Latest News

Forum Hebat, Musikologi Yogyakarta

Musikologi yogya

Narayatrip.com-Ini perjalanan saya, ketika travelling bukan hanya tentang mengunjungi sebuah tempat, tetapi juga belajar di dalam sebuah forum untuk memperoleh ilmu baru, untuk mengumpulkan informasi, untuk mendapatkan data, dan juga untuk memperoleh kawan baru.


Ini perjalanan saya, dalam sebuah forum hebat yang diprakarsai oleh pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), saya menemukan travelling bukan lagi soal mengagumi keindahan sebuah tempat wisata, tetapi juga keindahan untuk bisa merasakan dunia yang tidak kita geluti, seperti music.

Forum itu bertajuk Musikologi: sebuah forum yang berisikan sosialisasi pentingnya indsutri music dan bagaimana cara agar musik tidak hanya menjadi hobi tapi juga bisa mendatangkan penghasilan ekonomi.

Musikologi Yogya

Di dalam forum ini, peserta mendapatkan materi dari orang-orang yang sudah expert di bidang musik. Para panelist forum musikologi Yogyakarta antara lain: Alex Handdy Marketing Manager Warner Musik Indonesia, Dipha Barus DJ&Producer, Pon Your Tone, Firman Hidayat Artis Management Kahitna&Yovie NUno, Iqbal Siregar A&R E-Motion Entertainmet, Rini Wulandari Artis Soundwave, Irfan Aulia Irsal Publisher Universal Music Indonesia.

Masing-masing panelis memberikan materi yang cukup berbobot. Dipha Barus mengatakan untuk memproduseri sebuah produk music, ia mempertimbangkan kelayakannya untuk didengarkan oleh khalayak luas. Soal genre tidak terlalu dipermasalahkannya, yang terpenting ialah target pembuatannya. Bila music tersebut bertujuan komersil tentu harus memenuhi kebutuhan komersil supaya laku, namun jika tujuannya lain di luar itu, pada umumnya berpijak pada kepuasan sang pembuat musik.

Sedangkan Rini Wulandari, jebolan Indonesian Idol yang kini mantab berkiprah secara independent di music ini memapakarkan yang terpenting bila ingin terjun di industri music ialah kemantapan diri dalam pola pikir, branding diri sendiri sebaik mungkin, tidak perlu sesuai dengan selera pasar, tapi tunjukkan musikmu yang benar-benar sesuai dengan karakteristik kamu.

musikologi yogya

Terkadang idealis memang sering harus berbenturan dengan selera pasar. Terkait hal ini, Dwiki Dharmawan, ketua Yayasan Akademi Musik Indonesia (AMI) mengatakan, pemusik pun harus bisa berdiri dengan dua kaki, maksudnya kaki kiri untuk idealis, kaki kanan untuk komersil, karena hidup butuh biaya. Tanpa uang, kita juga tidak bisa membuat music idealis. Namun, ia meyakinkan bahwa kita tidak perlu melepas mimpi-mimpi idealis kita, kita tetap harus tekuni apa yang jadi favorit kita, karakteristik kita, kelak hal itu akan membawa keuntungan besar.

Bagaimanapun kita tetap harus ramah dengan selera pasar, seperti yang diungkap oleh Iqbal Siregar, seorang A&R E-Motion Entertainment yang kerjanya menyeleksi demo music ini mengaku memilih lagu yang sesuai dengan selera pasar sebab akan merugikan tim produksi jika music yang dijual tidak laku di pasaran.

Sekali lagi, soal idealism bermusik, disinggung oleh Irfan Aulia Irsal Publisher Universal Musik Indonesia, ia mengatakan jika ingin idelisme bermusik kita hidup, maka kita sendiri harus menciptakan lagu sendiri. Ia membongkar rahasia bahwa, setiap lagu yang diciptakan memiliki hak cipta yang kelak jika itu dinyanyikan oleh seorang penyanyi, pencipta lagu pun akan mendapatkan royalti.

Pada dasarnya, para panelist menekankan untuk tidak berhenti berkarya di mana pun jalur yang kita tempuh. Semuanya memiliki resiko, dan tentu saja susah untuk mencapai popularitas, apalagi popularitas yang berbobot, butuh waktu dan kesabaran.

Usai forum Musikologi Yogyakarta, banyak peserta meminta acara yang sama digelar kembali. Mereka merasakan manfaat positif dari ilmu pengetahuan yang dibagikan para panelist, khususnya di kelas masing-masing. Khusus kelas Vokal, karena saya berada si sana, sehingga saya bisa bercerita lebih detail, di kelas vocal, peserta diajari cara meningkatkan power dalam bernyanyi, cara untuk mengambil nafas, mengatur nafas, dan juga cara untuk menguasai nada.

Coach klinik vocal ialah dua orang berasal dari Elfa’s Singer, Victor dan Tias. Keduanya mengungkap bahwa sudah lama menjadi coach vocal, salah satu penyanyi yang diajarinya menguasai nafas, nada, dan power ialah Agnes Monica yang kini sudah menjelma menjadi Agnes Mo.

Mendengar sepak terjang coach yang tidak main-main, semangat peserta pun meningkat. Mereka sangat antusias untuk menerima ilmu yang diberikan oleh coach sampai akhir.


Sebagai penutup catatan, kegiatan coaching klinik seperti ini sangat penting untuk dilanjutkan, untuk membagi informasi terkait perkembangan music Indonesia. Di samping itu, bisa menjadi forum jembatan pertemuan antara pemula dengan para senior yang sudah expert untuk berbagi pengalaman, sampai akhirnya nanti akan ada dua hingga tiga orang yang menjadi legend music selanjutnya. 

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.