Latest News

Perjalanan Menuju Puncak Gunung Lawu

Setelah mendaki tanjakan cinta. credit/Mutayasaroh

ASIA-KARANGANYAR, Tiga hari telah berselang sejak saya turun dari Gunung Lawu. Dalam tiga hari ini, saya mengingat banyak hal tentang sensasi mendaki Gunung Lawu yang memiliki ketinggian kurang lebih 3.265 mdpl melalui jalur Candi Cetho.

Pendakian Gunung Lawu sebetulnya bisa dilakukan dari tiga jalur, antara lain jalur Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, dan Candi Cetho.  Kami memilih jalur Candi Cetho yang masih berupa jalan setapak tanah, jalur yang masih terbilang baru. Banyak rumor yang menyebut jalur Candi Cetho adalah jalur paling mistis di antara ketiga jalur tersebut.

Keberangkatan
Saya bersama sembilan orang teman berhasil mencapai puncak Hargo Dimulai setelah melalui perjalanan panjang dari pos ke pos dengan jarak yang berbeda-beda dari satu pos ke pos yang lain. Dalam jarak itu pula, kami, khususnya saya merasakan petualangan berdekatan dengan vegetasi khas tropis dan hewan-hewan endemik yang tinggal di pegunungan Lawu.


Tenda kami dari nun jauh. credit/Mutayasaroh

Perjalanan saya mulai dari Yogyakarta bersama delapan teman lain (seorang teman baru akan kami dapatkan dalam perjalanan menuju puncak, sehingga jumlah total dalam satu rombongan kami menjadi sepuluh orang) pada Jumat sore, kurang lebih pukul 16.00 wib.  Ketika kami baru masuk kota Klaten, kami diguyur hujan, sehingga terpaksa kami istirahat.  Kami pilih sebuah masjid besar di Klaten. Setelah shalat maghrib, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Karanganyar, di mana jalur pendakian Gunung Lawu berada.

Perjalanan kami lalui dengan menembus hujan, kadang gerimis kadang lebat, yang pasti kami tak berhenti sampai di tempat tujuan.  Meskipun demikian, bukan berarti perjalanan lancar-lancar saja, tetap ada hal-hal unik yang membuat perjalanan ini, khususnya bagi saya pribadi menjadi semakin menarik untuk diceritakan kembali.

Kami sebetulnya tak ada yang tahu jalan menuju Karanganyar, meskipun beberapa teman sudah pernah mendaki Lawu, namun mereka lupa jalan menuju lokasi. Sehingga, kami mengandalkan GPS untuk mengantarkan kami sampai ke basecamp.

Sebelum sampai di basecamp, kami juga melewatkan jalur yang benar menuju Candi Cetho.  Kami kebablasan sampai kurang lebih 5km.  Kalau bukan karena bantuan warga sekitar kami takkan menemukan jalur yang tepat menuju jalur pendakian Candi Cetho.

Jalur itu ternyata menanjak dan berkelok, sehingga membutuhkan kepekaan khusus agar bisa melaluinya dengan baik. Sayang, motor yang saya tumpangi tak kuat ketika menanjak di kelokan, sehingga terpaksa saya turun dari motor dan berjalan kaki sambil menggendong tas berisi logistik. Hal itu terjadi dua kali. Tak hanya saya yang mengalami masalah ini, salah seorang teman saya juga mengalami hal yang sama.

Walaupun begitu setelah melalui proses perjalanan yang panjang di tengah gerimis, akhirnya kami sampai di basecamp dengan selamat.

Rumah warga/basecamp
Kami sampai di basecamp, kurang lebih pukul 22.30 wib. Kami memarkir motor kami di rumah salah seorang warga yang halaman rumahnya dijadikan sebagai tempat parkir para pendaki, sedangkan ruang tamunya dimanfaatkan untuk beristirahat para pendaki.
Saat persiapan di basecamp. credit/Redysuzayt


Sebetulnya rumah itu bukanlah basecamp resmi, melainkan sebuah rumah yang dibuka untuk memberi jasa bagi para pendaki yang ingin istirahat di sana dengan ketentuan menjaga ketertiban dan kesopanan. Kami diperingatkan agar tidak berisik di atas jam sembilan malam sebab masih ada kegiatan ibadah di Candi Cetho pada jam-jam tersebut.  Agar tidak mengganggu, kami diingatkan agar tenang sampai pagi.

Kami pun menghormati serta berusaha mengindahkan peringatan itu dengan bersikap tenang dan dewasa selama beristirahat di teras rumah sambil masak makan malam.  Hingga akhirnya semua orang tidur selepas dini hari sampai subuh.

Awalnya kami menjadwalkan diri bangun pagi pukul 04.00 wib, kemudian mendaki mulai pukul 05.00 wib, namun pada kenyataannya persiapan kami lebih lama dari dugaan sehingga kami berangkat sudah lebih dari jam tujuh pagi.

Dari pos ke pos
Untuk mengawali perjalanan panjang menuju Puncak Hargo Dumilah, Gunung Lawu, kami harus mulai dengan registrasi terlebih dahulu di pos pendaftaran.

Registrasi ini penting agar pendakian kita terdaftar, karena jika terjadi sesuatu pihak pengelola akan bersedia menolong atau bertanggung jawab. Registrasi dilakukan dengan mencantumkan nama dan alamat sesuai KTP serta nomor telepon pribadi dan keluarga. Pendaki kemudian dikenai biaya per orang Rp 10. 000,-.

Loket pendaftaran jalur Candi Cetho berada di sisi selatan persis pintu gerbang candi. Sehingga, selama menunggu proses registrasi selesai, kita bisa mengamati area candi dari balik pagar.

Selain itu di loket registrasi kita bisa melihat peta pendakian. Di dalam peta tercantum, setelah melalui Candi Cetho, pendaki akan melewati area Candi Ketek, baru kemudian menembus wilayah vegetasi hingga puncak. Di dalam jalur itu terdapat enam pos untuk beristirahat atau mendirikan tenda. 

Setelah proses registrasi selesai, saatnya menikmati perjalanan mendaki yang panjang.

Dimulai dari menyusuri jalan setapak di samping Candi Cetho, semuanya terasa asri. Pepohonan hijau, khas vegetasi hutan. Saya samar-samar mencium bau dupa. Saya rasa itu berasal dari dupa yang dibakar oleh umat Hindu yang beribadah di candi.

Kami tidak hanya menyusuri jalan setapak yang turun naik waktu itu, tapi kami juga harus menyeberang sungai. Tak lebar kok, menurut perhitungan saya hanya empat kali melompat batu untuk sampai ke seberang.  Di seberang sudah menunggu jalan setapak berbatu. Saya dan teman-teman memulai perjalanan mendaki dari sana. 

Belum lama berjalan dari pos regristrasi, kami melihat Candi Ketek seperti yang tertera dalam peta. Kami berhenti di sana untuk mengambil foto, kami yakin saat pulang nanti kami takkan punya kesempatan. Kemungkinan itu terjadi karena salah satu dari dua sebab yang kemungkinan akan kami alami, (dugaan) sebab pertama kami sudah terlalu lelah untuk mampir dan berfoto sehingga dalam pikiran kami yang ada adalah segera sampai lagi di basecamp dan istirahat. (dugaan) sebab kedua, kami akan melewati tempat itu lagi saat malam sudah larut. Jadi, mana yang benar?  Jawabannya ada pada kelanjutan kisah ini.  Namun sebelum itu, ayo nikmati dulu proses menuju puncak.

Setelah berfoto grub di depan Candi Ketek, kami lanjutkan perjalanan menuju pos satu. Dalam perjalanan ini cuaca masih cerah.  Kota dan perbukitan di sekelilingnya nampak menyenangkan dipandang berlama-lama dari tempat kami berada.

Jalan menuju pos satu berupa jalan setapak yang masih berupa tanah, sesekali dijumpai bebatuan dan pipa air warga.  Sementara itu, pos satu merupakan tempat yang sedikit luas dengan rumah-rumahan beratap rumput dan baliho usang. 

Pos dua juga terbuat dari materi yang sama, namun sebelum sampai di pos dua, saya mengalami kram. Sebetulnya ini cedera yang biasa dirasakan para pendaki jika naik, namun jika tak hati-hati kram bisa menyebabkan cidera otot parah dan mempersulit langkah menuju puncak. 

Saya yang mengalaminya jadi was-was, khawatir jika nanti saya mengalami yang lebih buruk. Akan tetapi, saya tepis kemungkinan itu, saya lanjutkan langkah setelah merasa yakin keadaan otot baik-baik saja. 

Dalam perjalanan menuju pos dua ini pula kami bertemu dengan seorang pendaki tunggal, seseorang yang kami kira sedang menunggu teman mendakinya di rumah basecamp kami pagi tadi sebelum berangkat. 

Dia menjadi satu kelompok dengan kami sejak dari  tengah perjalanan menuju pos dua itu.

Di pos dua, saya istirahat cukup lama. Di sana, kami memutuskan dibagi menjadi dua grub. Grub cepat berangkat duluan sampai pos tiga untuk menyiapkan nasi, sementara grup pelan (karena kecepatan kami berbeda) akan menyusul di belakang. Saya rasa hal ini terjadi karena saya, yang sangat pelan berjalan. :P

Di pos dua ini saya melihat pohon dengan batang yang besar dan dililit dengan kain berwarna kuning. Ini menandakan pohon tersebut dikeramatkan oleh warga setempat. Kami tak berlama-lama di sana, kurang lebih 20 menit saja, istirahat cukup dengan minum teh dan merokok.

Kami kemudian menyusul grub sebelumnya yang sudah berjalan duluan. Dalam perjalanan menuju pos tiga, pelan-pelan kabut mulai turun di sekitar kami. Saya ingin cepat, tapi tak bisa, sehingga apa boleh buat, terima saja resiko berjalan di antara kabut, asal tidak berjauhan dengan yang lain, saya rasa takkan tersesat. :D

Grub cepat ternyata menunggu di pos tiga bayangan. Di pos itu kami istirahat, mulai mengeluarkan nesting, kompor, dan bahan-bahan logistik lainnya. Beberapa orang di antara kami mulai menyiapkan sarapan yang sekaligus makan siang itu. Di saat yang bersamaan, kabut turun makin tebal, kami khawatir hujan turun. 

Benar saja, belum selesai kalimat diucapkan, terdengar suara air menabrak ranting-ranting pohon  pinus. Suaranya berisik, sementara kami mulai sibuk membuat tenda untuk menyelamatkan tas dan isinya. 

Agak miris ketika tenda yang kami dirikan itu ternyata bocor. Kami memang tak mengharapkan hujan turun di saat kami naik, namun apa boleh buat, nasib inilah yang harus kami nikmati hari itu. Diam-diam saya khawatir bila salah satu diantara kami mengalami hipotermia, dikarenakan sebab yang sudah teakumulasi sebelumnya atau kram saya semakin parah nantinya. 

Kegiatan masak pun dihentikan sampai kami bisa menyelamatkan barang-barang, agar nanti sleeping bag dan lain-lainnya bisa digunakan saat camp yang sebenarnya. 

Hiruk pikuk itu memakan waktu cukup lama di tengah hujan yang semakin deras. Ketika memasang tenda usai, hujan pun pelan-pelan mereda. Meski demikian, teman-teman sudah terlanjur kedinginan. Satu per satu dari mereka berganti pakaian (bagi yang membawa). 

Setelah itu, kegiatan masak dilanjutkan kembali. Menu makan kami selalu lengkap, siang itu nasi berlauk ikan pindang dan sop. 

Selesai makan, kami menghangatkan diri, sambil menanti cuaca cerah kembali. Yup, pelan-pelan cuaca kembali cerah, meski tetap mengkhawatirkan sebab isu yang mengatakan naik Lawu via Candi Cetho bisa kena kabut yang turun tiba-tiba itu nampaknya benar pada siang itu. 

Setelah kami merasa hangat dan mampu melanjutkan perjalanan, kami bersiap-siap kembali. Pertama-tama yang dilakukan adalah memutuskan membawa barang-barang yang bisa dipakai di camp, sebab ada beberapa barang yang basah dan tak bisa dipakai. 

Kami meninggalkan kompor kotak, gas yang sudah habis, beberapa ikat sayuran, botol aqua yang sudah habis, jeligen, dan lain-lain di tenda bocor itu.

Dari pos tiga bayangan itu, saat kami melanjutkan perjalanan waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib. Tak nak kami sampai di pos lima saat matahari masih di atas cakrawala, sehingga kami menyiapkan senter. 

Kami terbagi dua grub lagi, saya masuk ke dalam grub belakangan alias grub lambat, hahaha. Dalam perjalanan menuju pos tiga yang sebenarnya saya dan teman satu grub sudah harus melaluinya dengan cahaya senter di tengah jalan. Ternyata jarak pos dua ke pos tiga itu panjang, lebih panjang dari pos satu menuju pos dua ataupun pos tiga menuju pos empat dan seterusnya. 

Perjalanan dari pos dua menuju pos tiga, menurut saya merupakan perjalanan terpanjang. Di pos tiga, kami istirahat sebentar. Udara makin dingin dan untuk menghangatkan diri, bubur pun dibuat di pos itu. Di saat yang sama, kami duduk saling beradu punggung. Punggung dengan punggung bertemu untuk menghangatkan sebagian tubuh kami. Cara itu cukup efektif untuk membuat kami bertahan di tengah udara dingin. 

Selesai makan malam dengan bubur dan roti, kami lanjutkan perjalanan menuju pos lima, kemudian mendirikan tenda untuk bermalam. 

Apa yang spesial dari saat bermalam bersama di dalam tenda? Ialah berbagi kehangatan.

Dalam perjalanan panjang itu, kita telah menembus kabut, hujan, juga udara yang dingin. Kami beruntung karena hujan tidak turun hingga malam hari, sehingga kami bebas dari ribetnya mengenakan mantol dan jalan yang licin. Saya juga syukuri dalam perjalana itu bisa menyaksikan bintang, meski dingin dan harus berhati-hati agar tak tersandung ranting pohon atau akar pohon yang melintang di tengah jalan. 

Kami akan melanjutkan perjalanan menuju puncak setelah fajar tiba. Malam itu, setelah makan mie, kami baru menata posisi untuk tidur. 



Ijinkan Naraya Trip Planner menjadi mitra perjalanan Anda. Persiapan Traveling, mulai dari tiket, penginapan, sampai kuliner akan dipersiapakan oleh tim Naraya Trip Planner. Silahkan hubungi NarayaTour (0857 004 747 43).
Naraya Trip Planner, “Your Best Trip Assistant”

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.