Latest News

Ajaran Sutra Terpahat dalam 2.672 Adegan Relief Candi Borobudur



Relief Candi Borobudur
Relief Candi Borobudur/pixabay


Narayatrip.com-Candi Borobudur, dilihat dari strukturnya, sebagaimana halnya dengan candi-candi lain, terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kaki, badan, dan puncak.

Sebagaimana diketahui, Candi Borobudur dibangun di atas sebuah bukit, sehingga tidak memiliki ruang. Namun demikian secara struktural tetap mengikuti struktur candi yang mempunyai kaki, badan dan puncak yang berbentuk segi delapan. Kaki candi hanya terdiri dari satu tingkat dan tanpa diberi pagar langkan. 
 
Bagian kaki merupakan bagian candi yang terbawah, dan yang di Candi Borobudur dikenal sebagai bagian kaki yang tertutup. Kaki Candi disebut tertutup oleh karena walaupun sesungguhnya dihiasi dengan relief namun kemudian ditutup. 

Bagian badan candi merupakan bagian bangunan berundak dan berpagar langkan, sehingga membentuk lorong. Lorong-lorong yang mengelilingi  badan candi ini menggantikan badan candi. Di sepanjag dinding badan candi dan di pagar langkan dihiasi dengan 2.672 adegan relief yang terbagi ke dalam 1300 bidang panel. Dengan demikian maka apabila pengunjung berjalan di sepanjang lorong ini, berturut-turut dari tingkat satu sampai ke-empat, maka ia akan melihat relief-relief itu di kiri-kanannya. 

Di atas pagar langkan dihiasi dengan relung yang masing-masing menghadap ke luar. Oleh karena bentuk dasar badan Candi Borobudur adalah segi empat, maka setiap relung itu masing-masing menghadap ke arah empat mata angin: Timur, Barat, Selatan, dan Utara. 

Adapun jumlah relung yang menghiasi pagar langkan dari undakan pertama adalah 104, kedua 104, ketiga 88, keempat 22 relung sedangkan yang kelima 64 buah. Di dalam setiap relung ditempatkan sebuah arca, sehingga menjadikan arca-arca itu masing-masing menghadap ke arah empat mata angin pula. 

Akhirnya bagian puncak candi, yang terdiri dari kaki puncak. Di kaki puncak candi, yang membentuk tiga tingkat lanatai oval, dihiasi dengan stupa-stupa berongga di setiap tingkatnya, mengelilingi puncak candi yang berbentuk sebuah stupa besar. Pada undakan pertama dihias dengan 32 stupa dan undakan kedua 24 buah stupa dengan lubang dinding berbentuk wajik, sedangkan yang ketiga 16 buah stupa dengan lubang berbentuk segi empat. Di dalam setiap stupa ini masing-masing ditempatkan sebuah patung. 

Penelitian
Cara bekerja arkeologi dalam menghadapi obyek penelitian yang bisu, dalam arti tidak dapat menjawab pertanyaan, maka satu-satunya langkah yang dapat dilakukan adalah dengan cara mempertanyakannya. Apa yang dapat diharapkan dari mempertanyakan obyek penelitian Candi Borobudur adalah guna mendapatkan kembali apa yang terdapat di balik Borobudur sebagai bangunan candi. Dalam kesempatan ini pengamatan akan difokuskan pada struktur bangunan candi, relief yang dipahatkan di dinding dan pagar langkan, serta arca yang ditempatkan padanya. 

Setelah ditinggalkan selama beberapa abad, Borobudur telah menjadi sebuah bukit yang ditumbuhi tanaman liar dengan beberapa reruntuhan candi yang menonjol di sana sini. Keberadaan bukit ini dilaporkan kepada Gubernur Jenderal Raffles yang kemudian memerintahkan untuk membersihkanya sehingga muncullah ke permukaan sebuah runtuhan candi. Sejak saat itu, Borobudur mulai memperoleh perhatian, paling tidak oleh para pejabat Belanda pada waktu itu. 

Namun demikian, baru setelah pemerintah pada waktu itu mendirikan sebuah kantor purbakala, Candi Borobudur mulai dikaji secara ilmiah yang diawali dengan pemugaran pada tahun 1911. Dari pengerjaan pemugaran ini lahirlah dua buku yang pertama oleh Krom berupa Archeological Description dan yang kedua oleh van Erp berupa Architectural Description. Sementara itu, dilakukan pula pemotretan seluruh relief oleh Cephas dan van Kinsbergen. Dua buah buku dan hasil pemotretan itu sampai saat ini masih menjadi rujukan utama penelitian Candi Borobudur. 

Pada awalya, Candi Borobudur memang diteliti sebagai peninggalan arkeologi. Dalam kaitan ini penelitian pertama yang dilakukan adalah membangun kembali reruntuhan yang ditemukan. Setelah renovasi dilakukan barulah dapat dimulai penelitian terhadap relief dan kemudian juga arca-arca yang menghiasi bangunan tersebut. Terakhir barulah dilakukan interpretasi terhadap ajaran yang mendasarinya. 
 
Adapun penelitian pertama yang dilakukan adalah tentang pengenalan kembali tentang isi relief-relief itu. Relief Candi Borobudur dipahatkan baik di kaki maupun badan candi. Relief pertama yang menarik perhatian dengan sendirinya adalah yang berada di kaki candi. Relief yang dipahatkan dikaki candi terbagi ke dalam 160 bidang panil. Penelitian terhadap relief ini pertama-tama dilakukan oleh Krom. Ia kemudian berhasil untuk membandingkannya dengan Mahakamarvibhaga Sutra, sehingga sampai sekarang relief-relief itu dikenal sebagai relief yang merupakan representasi dari Sutra tersebut, yaitu adegan-adegan yang mengetengahkan perbuatan-perbuatan yang membawa kebaikan dan kejahatan, beserta segala akibatnya, baik di surga maupun di neraka.

Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa dari antara 160 bidang panil itu, yang murni dapat dikenali sebagai berasal dari Sutra tersebut sesungguhnya hanya berjumlah 23 adegan. Sisa panil yang lain kemungkinan diambil dari teks yang lain atau merupakan interpretasi dari para Acarya pada waktu itu terhadap Mahakarmavibhaga Sutra. Adegan-adegan ini sekarang tertutup oleh kaki candi. 

Selanjutnya, seluruh relief yang dipahatkan di dinding badan candi dan di dinding pagar langkannya itu pun dapat dikenali isi ceritanya dengan cara mengaitkannya dengan sumber tertulis. Sebagai hasil pengenalan itu maka relief yang dipahatkan pada badan candi ini dapat dikenali sebagi melukiskan cuplikan adegan-adegan dari Jataka dan Avadana, yaitu ceritera-ceritera tentang kehidupan para Bodhisattva. Secara lengkap dipahatkan pula ceritera tentang kehidupan Sang Buddha Gautama sebagaimana yang diuraikan dalam Lalitavitara. Seluruh rangkaian relief itu kemudian diakhiri dengan Gandayuha dan Bhadracari secara utuh yang mengajarkan cara mencapai Kebuddhaan. 

Pada dasarnya, relief yang dipahatkan itu dapat dibedakan menjadi dua bagian. Bagian pertama dapat dikenali sebagai representasi dari Avada Jataka dan Lalitavitara, sedangkan yang kedua Gandavyuha dan Bhadracari. 

Relief pada bagian pertama melukiskan berbagai perbuatan mulia yang dilakukan oleh para Bhodhisattva demi kepentingan semua makhluk. Pada tahap ini, berbagai perbuatan mulia itu merupakan persiapan untuk dilakukan sebagai persyaratan agar dapat mencapai keBuddhaan. Selanjutnya sebagai contoh disampaikan serangkaian relief yang melukiskan Lalitavitara yang mengisahkan kehidupan Sang Buddha Gautama. 

Berbeda dari rangkaian relief di bawahnya, relief bagian kedua, Gandavyuha, dipahatkan di sepanjang badan dan pagar langkan candi secara utuh. Relief-relief ini menggambarkan bagaimana seorang Sudhana yang berupaya untuk memperoleh jnana. Untuk ini ia telah magang kepada lima puluh lima guru spiritual, termasuk di dalamnya Manjusri atau pun Siva Ekapada. 

Gandavyuha merupakan bab terakhir dari Avasaka Sutra, di mana di dalamnya terdapat pula Dasabhumika. Secara tersirat Sutra ini pun diacu oleh perancang Candi Borobudur dalam mengungkapkan berbagai perbuatan mulia para Bodhisattva yang telah mencapai tiga tingkat (bhumi) bodhisattva tertinggi. 

Akhirnya rangkaian relief tentang Gandavyuha ini ditutup dengan kisah Bodhisattva Samantabhadra dengan sepuluh sumpahnya (pranidhana) sebagaimana yang diuraiakan dalam Bhadracari. 

Penelitian terhadap pengarcaan di badan Candi Borobudur mengenali adanya dua sistem. Sistem pertama terdiri dari arca-arca dalam relung di atas pagar langkan dari lima lantai segi empat yang menjadi bagian dari tiga lantai oval yang merupakan bagian dari kaki puncak candi. Sebagaimana diketahui, puncak candi berupa sebuah stupa besar yang bergaris tengah 10 m. 

Demikian arca-arca itu masing-masing ada yang menghadap ke timur, barat, utara, dan selatan yaitu sesuai dengan arah hadap relung di mana arca itu ditempatkan. Walaupun arca-arca itu menunjukkan roman muka yang sama namun dari antara mereka masing-masing dapat dikenali secara ikonografis melalui sikap tangan atau mudra. 

Arca yang menghadap ke timur bermudra dhyana, yang di barat bhumisparsa, yang di selatan vara dan yang di utara abhaya. Keempat arca ini semuanya berada dalam relung yang terletak di empat pagar langkan dari lantai persegi pertama sampai keempat. Atas dasar perbedaan mudra dan arah hadapnya, maka arca-arca itu dapat dengan mudah dikenali sebagai arca Thathagata.

Arca-arca yang berada di relung di atas pagar langkan dua, tiga, dan empat serta menghadap ke arah timur adalah Thathagata Akobhya, yang menghadap ke selatan Rathasabhava, ke barat Amitabha sedangkan yang menghadap ke arah utara adalah Amoghasiddhi. 

Permasalah timbul pada waktu harus mengenali 22 buah arca dalam relung di atas pagar langkan dari lantai persegi yang tertinggi. Berbeda dari Tathagata yang telah disebutkan di tas, semuanya bermudra vitarkan serta dihadapkan ke empat penjuru mata angin. Ditinjau dari sudut ikonografi Budha, berdasarkan kedudukannya, arca ini harus dikenali sebagai Tathagata Vairocana, yang biasanya di tempatkan di tengah. Namun oleh karena bentuk badan Borobudur persegi empat serta bertingkat, maka guna menggantikan konsep posisi sentral itu Acarya Borobudur menggantinya dengan arah hadap dan menempatkannya di lantai persegi yang tertinggi. 

Sampai di sini pengenalan arca itu sebagai Vairocana dengan mudah dapat dibenarkan. Namun yang menimbulkan persoalan adalah mudranya. Vairocana biasanya bermudra dharmacakra, sedangkan arca ini bermudra vitarkan. Dalam literatur kajian Agama Budha, arca ini menimbulkan perdebatan yang sampai sekarang belum terputuskan. Apabila arca ini tidak dikenali sebagai Vairocana, maka empat arca yang lain pun menjadi ikut diperdebatkan upaya pengenalannya. 

Dengan demikian, maka relief diukirkan di sepanjang lorong candi pada dinding badan candi maupun pagar langkannya. Adapun arca ditempatkan dalam relung-relung yang berada di atas pagar langkan dari badan candi dan semuanya menghadap ke halaman candi. 

Sistem kedua dari pengarcaan Candi Borobudur adalah arca-arca dari kaki puncak candi. Sebagaimana telah diuraikan di atas, kaki puncak candi terdiri dari tiga lantai oval tanpa pagar langkan, namun dihiasi dengan stupa berongga. Apabila arca dari lantai persegi dibedakan satu dari lainnya melalui perbedaan mudra, maka arca dari lantai oval ini semuanya bermudra dharmacakra. Sebagai akibat dari penempatan stupa berongga ini mengelilingi lantai yang berbentuk oval maka arca-arca yang berjumlah 72 buah ini dihadapkan ke halaman candi itu pun dengan sendirinya menghadap ke seluruh penjuru, sehingga membelakangi stupa yang menjadi puncak candi. Stupa berongga dengan dinding yang berlubang-lubang ini menjadikannya berbeda dari stupa pada umumnya. Perbedaan yang lain adalah bahwa stupa dari lantai pertama dan kedua berlubang dengan bentuk wajik, sedangkan yang dari lantai tiga berbentuk bujur sangkar. Melalui lubang-lubang ini memungkinkan orang melihat arca yang berada di dalamnya. Sebaliknya arca yang berada di dalamnya puns eolah-olah bisa melihat keluar. 

Sebagaimana diketahui arca yang bermudra dharmacakra adalah Tathagata Vairocana. Namun demikian pengenalan arca ini sebagai Tathagata Vairocana menimbulkan dua permasalahan. Pertama di Borobudur terdapat enam Tathagata adalah sesuatu yang sulit dijelaskan oleh karena secara ikonografis hanya dikenal mandala terdiri dari lima Tathagata. Permasalahan lain muncul apabila arca ini dikenali sebagai Vairocana, karena di badan candi sudah terdapat arca Tathagata Vairocana. 

Penelitian selanjutnya, dilakukan terhadap Candi Borobudur sebagai sebuah bangunan yang utuh. Stutterheim, misalnya, mengajukan perndapat bahwa struktur candi yang bertingkat-tingkat itu sesungguhnya terdiri dari tiga tingkat saja. Pembedaan tingkat ini didasarkan atas menurut Stutterheim, konsep dhatu atau jenjang yang harus dilalui oleh mereka yang berupaya mencapai keBudhaan. Adapun jenjang-jenjang itu adalah kama, rupa, dan arupa dhatu. Di tinjau dari sudut arsitektur, maka kaki candi yang sekarang diperluas sehingga menutup relief Mahakarmavibhangga melambangkan kamadhatu. Sementara itu galeri-galeri candi yang berbentuk segi empat yang dihiasi relief-relief Jatakamala sempai Bhadracari melambangkan rupa-dhatu. Akhirnya, selasar oval yang berhiaskan stupa-stupa berongga dengan arca Tathagata di dalamnya, serta sebuah stupa agung di puncaknya sebagai arupa-dhatu. 

Interpretasi lain diajukan oleh de Casparis. Ia menghubungkan tingkatan-tingkatan candi dengan sebuah sutra, yaitu Dasabhumika-sutra. Sutra ini mengajarkan bahwa untuk mencapai kebuddhaan, seorang bodhisattva harus melalui sepuluh tingkatan. Sampai tingkat yang ke tujuh, seorang bodhisattva masih terikat pada karma-nya, sehingga masih harus mengalami kelahiran kembali, walaupun tentunya dalam bentuk kelahiran yang baik. Sebaliknya, apabila karmanya jelek artinya ia makin tebal dikotori oleh perbuatan buruknya, maka ia akan memperoleh bentuk kelahiran yang lebih jelek. Sejak tingkat ke delapan sampai ke sepuluh ia telah terbebas dari pengaruh karma. Namun demikian, sesuai dengan sumpahnya sebagaimana yang telah dikemukakan di muka, ia masih memiliki kewajiban untuk menolong makhluk lain, serta menunda kesempatannya untuk mencapai keBuddhaan. 

Untuk tujuan ini, karena telah terbebas dari ikatan karmanya, dapat memilih sendiri bentuk kelahirannya, yaitu sesuai dengan makhluk apa yang hendak dibantunya. Apabila yang hendak dibantunya itu binatang, maka ia akan mengambil bentuk kelahiran sebagai binatang pula, seperti yang banyak dikisahkan di Jatakamala. 

Demikian Candi Borobudur menurut perhitungan de Casparis memiliki sepuluh tingkat, maka setiap tingkat yang ada di sana mewakili tingkat (bhumi) bodhisattva.


*Artikel ini dibuat berdasarkan materi presentasi yang disampaikan oleh Noerhadi Magetsari dalam acara Borobudur Budhist Conference tahun 2016. Materi tersebut berjudul Sumbangan Arkeologi Bagi Agama Budha.

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.