerja di film bisa dapat info, kok. Stlh dapat info, kirim surat lamaran magang dengan proper. Jangan cuma messej di medsos.

Yuk, lanjut lagi ke profesi yang masih dibutuhkan di dunia perfilman Indonesia! Ini dia:

6. Script Continuity (Pencatat Adegan) (Juga disebut Script Supervisor) 

Tugas utamanya adalah menjaga kontinuiti adegan baik secara visual maupun verbal.
Catatan hasil kerja pencatat adegan ini sangat dibutuhkan editor untuk mengedit film.
Biasanya duduk di sebelah sutradara.

Script Continuity  adalah profesi yang bukan saja penting, tapi juga strategis untuk belajar lebih lanjut tentang suting film. Karena selain selalu berkomunikasi langsung dengan sutradara, juga harus dengan teliti memperhatikan adegan.

7. Still Photographer/Set Photographer 

Fotografer yg bertugas memotret adegan sama persis seperti yang ditangkap kamera film dan proses pembuatannya. Selain harus menguasai teknik fotografi, orang ini juga harus siap setiap saat menangkap momen penting dan menarik saat suting. Baik foto adegan (still photo) maupun foto behind-the-scenes pembuatan film akan digunakan sebagai marketing film. Jadi fotografer-nya harus paham dan siap setiap saat ambil foto yg berguna untuk marketing. Bukan sekedar dokumentasi seperti di kawinan.

8. Storyboard Artist

Ini juga jarang di perfilman Indonesia. Bertugas pada tahap pre-visualisasi, yaitu tahap di mana sutradara buat gambaran seperti apa adegan yang ingin dia buat supaya semua departemen tau maunya sutradara apa. Sutradara akan menjelaskan adegan ke storyboard artist yang lalu
akan menggambar adegan tersebut biar bisa dilihat departemen lain untuk persiapan apa aja yg dibutuhkan saat suting. Seru, memvisualisasikan isi kepala sutradara (kalau emang ada isinya).

Storyboard artist sangat dibutuhkan untuk adegan-adegan rumit yg membutuhkan persiapan khusus saat suting. Kalau nggak, kru mungkin bingung visi sutradara seperti apa (kalau emang ada visinya).

Syarat untuk jadi storyboard artist, selain harus bisa gambar (helloooh), juga harus tau prinsip dasar ukuran shot dan gerakan kamera.

9. Line Producer (LP)

Profesi yg nyarinya paling susah di perfilman Indonesia ya ini salah satunya. Line Produser (LP) bertanggung jawab seperti manajer dari sebuah produksi. Setelah baca skenario, dia akan membuat budgeting. Berapa milyar yg dibutuhkan untuk bikin sebuah film. Aku tak sanggup.

LP juga bertanggung jawab dari hari ke hari memastikan film bisa suting, uangnya ada, logistiknya ada, nggak over-budget. Biasanya dibantu tugasnya oleh Unit Production Manager (kadang orangnya dia juga), dan Production Assistant (PA). Walaupun kedengerannya repot, akan jadi kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagi Line Producer kalau suting berjalan lancar, on budget (atau lebih kecil dari budget). Bisa minta bayaran mahal juga. Kadang-kadang kalo udah jago banget. LP membawahi banyak personel untuk produksi, termasuk Location Manager, Ibu Catering, dan Kepala Supir.

10. Production Assistant (PA)

Pintu masuk paling accessible untuk bekerja di perfilman. Di Indonesia,  Production Assistant (PA) biasanya membantu Line Producer dalam mengerjakan tugasnya. Jadi bisa belajar manajemen suting, sekaligus memperhatikan departemen lain bekerja.

11. Editor (Penyunting Gambar)

Kalau di FFI dibacain nominasi editor terbaik nama yang muncul dia-dia juga, itu karena memang editor masih sangat kurang untuk 130 film Indonesia yang rilis tiap tahunnya. Padahal, profesi ini juga sangat krusial untuk sebuah film.

Editor adalah pelaku storytelling setelah suting berakhir. Editor menyusun adegan-adegan yang telah disyut menjadi satu kesatuan penceritaan yang lancar dan menarik ditonton. Harus menguasai teknik editing termasuk software editing. Juga harus punya estetika tinggi.

sutradara


Tugas editor semakin berat kalau sutradaranya tidak punya visi. Sutradara seperti ini syuting adegan sebanyak-banyaknya karena khawatir nantinya tidak bisa diedit. Pas suting bikin repot, pas editing bikin repot. Jadwal pun panjang, bujet juga mubazir.

Editor adalah seniman sekaligus teknisi. Dia bisa bikin yang sudah bagus disuting menjadi lebih baik, atau jadi busuk. Masih sangat banyak dibutuhkan editor yang bagus di Indonesia. Editor yang sering bekerja dengan saya (Joko Anwar-red) adalah @cuunk_arif


12. Penata Busana. 

Seperti halnya dengan Make-up artist, penata kostum memperkuat karakter yang diperankan oleh seorang pemain film dengan pakaian yang dia sediakan.

Jadi bukan sekedar yg terlihat bagus dipakai aktor/aktris. Busana bisa didesain dan dijahit khusus atau dibeli jadi. Citarasa estetika yang tinggi wajib dimiliki penata busana. Juga masih banyak dibutuhkan di perfilman Indonesia.

13. Director of Photography (DP). 

Profesi yang sangat-sangat teknikal di perfilman tapi juga merupakan seni tersendiri. Dijuluki 'pelukis dengan cahaya'', seorang DP mewujudkan visi sutradara dan mengembangkan sesuai skill dan citarasa estetikanya.

Ilmu sinematografi sangat luas meliputi pengetahuan mendalam tentang kamera, pencahayaan, dan terus menerus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi sehingga seorang DP harus terus menerus belajar menguasai teknologi terbaru. Selain sangat teknikal, seorang DP juga harus memiliki estetika yg tinggi karena harus bisa menerjemahkan emosi di tiap adegan yang dituntut skenario.

Berbeda dengan sutradara yang bisa pura-pura sanggup bekerja, seorang DP nggak bisa. Harus benar-benar jago. Ada orang yang bisa mendadak jadi sutradara, tapi tidak ada orang yang mendadak jadi DP. Begitu kira-kira gambarannya.

Umumnya, DP belajar di sekolah film, lalu memulai karir dari bawah sebelum jadi DP-DP hebat seperti (yg sering kerjasama dgn saya, dalam urutan alfabet) @gunnarnimpuno (Modus Anomali), @ical_tanjung (Pengabdi Setan), @dhenmasipung (Pintu Terlarang), @yunusdop (Marlina), dll.

Departemen sinematografi juga biasanya menerima pekerja magang (banyak yg juga sekolah film), seperti sebagai clapper. Ini aja susah. Bikin film memang sangat sulit karena membutuhkan keahlian teknikal dan seni yg tinggi.  Padahal terlihat gampang, ya? Hehe. Dulu saya sebelum bikin film juga gitu. Pas kerja di film, kaget. Sampai sekarang, tidak jadi lebih gampang. Makin banyak tau, makin sadar ilmu cetek.


14. Sound Recordist 

Sound recordist merekam suara saat suting, baik dialog, maupun ambience. Dibutuhkan penguasaan teknis merekam suara dlm banyak situasi,  microphone seperti apa yang digunakan tiap adegan dan sebagainya. Biasanya dibantu pemegang microphone (boomer).

Sound recordist harus tanggap merekam suara dalam situasi apapun. Kalau sound recordist nggak pintar, dialog mungkin tidak terekam sehingga harus diisi oleh aktornya di dalam studio setelah suting. Proses ini dinamakan ADR (Automated Dialog Replacement).

Saya sangat menghindari dan tidak menyukai ADR karena selain memakan waktu, juga tidak akan bisa menyamai kenaturalan suara dialog yang direkam saat suting. A Copy of My Mind sama sekali tidak ada ADR. Pengabdi Setan hanya satu dua kalimat karena banyak suara asing yang mengganggu.

Pekerjaan sound recordist sering dinomorduakan saat suting. Contohnya tidak diberikan waktu persiapan yg cukup tiap pengambilan adegan, tidak dipenuhi requirement-nya. Padahal sound sangat krusial dalam suting film.


15. Sound Designer

Sound designer menciptakan dunia (universe) sebuah film dengan semua yg kita dengar saat nonton film. Suara di film, antara lain, ada dialog, ambience (kyk suara jangkrik dan angin malam, suara tempat kumuh, etc), foley (suara langkah kaki, pintu dibuka, dan lain sebagainya. 

Sound effects (suara ledakan, suara alien, suara tsunami, etc), semuanya itu didesain oleh desainer.
Tiap-tiap bagian sound di atas dipegang oleh departemen-departemen yg berbeda. Proses desain sound ini bisa lebih panjang dari suting filmnya.

Sound design adalah pekerjaan yang juga membutuhkan penguasaan teknik yg tinggi, tapi juga harus memiliki estetika yang tinggi. Jadi bukan asal kenceng sampe penonton kupingnya berdarah. Karena sound design juga adalah storytelling. Kalo ada yg cerita sambil teriak terus kezel kan?

Sound designer membawahi banyak personel, termasuk sound engineer, foley artist, sound editor, dialog editor, dan lain-lain. Sound designer yang selalu mendesain semua film saya setelah Janji Joni adalah @kkbellamy


16. Music Director

Bertugas menciptakan music, termasuk music score (musik ilustrasi) dan lagu-lagu yg akan dimasukkan ke dalam film. Music scoring untuk film adalah disiplin ilmu tersendiri. Tidak semua pemusik bisa mengerjakan musik untuk film.

Pembuatan musik score adalah seni tersendiri. Bukan harus ada musik setiap adegan seperti kebanyakan film Indonesia. Musik ilustrasi yang bagus menyatu dengan adegan. Bukan caper mau diperhatikan sendiri. Capek juga jo. Kayak pacar yang ngecek terus dan minta diperhatiin.

Music Directors yang pernah dan sering bekerja di film saya adalah Aghi Narottama, @BembyGusti, @tony_brndls, @ZekeKhaseli, dan @mondogascaro

Berbagai profesi yang saya sebutkan di atas juga membawahi banyak personel. Misalnya, tau nggak bahwa ada profesi khusus untuk buat. permukaan dinding, bangunan, dan sebagainya yg disebut scenic artist? Bekerja di bawah Production Designer.

Semua kru dalam pembuatan film seperti pemusik yang masing-masing memegang instrumen dalam sebuah orkestra. Mainnya harus harmonis, harus bagus. Kalau ada satu nggak bagus akan merusak semua. Siapa yg bertanggung jawab untuk semua itu?
Jawabannya adalah:


17. Sutradara. 

Kalau sutradara belum berpikir dan bekerja lebih berat dari siapapun dalam sebuah produksi film, bisa dicurigai dia belum mengerjakan tugasnya sebagai sutradara. Sutradara adalah pencipta visi dari sebuah film bahkan jauh sebelum suting dimulai.

Secara singkat dan sangat disederhanakan, inilah flow kerja seorang sutradara: Setelah menerima dan membaca skenario berkali-kali, sutradara akan membangun sebuah dunia di kepalanya, lengkap dengan detil visual, karakter-karakter dan bagaimana mereka berperilaku.

Di kepalanya, sutradara harus sudah bisa melihat warna dunia film yang akan dibuatnya, bagaimana suara di dunia itu, bahkan bagaimana baunya. Sebelum suting, sutradara harus sudah bisa membayangkan film dari awal sampai akhir. Semua ini dikenal dengan 'visi sutradara.'

Visi/gambaran film di kepalanya ini, dikomunikasikan pada tahap pra-produksi ke produser dan semua kru, Director of Photography, Production Designer, Costume Designer, Sound Design, Music Directors, Make-up, etc. Presentasi sutradara untuk ini biasa disebut 'director's treatment'.

Fungsi dari 'director's treatment' adalah supaya semua kru yang terlibat dalam suting paham benar apa yang ingin diwujudkan dalam produksi film tersebut. Supaya ada kesamaan visi. Untuk tahap ini, sutradara bisa menggunakan foto, lukisan, sketsa, suara untuk buat orang paham visinya.

Apa saja yang termasuk "storytelling" dalam sebuah film?
Jawabannya adalah: semua yang ada di frame. Di tiap 1 frame film ada ukuran lensa, pencahayaan, warna properti, bentuk properti, dialog aktor, gerakan aktor di dalam frame, dsb, semua itu adalah storytelling.  Semuanya harus bisa dipertanggungjawabkan oleh sutradara. 24 frame disatukan menjadi 1 detik film. Dalam satu menit ada 1.140 frame. Dalam 90 menit film ada 129.600 frame. Semuanya harus bisa dipertanggungjawabkan oleh sutradara.

Selain dialog pemain, pemilihan warna dan bentuk set, gerakan kamera, memberikan efek yang berbeda-beda ke emosi penonton, termasuk di bawah sadar. Semua hal yang ada dalam visi seorang sutradara, adalah alat bantunya untuk menyampaikan sesuatu, memberikan rasa kepada penonton.
Film adalah cara seorang sutradara untuk bercerita, jadi pilihan treatment seharusnya bukan semata untuk terlihat keren, pintar, atau gaya.

Tentunya untuk menyampaikan visinya kepada seluruh kru, sutradara harus menguasai, paling tidak ilmu dan teknis dasar setiap departemen. Supaya tahu komunikasinya nyambung dan krunya konfiden pada kemampuan sutradara.

Sebuah produksi film di mana kru-nya tidak konfiden atas kemampuan sutradara akan menjadi proses mirip mimpi buruk untuk semuanya. Seperti naik bus tanpa supir. Sutradara adalah kapten. Kalau sutradara clueless, tidak akan dapat respek dari kru.

Semua keputusan sutradara harus berdasarkan alasan yang kuat, baik teknis maupun estetika. Percayalah, semua kru akan bertanya alasan sutradara ketika menyampaikan visinya. Kecuali kru-nya clueless jugak lol.

Di masa pra-produksi ini, sutradara mengawasi kemajuan persiapan semua departemen sesuai dengan arahan yg telah dia berikan.  DP mungkin akan bertanya, kita butuh dolly track nggak? Butuh lensa spesial nggak? Steady-cam? dan lain sebagainya.

Sutradara harus bisa jawab dgn alasan yg kuat.

Art Director akan mempresentasikan bentuk set, warna dinding, bentuk properti, dan sebagainya.
Penata busana juga demikian, dan departemen-departemen lain. Sutradara akan memberikan pilihan dengan alasan yg kuat untuk bercerita.

Di masa pra-produksi ini sutradara juga memilih pemain dibantu Casting Director, setelah terpilih lalu melakukan rehearsal bersama para pemain. Menjelaskan karakter mereka dan melatih dialog. Juga sambil bikin storyboard bersama Storyboard Artist. Dan berbagai persiapan lain.

Line Producer mungkin akan bertanya ke arah mana saja shot yang nanti akan diambil, karena mereka butuh tempat yang tidak disyut kamera untuk tempat katering, misalnya. Produser juga mungkin meminta sutradara mencari alternatif treatment karena bujetnya nggak masuk, dsb.
Fun nggak?

Dan itu semua, masih dalam tahap pra-produksi yang biasanya memakan waktu paling sedikit 10 minggu untuk film yang tidak membutuhkan persiapan khusus seperti film action dan sebagainya.

Tiba masa suting. Setiap harinya sutradara harus tiba LEBIH DAHULU dari kru dan pemain.
Karena sutradara harus merasakan di dalam set, mematangkan visi, dan membuat PLAN untuk suting tiap adegan. Berapa shot yg dibutuhkan, bagaimana gerakan aktor, penempatan & gerakan kamera, dan lain sebagainya.

Iyesss semua ini yang memikirkan harus sutradara karena ini adalah tugasnya. Ada nggak sutradara yang nggak melakukan ini. Ya ada. Tapi ketika orang lain yang melakukan tugas dan kewajibannya, apakah masih punya hati nurani menyebut diri sutradara?

Disaksikan DP, Art Director, Sound Recordist, dan Assistant Director, sutradara akan melakukan 'blocking' atau penempatan aktor dalam sebuah shot. (Iyes ini juga tugas sutradara. Bukan astrada atau pula DP. Kasian mereka tugasnya udah banyak).

Sutradara juga menjelaskan apa yg ingin dicapai di shot tersebut. Emosi apa yang ingin disampaikan ke penonton. Setelah itu, DP, Art Director, sound recordist akan mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk shot tersebut. DP menata cahaya dan mempersiapkan kamera dan alat, dan lain sebagainya.

Di saat yang sama, art director nyiapin set dan prop. Penata busana dan Make-up Artist mempersiapkan pemain. Sound recordist memasang microphone. Setelah set siap, para aktor kembali dibawa ke dalam set untuk rehearsal. Setelah itu dilakukan penyempurnaan set kalau ada yang kurang.

Baru setelah itu, shot bisa dilakukan. Satu shot sederhana bisa memakan waktu 1,5 jam. Jika satu scene (adegan) butuhkan 3 shot, berarti butuh 4,5 jam untuk satu scene. Jika sehari ada 4 scene aja, itu udah 18 jam.

Dijamin kalau benar-benar bekerja sebagai sutradara, nggak ada waktu lagi ketika suting untuk santai mikir yang lain.Rekor saya selama suting adalah 32 scene dalam sehari untuk film A Copy of My Mind. Sedangkan untuk Pengabdi Setan ada 23 scene.

Sutradara juga harus jadi problem solver yang paling bisa diandalkan jika terjadi kendala ketika suting. Misalnya tiba-tiba suting yang seharusnya di lapangan bola nggak bisa dipakai karena hujan dan sebagainya. Harus bisa bikin adegan pengganti yang lebih baik.

1 comment:

  1. Terlihat seperti ringan jika di gambarkan dalam keterangan diatas, tapi juga tanggung jawab talco untuk bisa memenuhi kebutuhan aktor kadang menjadi boomerang jika tidak di suport oleh bagian lain, apalagi jika ketemu diva, puyeng kepalaaa .... Salam budaya,
    .
    Ucup Gema

    ReplyDelete

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.