Latest News

Bukit Klumprit, Spot Golden Sunset dari Prambanan

Bukit klumprit credit mutaya

Narayatrip.com-Dari kejauhan, cahaya jingga menggenang di langit, jatuh di pucuk-pucuk daun dan ranting pepohonan. Aku tidak memalingkan wajahku dari langit itu, warna merah mudanya menenangkan. Semetara lembah-lembah di bawah langit terasa akrab, tidak asing seperti kata orang.


Mereka bercerita kalau saat berjalan-jalan ke bukit dan melihat kabut menuruni lembah mereka merasa seperti berada di dimensi lain yang tak terdefinisikan, membuat bulu kuduk merinding. Aku tidak merasakannya, ketika aku menuruni Bukit Klumprit, kawasan Prambanan, Bukit Breksi.

Di atas Jeep, aku merasa akrab dengan lingkungan desa itu. Malahan, aku yakin tak bisa melupakan sensasinya, angin yang berhembus, kabut tipis menuruni lembah di senja hari, langit jingga, dengan semburat biru yang menggemaskan.
Bukit Klumprit credit Mutaya

Aku bersama seorang kawan, sesama blogger yang ikut Famtrip Wisata Yogyakarta menaiki Jeep dalam perjalanan yang disponsori oleh Dinas Pariwisata Yogya. Sebelumnya, kami menunggu golden sunset di Bukit Klumprit. Sayangnya, kami tak memperoleh golden sunset yang diharapkan, meskipun begitu kami mendapatkan ganti petualangan yang menurutku tak terlupakan.

Kesan Pertama dari Bukit Klumprit

Pengalaman ini justru memicu keinginan baru untuk terus bertamasya, traveling ke berbagai tempat, tak harus baru tapi bisa memberikan sensasi baru seperti ketika aku berjalan ke Bukit Klumprit yang terletak di Desa Klumprit, Prambanan, Sleman.

Waktu itu, Kamis, 18 Oktober 2017, aku mengingat, aku berjalan di antara pematang sawah. Aku tak menyangka di ketinggian seperti itu masih ada lahan yang ditanami padi. Tanahnya kering, walau padi yang ditanam nampak hijau, aku merasa tanaman itu berjuang keras untuk memperoleh air untuk hidup.

Bukit Klumprit credit Mutaya

Kuperkirakan, petani di daerah itu juga berjuang untuk memperoleh air, tidak hanya demi kehidupan tanaman, tapi juga untuk dirinya sendiri.

Tempat itu, tidak terlalu tinggi, tidak mencapai 900 mdpl. Aku dan teman-teman Blogger, hanya harus mendaki dan menyusuri beberapa pematang sawah, dan ladang milik petani untuk sampai di puncaknya. Aku bisa melihat beberapa pohon nangka, pisang, singkong, tumbuh di sekitar sana dengan rapi.

Dalam perjalanan, daya tarik Bukit Klumprit terletak pada sensasi perjalanannya. Semoga ini tidak berubah memburuk di masa depan, tapi lebih baik. Sensai menariknya ialah membuat wisatawan harus berjalan kaki terlebih dahulu sebelum sampai ke spot sunset.

Bukit Klumprit credit mutaya


Lintasan Hijau ke Bukit Klumprit

Berjalan kaki akan memberikan sensasi petualangan yang menyenangkan, terlebih lintasan menuju spot sunset itu dihiasi dengan bukit-bukit kecil, ditumbuhi tanaman hijau, sesekali mungkin bisa menyapa warga yang tinggal di dekatnya. Jika ini dipertahankan, aku yakin dinas pariwisata tidak hanya sedang memberikan manfaat ekonomi ke warga lokal, tapi juga edukasi humanisme ke wisatawan yang kelak pasti akan datang dari berbagai wilayah.

Lintasan hijau dan alami itu akan memberikan relaksasi pada wisatawan, dan menuruku inilah nilai lebih destinasi wisata Bukit Klumprit nantinya. Wisatawan akan mendapatkan tawaran baru, tidak hanya pemandangan berupa gunung, lembah, dan senja, tapi juga bisa berinteraksi dengan warga lokal yang tinggal di dekat Bukit Klumprit.

Ketika sampai di puncak Bukit Klumprit, aku langsung tahu bahwa tempat itu memiliki daya tawar menarik. Batu-batu yang tersusun secara alami di sana memperlihatkan struktur menarik seperti bantal, dari strukturnya batu itu seperti terbentuk dari lava yang mengering secara mendadak saat mengalir.
Senja Bukit Klumprit credit mutaya

Struktur Bukit Klumprit

Saat sampai di Bukit Klumprit, waktu sudah masuk ke jam 5 sore. Matahari masih bersinar, tidak terik dan tidak menyengat tubuh. Sinarnya cukup hangat, meskipun begitu aku tetap merasa nyaman untuk duduk tanpa peneduh di Bukit Klumprit.

Seluruh tempat itu terdiri dari batu, hanya sedikit bagian yang terlihat bertanah, ketika melihat sekeliling, ada banyak spot yang bisa dijadikan tempat untuk duduk sambil menunggu senja, menikmati matahari terbenam dan merasakan angin lembah berhembus naik.

Aku sangat menikmati temuanku, yakni sebuah batu yang bisa kujadikan tempat untuk duduk dan tiduran.

Dari tempat aku duduk, aku bisa melihat rumah teletubbies. Ingatkah teman-teman pada gempa Yogya tahun 2006 silam? Pada saat itu, banyak rumah korban gempa yang dibangun ulang, dan pemerintah setempat membangunkan rumah unik seperti rumah teletubbies sebagai rumah perlindungan dan anti gempa. Dari Bukit Klumprit, kita bisa melihatnya dengan jelas. Deretan rumah teletubbies, berwarna-warni, di antara pepohonan, dan jalan yang nampak mengular dari kejauhan.

Golden Sunset yang Enggan Menampakkan Diri

Sore itu kami berkumpul di Bukit Klumprit sampai senja hanya untuk menangkap moment golden sunset. Sayangnya, golden sunset yang kami tunggu enggan untuk menampakkan diri.

Kami mendapatkan senja yang lain. Matahari terbenam yang malu-malu menyusup ke balik awan. Awan mendung yang berarak dari sisi selatan menuju barat, menutupi sebagian besar sinar matahari senja sore itu, memberikan tantangan tersendiri untuk mengabadikan momen sore itu.

Kami menyebar, ke berbagai titik, aku sendiri lebih suka pantulan senja di batang-batang pohon. Warna emasnya memantul di batang pohon, berkilau sampai ke daun-daunnya.


Kelak, tempat ini akan ramai oleh-oleh orang-orang yang berburu senja, pre wedding romatis, photobook dengan konsep petualangan, dan lain sebagainya. Kenapa? Karena tempat ini cocok untuk berbagai macam konsep, bahkan untuk kamu yang suka membuat film.  

1 comment:

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.