Latest News

Memahami Relasi Kuasa Pakaian dan Pemakainya dari Seni Kontemporer




Narayatrip.com-Seni yang saya ketahui adalah aktifitas untuk membangkitkan perasaan dengan sesuatu yang pernah dialami melalui perantaraan gerak, garis, warna, suara, maupun bentuk kata. Setelah itu, perasaan yang terbentuk ulang ke dalam suatu bentuk diteruskan kepada khalayak agar dapat dirasakan, dengan atau tanpa tujuan pasti.

Seniman juga tak harus mengkritisi kondisi lingkungan sosial budaya tempat tinggalnya. Seniman bisa saja hanya menyampaikan uneg-unegnya, impiannya, dan perasaan-perasaan batinnya tanpa ada usaha untuk menghakimi, memberi penilaian baik buruk terhadap lingkungan sosial maupun budayanya. 

Seni, dengan mediumnya masing-masing sering memberi dampak sekalipun itu hanya secara visual. Orang-orang akan bertanya, setelah mendapatkan jawaban, adalah urusan pribadi masing-masing untuk setuju atau tidak dengan apa yang dirasakan oleh seniman. Orang-orang bebas menginterpretasi dan seniman tidak akan mengintervensi pendapat-pendapat penikmat seni. 

Ketika saya berkunjung ke ARTJOG 10 di Jogja Nasional Museum (JNM) Sabtu, (03/06/2017) saya melihat sebuah karya patung berjudul Fashion as a Weapon, karya Hendra “Blankon” Priyadhani. Catatan kuratorialnya mengatakan mode, musik, dan gaya hidup adalah alat pandang saya (seniman) terhadap dunia serta segala fenomena yang terjadi. 

Melaluinya kemudian saya melakukan interpretasi unsur dalam mode, seperti busana yang didukung dengan banyak unsur lainnya seperti make up, tatanan rambut, sepatu, dan sebagainya. Saya meyakini bahwa busana merupakan media pembawa pesan kepada publik. 

Busana menjadi pengingat akan banyak hal yang melekat pada seseorang. Di samping itu, karakter busana yang kuat mampu menjadi menonjolkan tokoh pemakainya yang kemudian menjadi inspirasi public secara luas untuk menirunya. 

Banyak tokoh yang menjadi populer karena gaya berbusananya yang kemudian ditiru oleh khalayak luas. Sebaliknya persona juga merupakan salah satu faktor keberhasilan tren busana itu menjadi populer. 

Dalam filosofi jawa terdapat istilah “ajining saliro soko busono, ajining diri soko lathi” yang artinya harga diri seseorang itu tergantung dari pakaian yang dikenakan dan perkataan yang diucapkan. Dengan demikian pakaian merupakan salah satu media pembawa citra—sehingga busana mampu menjadi “senjata” pemakainya. 

Art-Jog 10

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, seni adalah aktifitas terkait sesuatu yang pernah dialami melalui perantaraan garis, gerak, warna, maupun suara. Interpretasi seniman, dalam hal ini Blankon terhadap mode membuatnya mencitrakan bentuk pemaknaannya terhadap mode menjadi patung.

Patung yang dibuatnya kali itu merupakan sekumpulan wujud yang dihubungkannya dengan alur tertentu dengan penuh perhitungan. Anda, jika berkunjung ke ARTJOG 10, akan menemukan patung berjudul Fashion as a Weapon itu di lantai dua, bangunan sisi timur. 

Terlihat ada kepala seorang perempuan bermahkota disatukan dengan patung kuda, sayap, dan manusia-manusia lain yang berdiri di atas kepala patung kuda itu. penyatuannya tak sampai di sana, lihatlah secara mendetail, Anda akan menemukan potongan tubuh manusia, busur panah, kepala binatang, kaki manusia, singa, banteng, juga ada patung Yesus di dalam komposisi rumit itu. 

Seperti sebuah cerita, memiliki plot yang dimulai dari prolog, patung karya Blangkon itu pun juga memiliki plot. Dibuka dengan kampakan patung wajah seorang perempuan bermahkota yang seolah mewakili ratu dari jaman ke jaman. Seorang ratu tentu saja memegang kendali atas pergerakan politik dalam sebuah negeri, dan politik sudah pasti akan berpengaruh secara luas, memiliki akibat baik maupun buruk. 

Seorang ratu yang berkuasa, selalu memiliki ‘kuda hitam’ seseorang yang menjadi andalannya untuk mengintervensi dunia dengan kemampuan-kemampuan cerdasnya, dalam hal apapun, baik strategi politik, budaya, sampai pada kesenian. 

Meskipun harus melalui perang, sebuah negara akan berjalan sesuai dengan arahan si kepala negara. Plot di dalam patung itu naik turun, bahkan terputus di tengah-tengah, dengan hanya memperlihatkan patung-patung manusia dalam bentuk kecil, berseragam tentara dan menodongkan senjata, di belakang mereka dua insan manusia memadu kasih, lalu pandangan mata kita akan dipaksa pelan-pelan naik mencapai puncak detail bentuk yang seperti klimaks dari sebuah cerita. 

Patung-patung manusia berseragam tentara, sebagai penjaga sebuah konstitusi, ia diberi hak untuk melakukan apa saja atas nama ‘menjaga perdamaian’ namun benarkah demikian? Bila kemudian, kenampakan atau interaksi sosial manusia pada umumnya, di dalam sebuah negara setelah berperang, yang ada hanyalah duka. 

Hal ini diinterpretasikan dengan bentuk badan manusia tanpa wujud utuh, hanya kaki dan badan yang dibuat terpisah. Sementara itu di badannya sendiri tersusun lapisan-lapisan persoalan, mulai dari agama, kedudukan, ekonomi, ketenagakerjaan, industri, dan hal-hal lain seperti konsumerisme yang diwakilkan dalam bentuk binatang, seperti babi dan keledai. 

ARTJOG 10

Keberadaan dua patung, babi dan keledai di ujung plot laksana sebuah simbol yang memperlihatkan setelah berperang, setelah bersitegang dengan segala sesuatu, sudah benarhkah kita membawa diri untuk masa depan? Tidakkah kita makin bodoh dalam membawa citra diri ke masa depan. 

Industri dibicarakan sebagai satu-satunya jalan menuju ekonomi yang maju, namun bentuk tubuh manusia di dalam komposisi patung itu mencitrakan hal sebaliknya. Tubuh itu justru terpotong dan kehilangan jati diri utuhnya. 

Lalu, kenapa musti Fashion as a Weapon yang dijadikan judul? Sebagaimana alasan yang telah dikemukakan oleh seniman, pakaian merupakan simbol dari pergerakan sosial budaya yang terjadi di bawah kekuasaan, siapapun orangnya, individu sebagai individu itu sendiri maupun individu yang mewakili sebuah negara sebagai seorang ratu. 

Individu-individu ini dalam menjalankan misinya mengenakan atributnya masing-masing, dan dari atribut itu, masyarakat luas sudah mampu melihat peranan pentingnya dalam suatu negara, lingkungan budayanya, dan yang paling kecil ialah lingkungan keluarganya. 

Misalnya saja pakaian-pakaian yang dikenakan oleh Lady Diana yang kemudian dipamerkan pada tahun lalu. Meski hanya pakaian, khalayak luas kembali membicarakan kiprah Lady Diana dalam bidang politik, seni, hingga budaya. Bila demikian, bukankah gaya berbusana, pilihan pakaian, secara nyata bisa menjadi wahana memori dari suatu era?

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.