Latest News

Puncak, Pulang, dan Hati yang Tertambat pada Satu Harapan

Narayatrip.com - Kini sudah seminggu lebih sejak menginjakkan kaki di puncak itu. Sebelumnya, hanya saya bayangkan akan berdiri di puncak itu, melihat ke sekeliling, ke lembah, ke pepohonan, juga ke orang-orang yang berdiri sama-sama di sana.


Yang dibayangkan belum tentu jadi kenyataan bukan? Apalagi melihat kenyataan kemampuan saya untuk berjalan cepat hingga puncak di luar dugaan saya. Sebelum sampai di pos dua sudah kram, jadi semakin hati-hati agar tak semakin parah menyentuh cedera otot.

Meskipun begitu, perasaan saya tetap nyaman-nyaman saja, berjalan di antara kabut, satu dua tiga langkah berhenti, ambil napas lalu lanjut lagi. :P


Puncak

Pagi hari di Gunung Lawu. credit/Mutayasaroh

Engkau (saya) akan bisa melihat sebuah tugu di Puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu jika engkau tak patah arang untuk mencapainya. Di puncak itu pula, dengan berdiri di dekat tugu, engkau akan melihat bukit yang menjorok, dari jauh, nampak bersentuhan dengan dua bukit di sebelahnya.  Itu hanya bias pandang mata, bila engkau mendekatinya engkau akan tahu bahwa jarak antara satu bukit dengan lainnya teramat jauh. Dari tempat engkau berdiri engkau lihatlah ke bawah, engkau akan melihat pemandangan deretan jalan yang sudah engkau lalui. Hamparan hijau nan luas mungkin akan membuat engkau merasa tentram. 

Bagi saya saat itu, saya hanya bagian terkecil dari susunan alam semesta itu. Puncak hanya memperlihatkan engkau, betapa engkau takkan pernah mampu menguasai itu. Alam semestalah yang menerima engkau di dalamnya, sementara engkau takkan mampu memahaminya. 

Orang bilang, naik gunung hingga mencapai puncak akan membuat engkau memahami dirimu sendiri. Engkau tak hanya akan menemukan kelebihanmu, tapi juga kelemahanmu, anehnya sebelum sampai puncak saya sudah tahu kelemahan yang melekat di diri.

Ada juga yang bilang, engkau akan menemukan teman sejati yang akan melebihi saudaramu. Di puncak, engkau pun akan merasakan duniamu bisa sirna kapan saja. 

Ada juga yang berkata engkau akan menjadi orang baru, orang yang sama sekali berbeda dari engkau yang belum pernah menjangkau setiap kisi-kisi gunung. 

Saya tak tahu mana yang paling benar, saya kira tak ada satu pun yang salah. Masing-masing orang punya alasan untuk memulai perjalanan, entah ke gunung atau ke pantai dan setiap orang akan merasakan pengalaman berbeda secara unik.

Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief National Geographic Traveler menukil dari dialog "The Bucket List", berkata, "Suatu hari nanti di ujung usia, kita akan melihat kilasan perjalanan hidup. Pastikan kilasan itu menjadi tontonan yang sangat berarti bagi kita."

Pulang

Lereng Gunung Lawu. credit/Mutayasaroh

Bagai merasa pulang ke rumah, bahkan suasananya jauh lebih baik, begitulah yang saya rasakan pada saat itu.

"Kau akan kesepian tanpa mereka," tatap burung Jalak pada saya.
"Aku tahu,"
"Kau tahu berapa banyak orang yang mengharap perjalanan bersama orang-orang yang tepat?"
"Aku tak bisa menghitung,"
"Matematikamu memang payah,"
"Tak sepayah dunia mempertahankan kejujuran ku pikir,"
Burung Jalak diam. Ada jeda yang panjang di antara kami.

Saya masih tetap berkhayal bisa bercakap dengannya sampai sekarang. Berapa banyak cerita tentang datang dan pergi yang bisa saya dapat darinya? Adakah satu di antara pendaki yang dirindukan kehadirannya kembali di lembah-lembah Gunung Lawu itu?

Harapan

 
Panorama Gunung Lawu. credit/Mutayasaroh

"Kenapa kau suka naik gunung?"
Pernah kau dengar pertanyaan seperti itu mampir di telingamu?
Saya tak bisa menjawab, karena keinginan itu datang begitu saja.

Saya punya sebuah cerita, ada seorang anak yang lahir di kota namun ia punya nenek yang tinggal di pegunungan. Saat libur sekolah, ia datang ke rumah nenek. Kau bisa bayangkan apa yang ditemuinya dalam perjalanan menuju rumah nenek? Ia tak bisa menaiki sepeda motor atau mobilnya dengan mudah untuk sampai di depan rumah nenek. Ia masih harus jalan kaki di pematang sawah, naik turun lembah supaya bisa sampai di rumah nenek. Ia tak tahu bahwa pengalaman masa kecilnya mengerak di alam bawah sadarnya.

Baca juga:
Perjalanan menuju puncak Lawu
Nyanyian Penjaga Gunung Lawu


Lagu, naik-naik  ke puncak gunung yang diajarkan guru TK dinyanyikannya bersama saudara-sudaranya saat menuju rumah nenek. Sepanjang perjalanan itu pula ia bisa melihat lekuk tanah, bukit, bebatuan yang kokoh menempel di lereng, juga sungai yang mengalir.

Si anak ini lalu merasa damai, damai yang tak bisa ditemukannya di kota. Si anak kini sudah tumbuh dewasa. Perjalanan menuju rumah nenek timbul tenggelam di mimpinya, tapi ia punya alasan untuk tak menuju ke sana setiap kali rindu. Ia justru ingin mencari tahu, bisakah mendaki gunung lain yang bukan tempat tinggal nenek akan memberikan kedamaian yang sama?

Si anak yang sudah dewasa ini mencari perasaan 'pulang' dan 'damai' yang sama.



No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.