Latest News

Berlibur, Bernostalgia di Tugu, dan Merasakan Interaksi Manusia di Malioboro

Jalan Malioboro. credit/Mutaya

ASIA, YOGYAKARTA - Saya sedang menjalani hidup berdasarkan hobi saya. Saya sudah cukup lelah dengan mencoba seperti yang orang lain lakukan, maka aku coba untuk menjadi diri sendiri. Berjalan seperti yang saya inginkan, memastikan yang saya inginkan bisa menjadi kenyataan, salah satunya dengan membentuk agen perjalanan Naraya Trip Planner dikenal khalayak luas. 


Oleh karenanya, cerita perjalanan saya bentuk, berharap bisa menjadi salah satu kekuatan Naraya Trip Planner menjadi agen yang dikenal dan dipercaya memiliki kru yang bertanggung jawab. 

Memang, belum banyak yang saya kerjakan, saya baru menyusun target, strategi pemasaran, dan kini strategi penulisan untuk menggaet ribuan pembaca. 

Jalan-jalan saya juga belum jauh, beberap hari ini saya hanya disekitar Yogyakarta. Ada beberapa tempat yang saya kunjungi bersama seorang teman. Dia datang dari Semarang, hanya untuk berfoto di Tugu dan Jalan Malioboro. Saya temani dia, saya antarkan sampai tujuan dan bersenang-senang bersama di tempat itu. 
Tugu Yogyakarta. credit/Mutaya


Namun sebelum itu, kami belanja terlebih dahulu di Sakola, sebuah store pakaian. Store itu menjual berbagai macam model pakaian, terbilang lengkap, mulai dari T-shirt, blus, dress, kemeja, dan lain sebagaina. Ada juga celana jeans, kulot, training, dan lain sebagainya. 

Saya dan teman saya itu berbelanja beberapa potong pakaian. Saya memilih outer dan kaos lengan panjang. Outer bermotif etnik seharga Rp23.000 saya bungkus bersama dengan kaos polos berlengan panjang seharga Rp36.000. 

Teman saya membeli atasan seharga Rp76.000, tas selempang Rp43.000, dan T-Shirt lengan panjang seharga Rp56.000. 

Baju, outer, kemeja, celana, ataupun jaket dijual dengan harga miring di tempat itu. Harga yang sangat pas untuk para mahasiswa, model-model pakaiannya standar untuk kegiatan sehari-hari. 

Setelah selesai berbelanja, kami putuskan untuk makan malam di angkringan Tugu Yogyakarta. Kami membeli telur tusuk, bakso tusuk, hati tusuk, dan minum tape. Totalnya Rp45.000. 

Bakso tusuk angkringan Tugu
Saat itu, saya menikmati minuman tape hangat di angkringan Tugu sambil melihat lingkungan sekitar, dan juga ada selingan cerita kehidupan sehari-hari yang jarang diceritakan pada sembarang orang. 

Nostalgia, begitulah tepatnya yang terjadi malam itu. cerita-cerita hangat tentang masa kecil, tentang bapak dan ibu kami, adik-adik kami, pekerjaan kami, juga masa-masa kuliah. Semuanya kembali terbawa selama duduk di angkringan Tugu. 

Hal itu terjadi selama kurang lebih dua jam, kami kemudian mengambil foto-foto tugu pada malam itu. Hasilnya, kami kurang puas, sehingga memilih kembali keesokan harinya, saat subuh, saat di mana lingkungan dan suasana sekitar Tugu masih sepi. 

Malam itu, kami putuskan pindah saja ke warung kopi langganan untuk bersantai sampai merasa ngantuk. Kami tiba di Café Kopi Negeri pada kurang lebih jam Sembilan malam. Kami langsung memesan minuman, saya pilih hot latte, dia memilih hot cappuccino.
Kopi Negeri. credit/Mutaya

Kami memilih duduk di halaman belakang. Ruangan yang di desan semi outdoor itu lebih nyaman untuk ngobrol lama dari pada di dalam ruangan. Bagi saya, AC tidak cukup ramah untuk tubuh saya. 
Kami ngobrol cukup lama, sambil iseng-iseng memotret, mendapatkan angle yang tepat, sesuai dengan kebutuhan cahaya dan subjek yang menarik. 

Kami di Kopi Negeri sampai kurang lebih pukul 23.00 wib. Kami pulang dan memutuskan secepatnya tidur, agar esok bisa bangun pagi kemudian jalan-jalan ke Tugu lagi. 

Yup, Pukul 03.00 wib kami sudah bangun, dan persiapan. Udara terasa agak dingin pagi itu, namun keinginan kami untuk mendapatkan foto sunrise Tugu tak terhalangi oleh apapun. Kami berangkat Pukul 04.30 wib. 

Tiba di lokasi saat suasana masih reman-remang. Demi mendapatkan foto yang menarik, kami coba-coba semua kemungkinan. Semua angle kami uji coba. Dan tanpa terasa, semburat warna kuning kemerahan, mendekati warna jingga muncul dari sisi timur. Kami menunggu cahaya itu nampak lebih karismatik selama beberapa menit. 
Sunrise di Tugu Yogyakarta. credit/Mutaya

Saya pun tak meninggalkan kesempatan itu. Setiap moment saya foto, berharap setiap perubahan melama menjadi fajar itu menjadi kenangan yang indah, yang dapat saya pamerkan dengan bangga di galeri foto. Sebab, suatu hari saya berharap bisa mengadakan pameran foto yang menarik, artistic, khas saya sendiri, dan mengandung makna mendalam. Untuk saat ini, tentu saja saya belum bisa melakukannya, saya masih harus mengumpulkan banyak foto, bermain dengan artistic, dan tentu saja moment berharga. Seperti saat itu, bermain bersama teman lama, ke tempat yang sebetulnya bisa saya lalui setiap hari tetaplah berharga, karena ada yang berbeda dari setiap perjalanan, ada cerita disetiap kebersamaan, meski nampak berulang. 

Merasa sudah cukup di Tugu, kami pindah ke Jalan Malioboro, demi untuk mendapatkan papan nama jalan bertuliskan Jalan Malioboro. Agak ndeso? Yup, biarlah! Tapi jalan itu memang populer di kalangan siapapun. Jalan Malioboro sangat terkenal di dunia, meski tempat itu ramai, dan bagi saya yang tak nyaman di tempat yang terlalu ramai, saya akan menghindari berjalan-jalan di jalan Malioboro pada siang hari hingga malam hari. Saya akan pilih di pagi hari, seperti saat itu, di saat-saat matahari baru terbit, dan toko-toko belum dibuka. 
Malioboro street at the morning. credit/Mutaya


Saya bisa mengambil banyak foto. Hal-hal yang tak bisa saya amati ketika ramai bisa saya lihat lebih jelas. Saya juga bisa memahami kenapa manusia membutuhkan ruang bebas bernafas, ruang hijau, ruang yang bersih, dan ruang-ruang lain untuk bermain, bercengkerama, dan berolahraga, karena keramaian, keriuhan, dan interaksi yang berlebihan, hanya menyebabkan kemacetan, baik psikologis maupun mental, baik sosial maupun budaya. 




Ijinkan Naraya Trip Planner menjadi mitra perjalanan Anda. Persiapan Traveling, mulai dari tiket, penginapan, sampai kuliner akan dipersiapakan oleh tim Naraya Trip Planner. Silahkan hubungi NarayaTour (0857 004 747 43).

Naraya Trip Planner, “Your Best Trip Assistant”

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.