Latest News

Bekerja Keras dan Tidak Bekerja Keras, Sebuah Pertanyaan?


Pameran Dongeng Tanah


Narayatrip.com-Seberapa banyak kita sudah bekerja keras untuk menghidupi diri kita sendiri?
Seberapa banyak kita sudah bekerja keras untuk berkarya, mengangkat kearifan lokal kita
sendiri kepada dunia agar mereka mengerti dan tak mudah untuk berusaha mengubah kita?


Sudah seberapa banyakkah kita bekerja keras untuk mempertahankan diri dengan apa yang kita punya, lalu mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih berharga, hingga tak hanya kita yang merasa sesuatu itu berharga tetapi orang lain juga bisa merasakannya?

Seberapa banyak kita bekerja keras mencintai pekerjaan kita?

Bekerja keras dan tidak bekerja keras apakah sebuah pertanyaan. Seberapa sadar kita arti kerja keras untuk mempertahankan dan mengembangkan sesuatu yang sudah kita miliki? Bukankah bekerja keras bukan hanya soal bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi juga bagaimana kita memanfaatkan material baik itu berupa uang, tanah, rumah, pakaian, tanaman, dan lain sebagainya untuk kesejahteraan kita hari ini dan masa depan?

Pameran Dongeng Tanah

Kita kehilangan banyak, lahan, rumah, dan penghidupan, mungkin karena kita memang sudah jadi pemalas selama ini. Kita tidak cukup menghargai lahan, rumah, dan penghidupan yang kita miliki akhirnya kita jauh dari kearifan lokal kita sendiri dan karena kita tidak cukup menghargainya, kita jadi mudah dijauhkan.

Kita kehilangan nilai-nilai tradisional yang menyelamatkan cita rasa gotong royong, kita kehilangan rasa membajak sawah yang memiliki kemungkinan bisa menyelamatkan kita dari bencana alam.

Kita kehilangan kepercayaan diri kita sejak kita tak pernah lagi bekerja keras untuk memahami semesta alam. Apa yang kita punya seolah bukan bagian dari kita, akhinya sesuatu yang asing itu bisa dengan mudah masuk, merasuki pemikiran kita sendiri-sendiri. Berkat kurang percaya diri dengan kerja keras yang selama ini kita punya, akhirnya kita menyerah pada kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, seolah abakadabra, like magic, semua itu bisa mengubah hidup menjadi lebih mulia.

Bekerja keras dan tidak bekerja keras, apakah sebuah pertanyaan? tidak, keduanya sebuah tindakan yang memiliki dampak besar kala dilakukan. Terlebih jika dilakukan secara konsisten, bekerja keras akan membuat kita tahu bagaimana cara mencintai lokalitas kita, tahu bagaimana cara mempercantik, sampai bertahan dan bisa bersaing dengan dunia.

Kentongan, Dongeng Tanah

Tidak bekerja keras, akan membuat kita lebih mudah memiliki banyak hal, tinggal membiarkan segala sesautu yang masuk ke lingkungan kita tumbuh sesuai kemauan mereka. Kita tidak perlu risau, kita tidak perlu mengetuk kentongan seperti dulu jika ada maling yang mengambil harta benda kita, kentongan akan berbunyi nyaring dan membuat semua orang yang tinggal selingkungan dengan kita berlarian, bekerja sama menangkap sang pencuri.

Bekerja keras dan bergotong royong mencari pencuri pun membuahkan hasil dapat mempertahankan harta yang dimiliki. Sementara si maling juga tertangkap, dapat diberi keadilan, dan bekerja keras dengan keadilan membuat si maling berpikir ulang untuk melakukan aksinya lagi.

Sekarang, bekerja keras atau tidak bekerja keras kah kita untuk melindungi apa yang kita punya?

Pameran bertajuk "Dongeng Tanah" yang memamerkan karya-karya dari Seniman Muda Yogya, antara lain: Cibele Poggiali Arabe, SURVIVE! Garage, Sisir Tanah berkolaborasi dengan warga Sosrokusuman, Yogyakarta dan Masyarakat Adat Sungai Utik, Kalimantan Barat berlangsung di Komplek Jogja National Museum, tanggal 2 November-10 Desember 2017 itu membuat saya mengingat semua itu.

Perjalanan melihat satu per satu karya yang dipamerkan, membuat saya berpetualang pada kearifan lokal orang-orang yang dekat dengan tanah, sebagai petani, peladang, atau pun sebagai peternak.
Ketika melihat kentongan yang digantung lengkap dengan alat pemukulnya, lalu melihat dokumentasi perubahan lingkungan karena modernisasi membuat saya berpikir keras, seandainya modernisasi tidak menawarkan proses instan, mungkinkah tidak ada perubahan di lingkungan saya kini?

Modernisasi bukan hal yang buruk, tapi entah kenapa saat ini terasa buruk karena berseberangan dengan cita-citanya yang ingin menyejahterakan masyarakatnya dengan memberikan kemudahan-kemudahan di lingkup penggunaan teknologi, baik pertanian, peternakan, dan pengelolaan lahan.

Modernisasi juga bentuk bekerja keras yang bercita-cita pada kemanusiaan, namun rupanya ada yang salah dalam mengaplikasikannya, ataukah memang sudah salah sejak awal?

Dari pameran ini membuat saya mengerti, bekerja keras untuk kemajuan di era modernisasi hanya dengan cangkul dan arit, memang tak cukup. Modernisasi menginginkan keduanya berdampingan
dengan teknologi lainnya, namun di manakah letak kesalahannya? Mengapa ladang, peternakan, pertanian malah tersingkir, jika modernisasi juga bicara soal mereka?

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.