Latest News

Kopi, Buku, Musik, dan Perbincangan

ilustrasi Kopi/pixabay

ASIA, YOGYAKARTA – Hampir setiap hari saya minum kopi dengan teman-teman. Apapun wujudnya, meski sudah menjadi latte, cappuccino, atau pun moccacino, kami tetap menyebutnya kopi. Dulu, sewaktu masih kuliah, kopi juga menjadi teman kami untuk membaca buku, materi-materi kuliah, juga saat mengerjakan tugas bahkan sampai skripsi. 

Di sela-sela itu, selalu ada perbincangan. Saya rasa kopi sudah menyatukan kami menjadi lebih akrab. Waktu lama yang dibutuhkan untuk menghabiskan secangkir kopi membuat kami betah duduk lama di warung kopi, atau sebetulnya kopi yang belum tandas dari cangkirnya itu hanyalah sebuah alasan? Mungkin saja. 

Kami begitu berbeda satu sama lain, dengan karakter masing-masing memiliki kenakalannya sendiri, juga keganjilannya sendiri dalam menanggapi suatu masalah. Porsi masalah itu juga tak sama, porsi saling memahami itu pun…entah, sebetulnya kami sedang saling memahami atau hanya karena tak ada yang lain? 
ilustrasi kopi/pixabay


Namun, sering kami saling merindu satu sama lain untuk sekedar bicarakan film apa yang baru saja ditonton, drama korea apa yang baru saja selesai kejar tayang, kadang juga mengomentari kenaifan para pemain bola, persis seperti sikap naif kami yang sebetulnya tak mengenal betul arti kekalahan. 

Akhirnya, setiap kali ingin ketemu kami memakai kalimat, “Ngopi yuk,” padahal ketika sudah sampai di tempat, tak semua orang memilih kopi sebagai teman duduk dan ngobrol. Ya, kopi pun mengalami penambahan makna. Kopi yang tadinya minuman hitam pekat, berubah menjadi alasan, menjadi ikon, menjadi tanda, menjadi penanda pertemuan. 

Kopi di meja kami tak selalu sama, tapi disajikan dengan cara yang sama. Kami begitu berbeda dalam memilih rasa kopi, tapi tetap satu tempat untuk bicarakan cinta yang diiringi musik-musik melankolis, dinyanyikan penyanyi dalam negeri atau penyanyi luar negeri yang hits tahun 90-an. 
ilustrasi kopi/pixabay


Tahukah kamu, disela-sela bicara persoalan cinta, obrolan kami bisa merambat sampai menganalisa lagu-lagu yang kami dengar di warung tempat kami duduk bersama. Kami berkomentar, tiba-tiba berperan menjadi krikitus musik, kadang juga sok tahu dengan nada-nada. 

Kami kadang berpikir tak seharusnya penyanyi ini menyanyikan lagu balada, dia lebih cocok pop semi rock. 

Yah, dulu kami generasi yang melahap apa saja, tapi lupa bagaimana cara memfokuskan diri pada satu hal saja, menjadi ahli pada satu hal itu kemudian menjadi terkenal karenanya adalah hal yang tidak kami lakukan

Kami bicara dari satu warung ke warung lain tentang berbagi ide, keinginan, harapan, satu dua sudah mulai dicicil, tapi kemudian menguap. Buku-buku yang kami baca juga sudah menumpuk, tapi kami tak kunjung sembuh dari rasa iri terhadap penulis, perasaan itu membuat kreatifitas kami terpuruk. 
Ilustrasi kopi. credit/mutaya


Kopi lalu menjadi tempat mengumpat jika kami tak kunjung menemukan jalan keluar. Selanjutnya, kopi dan musik yang tak selaras akhirnya malah menjadi teman melamunkan apa saja, kemungkinan besok masih ada kesempatan untuk berkarya, spekulasi bahwa besok masih bisa mengeksplorasi kemampuan, dan peluang untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri, sampai cinta yang harus dimiliki. 

Kemudian, Kopi berubah, bukan lagi minuman hitam pekat yang hanya cocok dinikmati untuk menyalakan “saklar” otak dalam memulai hari. Tapi, menjadi candu yang memicu imajinasi. Kandungan kafeinnya berkolaborasi dengan hormon di dalam tubuh menjelmakan hasrat. Lalu, hasrat itu pun bergerak, pada apa? Pada siapa? 

Perasaan terbangkitkan tanpa tahu pasti dari mana bermula, dan kami menjadi seseorang yang terus bergerak maju dengan kemampuan masing-masing menghalau kelemahan, terus bergerak sambil mengatasi masalah yang berserak dari kerja masa lalu yang penuh asal-asalan. 

Pernahkah engkau bertanya-tanya kenapa kafein kopi bisa mencerahkan perasaan seperti itu? Saya membaca disebuah portal berita online, seorang barista level nasional Doddy Samsura, juara Indonesia Barista Competition 2012, memberitahukan kopi memang cocok untuk membangkitkan beberapa mood dan menemani beberapa perasaan yang menggelayut seperti mendung yang enggan jatuh atau memudar sekalian. 

Ilustrasi kopi. credit/Mutaya

Doddy memulai contoh dari Kopi hitam. Menurutnya, Kopi hitam pekat itu cocok diminum pada pagi hari agar bisa lebih bersemangat dalam menjalani hari. 

Sedangkan ketika perasaan sedih datang kapan saja, menimbulkan keengganan untuk melakukan sesuatu dan kita menjadi cenderung tak produktif, kita tahu kita tak harus memaksakan tubuh untuk bekerja karena sedih kadang pantas untuk dirayakan. 

Doddy menyarankan, rayakan kesedihan dengan minum Macciato. Minuman yang mengandung cokelat cocok bila sedang merasa sedih atau kesal. Cokelat sudah dikenal bisa menghasilkan hormon endorfin yang membuat orang merasa bahagia. 

Setelah sedih yang bisa ditaklukan, apa yang bisa kita lakukan sebagai seseorang yang masih muda? Kembali begadang untuk menyelesaikan tugas yang menumpuk karena sempat larut dengan kesedihan. Tahukah kau, kadang begadang juga bisa ditemani dengan secangkir kopi, dan racikan yang tepat untuk membuat begadang menjadi lebih lama ialah espresso. 

Kopi dan buku. credit/Mutaya

Saya dan teman-teman, setelah lulus kuliah tidak lagi betah untuk begadang. Alasannya, karena keesokan harinya kami harus bekerja, mematutkan diri untuk klien. Mau bagaimana lagi? Kehidupan terus bergerak tanpa mau menunggu kesedihan berlalu. 

Teman untuk duduk, baca buku, mendengarkan music, tanpa ada hasrat untuk begadang ialah Caffe Latte. Kopi dengan campuran susu seperti caffe latte atau cappuccino mengandung kafein yang lebih sedikit ketimbang kopi hitam. Minuman ini cocok dinikmati di malam hari di saat kita tak ingin begadang.  

Ini hanya sebuah cerita, engkau tak perlu mengikuti kebiasaan kami yang suka mengerjakan tugas dari klien di warung kopi atau café. Seperti saat masih kuliah, kami memilih tempat yang cocok untuk mengerjakan tugas, tidak terlalu ramai dengan pelanggan, dan tidak terlalu mahal. 

Kami kadang ada Kedai Kopi negeri, Hestek Kopi, Semesta café, Legend café, atau Djendelo café.
Kamu mau menyusul? Semua tempat ngopi itu ada di Yogyakarta

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.