Latest News

Membaca Adegan Relief Candi Borobudur untuk Memahami Nenek Moyang



Arca Buddha di Candi Borobudur
Ilustrasi Arca Buddha di Candi Borobudur. doc Istimewa


Narayatrip.com-Gambaran Borobudur dari sudutarkeologi sudah ditulis dalam artikel sebelumnya. Artikel kali ini akan mengupas ajaran yang melatarbelakangi pendirian Candi Borobudur.

Guna mempermudah pemaknaan dilakukanlah pendekatan structural, dari struktur fisik, struktur konseptual yang didasarkan atas hasil penelitian arkeologi. Keduadengan melihat berita asing dari Tibet, terutama Atisa, khususnya yang berkaitan dengan tujuannya datang ke Suvarghadvipa. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, tujuannya adalah guna memperdalam budhadharma dan bodhicittotpadana. Atas dasar ini maka apa yang akan dikemukakan dalm megkaji Borobudur adalah mengungkapkan Agama Budha dengan memanfaatkan apa yang diharapkan oleh Atisa sebagai panduan. 

Sehubungan dengan hal itu, maka akan dibahas tenang Agama Budha yang bagaimana yang direpresentasikan di Borobudur. Untuk ini maka tujuan Atisa dijabarkan secara structural untuk mengkaji Candi Borobudur. Melalui pendekatan ini maka Candi Borobudur terlihat sebagai marga menuju keBudhaan. Atas dasar ini maka dalam artikel ini akan dibicaraka dua hal sekaligus, yaitu baik marga maupun hasilnya (phala) serta hubungan antara keduanya.

Marga
Dalam bigrafinya, Acarya Atisa menguraikan bahwa ia belajar Budhadharma yang murni selama 12 tahun di Suvargadvipa di bawah bimbingan Acarya Dharmakirti. Dharmakirti sendiri dianggap juga sebagai seorang acarya yang sangat ahli dalam menguraikan kembali ajaran Dignaga secara akurat. Ingalls menunjukkan karya Dignaga bukalah semata-mata sebuah karya filsafat, melainkan juga menunjukkan keunggulan jalan menuju keBuddhaan. Hal ini dengan sengaja ditekankan oleh Ingalls dalam memberikan pengantar kepada buku Hattori yang membahas Pramaa-samuccaya itu, oleh karena Dignaga selama ini hanya dikenal sebagai ahli filsafat, khususnya logika yang dalam konteks Agama Budha dikenal sebagai filsafat Yogacara. 

Dengan lain perkatan dapat dikatakan bahwa Dharmakirti memang seorang ahli yang tidak saja sangat menguasai Budhadharma yaitu jalan menuju KeBudhaan atau kelepasan aka tetapi juga filsafat Yogacara, sehingga tidaklah mengherankan apabila seorang acarya seperti Atisa khusus datang guna berguru kepadanya selama duabelas tahun. Sementara itu, berita Tibet mengabarkan pula bahwa pada masa itu Suvargadvipa telah dikenal sebagai sebuah pusat studi Budha yang penting di kawasan Timur, sehingga I-Tsing (634-713) sengaja menerjemahkan Sutra di sini dan tidak di India.

Selanjutnya:
Page 2: Mahayana

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.