Latest News

Surat Cinta untuk Afi Nihaya Faradisa

Acara talk show kebangsaan di UGM/mutaya

ASIA,YOGYAKARTA-Beberapa hari lalu saya mendapatkan foto famlet acara berjudul talk show kebangsaan.  Di dalam famlet itu terpasang foto seorang anak.  Anak itu berumur kurang lebih 18 tahun, saya pun mencari informasi tentang anak itu di internet.  Rupanya anak itu terkenal berkat unek-unek unik yang ditulis ya melalui status facebook.  Bahkan status anak bernama Afi Nihaya Faradisa tersebut sudah membuat akun facebooknya disuspend selama kurang dari 24 jam oleh pihak Facebook. 


Keterkenalannya bukan tanpa sebab melainkan karena tulisannya dikritisi oleh banyak orang, juga dipuji oleh banyak orang, lalu dipublikasikan oleh media massa mainstream se Indonesia, hingga ia diundang ke seminar sebagai pembicara.  

Salah satunya ialah Universitas Gadjah Mada, mengemas perbincangan Afi dalam acara  bertajuk talk show kebangsaan dan berlangsung hari ini, Senin,  29 Mei 2017 di Ruang Auditorium Dekanat Fisipol UGM, Lantai 4.
Talk show kebangsaan di UGM/mutaya


Saya menghadiri acara itu dengan satu tujuan menemukan tujuan Afi menulis statusnya. Saya ingin tahu apa dasar pemikiran Afi untuk menulis status yang inti isinya merupakan hal yang juga digelisahkan banyak orang.

Acara yang dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya ini dihadiri oleh banyak kalangan, diantaranya akademisi, jurnalis, dan seniman.

Diskusi dimulai dari pertanyaan, kapan Afi mulai aktif di Facebook? 

Afi mengaku telah aktif di akun facebooknya sejak 2012, namun ia baru aktif nulis di awal 2016. Diawali dari menulis artikel pendek, statusnya dikemudian hari yang diberinya judul Warisan menjadi viral di media massa karena mengundang banyak reaksi dari netizen.

"Saya viral baru belakangan ini. Karena saya menulis tulisan yg paling viral yang berjudul warisan.  Tulisan itu adalah satu bentuk keresahan saya terhadap keragaman di Indonesia. Poin utamanya kita harus hidup rukun dengan warisan masing-masing.  Yang bisa kita pilih dan tidak bisa kita pilih. Yang bisa kita pilih adalah agama, keyakinan, setelah lahir maka kita punya hak untuk mengubah itu. Ketika saya melakukan pencarian dan saya menemukan yang paling benar adalah Kristen kemungkinan saya bisa pindah.  Saya pikir lingkungan akan bisa menjadi penyebab kita pindah," ungkap Afi.
Peserta talk show kebangsaan di UGM/mutaya 


Karya tulsinya itu tidak berasal dari omong kosong belaka, Afi mengaku membaca banyak buku, meskipun begitu ia mengatakan standardisasi banyak baca buku itu relatif.  Sehingga ia tidak yakin bahwa yang sudah dibacanya merupakan bekal yang cukup.

Saya setuju dengan keraguan itu, sebanyak apapun kita membaca, tak ada yang tahu pasti bahwa kita sudah lebih cerdas dari hari kemarin. Saya sendiri justru merasakan hal sebaliknya, setelah membaca saya merasa saya bukan apa-apa di alam semesta ini. 

Ada banyak misteri yang belum saya ketahui, sehingga saya merasa tidak boleh berprasangka. Lebih baik saya belajar memahami terlebih dahulu, kemudian hidup sebagai manusia dengan bekal yang dimiliki dan terus mengupgrade informasi yang telah saya miliki, untuk memastikan bahwa yang akan saya lakukan tidak menimbulkan hal-hal buruk.

Interpretasi manusia terhadap suatu bacaan itu beragam. Hal itulah yang mendasari tindakan saya untuk berhati-hati dalam berpendapat terutama jika menyangkut keyakinan dan kepercayaan.

Saya merasa harus tahu terlebih dahulu sejarah dari tiap-tiap kelahiran termasuk kelahiran sebuah keyakinan. Dan hari ini, saya ingin tahu alasan kelahiran karya tulis Afi, hingga membuatnya menjadi bahan bullying melalui akunnya. 

Dari pemaparan Afi di atas selama diskusi ini berlangsung, saya menemukan jawaban alasan itu. Afi sesungguhnya punya niat baik atas persoalan kebangsaan kita saat ini,  yang sedang dirundung masalah menyatukan kasih sayang dalam keberagaman.

Dalam pandangan pribadi saya sendiri keberagaman yang merupakan kekayaan ini bisa jadi bumerang untuk kehancuran bumi Indonesia tercinta. Bagaimana hal itu terjadi? Simplenya bila orang-orang lupa tujuan hidupnya sebagai manusia. 

Maka Afi pun mengungkapkan pendapatnya berdasarkan pengetahuanya.

"Kita tidak perlu menyodorkan apalagi memaksakan kebenaran kita pada orang lain," kata Afi secara kontekstual kala melihat persoalan bangsa ini.

Afi termasuk pribadi yang menyentuh diri saya, juga banyak orang pada forum itu, terutama ketika ia mendapatkan pertanyaan apakah yang kamu tulis itu inspirasi dari yang kamu baca?

Afi dengan santai menjawab, tulisan itu merupakan hasil dari meramu informasi di internet, buku, dan lingkungan.

"Jadi tidak hanya membaca tapi juga dari pengalaman," kata Afi.

Iya, pengalaman itu penting karena dari pengalaman kita mengetahui apakah yang sudah kita lakukan ini benar atau keliru.  Apakah yang kita perbuat memberi dampak baik pada diri sendiri dan orang lain atau tidak, apakah semangat menjawab rasa ingin tahu itu tidak menyakiti banyak pihak dan tidak menceraiberaikan suatu kelompok.  Karena itulah, sebagai seorang pribadi yang menginginkan kedamaian saya memilih untuk memilih informasi.

Afi, karena engkau sepertinya tidak anti kritik, saya ingin menyampaikan bahwa dalam tulisanmu yang berjudul Warisan ada banyak kekurangan, sehingga orang-orang bisa dengan mudah membullymu. 

Kekurangan kamu yang pertama adalah kamu tidak mencantumkan data dari mana Pancasila itu terbentuk, bagaimana sejarah UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika itu di dapat. Mungkin dengan mencantumkan sejarahnya, engkau akan terhindar dari cemoohan. Engkau akan  menjadi orang yang membuka sikap ahistoris orang-orang ke dalam perilaku membaca kembali sejarah Indonesia, yang terbentuk tidak oleh satu golongan, melainkan sikap gotong royong para pendahulu kita. 

Benar, katamu pengalaman menulis itu penting untuk menyajikan tulisan kritis, namun pengalaman yang seperti apa? Bila pengalamanmu adalah pengalaman yang berisikan hingar bingar ruang seminar semata tanpa penggalian ke dalam jati diri bangsa, engkau akan kehabisan kata. 

Afi, di dalam forum itu ada seseorang yang menyinggung tentang sastra. Seketika saat orang itu menyampaikan perihal sastra, saya memahami kenapa beliau mengungkapkan itu padamu, ia ingin engkau memperdalam ilmumu, juga di bidang sastra. Sastra bagi saya adalah murni unsur kehidupan yang terbentuk dari keanekaragaman, ia adalah saksi secara yang senyap, namun senyapnya bukan tanpa arti. Sastra memiliki ruang yang cair untuk menerima perbedaan, sastra bisa menjadi dokumentasi ingatan terhadap lingkungan yang membentukmu. 

Afi, saya tidak sedang mengagungkan sastra, saya bicara begitu karena saya membaca beberapa karya sastra sehingga saya bisa sedikit mengerti sifat manusia. Melalui sastra saya mengenali sifat-sifat mereka, psikologi manusia tergambar di dalam sastra, diramu oleh para sastrawan dengan gambaran yang sebaik-baiknya untuk diteruskan kepada generasi mendatang bahwa kita harus belajar tentang perasaan manusia. 

Di dalam sastra, orang jahat memiliki alasan untuk menjadi jahat, orang baik juga punya alasan untuk menjadi jahat di kemudian hari, intinya di dalam sastra saya belajar mengenai perubahan sikap manusia. Barangkali, selain membaca kembali sejarah tanah air, engkau juga perlu menelisik dunia sastra agar mengerti lebih dalam psikologi manusia dan psikologi sejarah sebuah bangsa.



No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.