Latest News

Lima Narasi Besar Stage of Hopelessness di Biennale Jogja XIV


Biennale Jogja VIX Stage of Hopelessness

Narayatrip.com-Saya sudah mengunjungi pameran besar yang digelar oleh Biennale Jogja VIX bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta di Jogja National Museum tahun 2017 ini.


Ada banyak asumsi yang saya bawa sebelum saya memasuki pintu masuk, sebelum datang saya sudah melihat postingan foto-foto karya Seniman yang dipamerkan di Biennale Jogja XIV via Instagram, tentunya saya jadi penasaran dan punya penilaian atas karya-karya yang tampil.

Akan tetapi, sebelum memasuki pintu masuk, saya tidak teringat lagi pendapat saya tentang karya-karya yang sudah saya lihat lewat postingan tersebut. Dalam pikiran saya, melihat langsung tentu akan memberikan impact yang berbeda.

Biennale Jogja VIX

Apa yang akan saya dapat hari ini?

Pertama, Ketika memasuki pintu masuk Jogja National Museum, saya sudah melihat pemandangan huruf-huruf yang tersusun acak, terkesan tidak ditata. Ada kalimat-kalimat yang bisa dibaca, dan ketika saya melihat lebih luas, sungguh karya itu terlihat kacau. Susunan setiap kalimatnya bisa bertabrakan dengan kalimat lainnya, satu kata bisa saja dihubungkan dengan kata-kata yang lainnya. Mirip iklan yang berseliweran di jalanan.

Sungguh crowded, tidak terasa keteraturan di dalam karya itu, ketika saya baca pelan-pelan satu per satu kalimat yang tertulis, saya menyadari seperti itulah lingkungan kita, setiap orang berusaha untuk mengekspresikan dirinya, lewat kata-kata, dan naasnya kebanyakan hanya lewat kata-kata.

Tidak hanya mengekspresikan perasaan tapi juga menggunakan kata-kata untuk berjualan, mereka beriklan dengan kata-kata. Mereka menawarkan bantuan dengan kata-kata. Lingkungan kita seperti itu, iklan penuh dengan kata-kata, janji-janji yang berlebihan, seolah-olah rasional tapi mengandung keputusasaan.

Biennale Jogja XIV

Ada iklan jasa pembuatan skripsi, sedot wc, dan lain-lain. iklan-iklan yang jelas tujuannya untuk orang-orang malas. Saya curiga, iklan-iklan itu laku, banyak orang membutuhkannnya maka iklan juga semakin banyak disebar, atinya jika hal-hal seperti jasa pembuatan skripsi laku maka ada banyak generasi muda yang malas membuat skripsinya sendiri.

Bagi saya, semua yang tertulis dalam karya itu sangat mengganggu secara visual dan membuat gelisah secara psikologis.

Hiruk Pikuk Dunia yang Bingung Mencari Harapan

Kedua, saya melihat karya-karya dalam biennale kali ini benar-benar menunjukkan kondisi yang hopeless, tidak hanya soal crowdednya iklan kata-kata yang tidak hanya mengganggu secara visual, tapi juga lewat suara dan dampaknya memperlihatkan batin yang lelah sampai akhirnya bunuh diri, seperti yang diceritakan dalam karya yang mengambil ide utama Pulung Gantung di Gunung Kidul.

Kisah Pulung Gantung sudah terdengar sejak lama, masyarakat sudah mafhum bahwa membicarakan Pulung Gantung berarti membicarakan fenomena bunuh diri, orang-orang yang memilih bunuh diri daripada berusaha untuk melalui hidupnya, atau yang tak terbayangkan ialah mereka sudah malas untuk berjuang dalam hidupnya karena tidak ada harapan bahwa hidupnya masih bisa berguna bagi orang lain.

Biennale Jogja VIX

Ketiga, Rasa putus asa itu terkesan kuat dalam hampir setiap karya, ada yang dilatabelakangi oleh hiruk pikuk dunia kerja. Saya bisa merasakan hiruk pikuk kota, dengan suara bisingnya, motor dan mobil sama-sama menggunakan jalan, beberapa diantara mereka menuju lokasi yang sama, entah untuk bekerja atau untuk belanja, menemui teman, rapat, dan banyak hal lainnya yang tak bisa diungkapkan dengan sederhana begitu melihat hiruk pikuk kota.

Semua kebisingan itu terekam dalam karya-karya yang menyajikan televisi dengan suara bising, warna-warna yang disharmonis dan ada juga yang harmonis. Satu pernyataan yang memberi saya harapan, bahwa semua hal memiliki warna dan setiap warna, satu sama lain memiliki peranannya untuk membuat dunia ini lebih berarti.

Keempat, Ah, tiba-tiba saya menyetop diri saya untuk jadi puitis, karena rasanya tidak bisa seperti itu terus menerus, ketika tiba-tiba hati tersentak dengan karya yang mempertanyakan di mana generasi muda saat ini di saat ada begitu banyak arsip, arsitektural, dan budaya dalam sejarah yang masih harus dipelajari, masih harus digali, dan sebaiknya juga tidak dilupakan.

Generasi yang buta sejarah menurut saya mengerikan, bukan berarti saya mengerti sejarah, justru karena saya juga menjadi bagian generasi yang tidak mengerti sejarah, saya merasa sangat mengerikan ketika saya tidak tahu apa-apa tapi ternyata saya memiliki tanggung jawab besar sebagai generasi itu.

Biennale Jogja VIX

Pintu Keluar, di Mana Harapan Berada

Kelima, akhirnya saya berada di pintu keluar, ini mengingatkan saya pada mimpi saya. Di dalam mimpi saya selalu ada pintu. Di sana, pintu itu tidak akan terbuka jika saya sendiri tidak membukanya. Mimpi melihat pintu di dalam sebuah ruangan selalu muncul, hampir setiap malam di dalam tidur saya, mimpi seperti ini datang, dan ketika saya keluar dari pintu pameran Biennale kali ini, saya merasakan hal yang sama.

Semua ini tidak akan berubah, tanpa ada yang membua pintu harapan itu. Selama tidak ada yang membawa ke arah baru, hal-hal noise ini akan semakin noise dan semakin tidak akan ada harapan untuk ekspresi di masa depan. Saya takut, di masa depan akan terjadi keseragaman yang mengerikan, di mana-mana orang-orang menyukai hal-hal noise lalu lupa tugas yang sebenarnya sebagai manusia. 

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.