Latest News

Nyanyian Penjaga Gunung Lawu

Sayap, Gunung Lawu. credit/Mutayasaroh
Narayatrip.com- Pagi hari saat kau ada di kota, bunyi apa yang kau dengar untuk pertama kalinya? Saya tak yakin kita mendengar hal yang sama, tapi adakah di antara kalian yang mendengar suara mesin motor? Anak kos ribut bergiliran kamar mandi?


Ibu kos yang tiba-tiba mengingatkan agar merapihkan tempat sampah? Suara ringtone handphone yang sangat keras dari milikmu sendiri karena bos penasaran kenapa kamu belum sampai di kantor, ataukah suara televisi yang dinyalakan oleh penghuni kamar sebelah?
Burung Jalak Gading Gunung Lawu. credit/Mutayasaroh
Saya mendengar hampir semua itu setiap hari. Suara langkah kaki anak kos menuju kamar mandi, anak kos yang menyalakan mesin motor, suara pintu depan yang dibuka oleh anak kos yang akan pergi kerja atau kuliah, suara televisi penghuni kamar sebelah, ringtone hape anak kos di kamar sebelah lagi, dan kadang ringtone handphoneku sendiri yang merupakan tanda kuota paket internetku habis, agak lebih menyenangkan jika ringtone itu berasal dari email pemberitahuan pekerjaan sudah sempurna atau gaji yang dikirimkan. Terkadang bangun tidur jadi lebih damai jikalau ada beberapa ekor burung bertengger di pohon jambu depan kamar.

Karena kesibukan sehari-hari yang tak pernah sama setiap hari meski dengan pola yang tak jauh berbeda, saya menginginkan hal baru setiap waktu. Lalu, jika ada kesempatan untuk merasakan hal baru itu, saya akan mengambilnya tentu dengan perhitungan bahwa saya tidak akan rugi. 

Seminggu lalu, tanggal 2 April 2017 saya bangun di kawasan Gunung Lawu. Saya dan sembilan orang teman, juga dengan pendaki lainnya mendirikan tenda di Pos 5, kawasan sabana di tengah-tengah pohon pinus. 

Saya bisa mendengar suara khas burung endemik penghuni kawasan gunung itu saat fajar menjelang. Saya memang masih tidur di dalam tenda, namun kesadaran saya sudah berada di luarnya. Pelan-pelan saya keluar tenda, membiarkan teman-teman saya yang lain tetap tidur. 

Udara dingin segera menyerbu tulang belulang pagi itu, tapi saya bisa tahan. Saya mengenakan jaket Rei casual pagi itu, juga celana jeans, dan double kaos. Dengan itu, saya cukup kuat untuk menahan udara dingin pegunungan. 

Hal pertama yang saya lakukan adalah minta air minum hangat dari tenda sebelah. Mereka sudah bangun terlebih dahulu, juga sudah menghangatkan air mineral. 

Setelah itu, saya melihat sekeliling. Saya merasa damai di tengah-tengahnya, seperti sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Saya hanya punya satu rasa, penasaran dengan apa saja yang ada di sekeliling saya. 

Nampak semuanya hijau. Saya melihat pohon pinus dan rumput-rumput tebal yang tumbuh di perbukitan, suara kicau burung, dan sentuhan surya di pucuk-pucuk daun. 

Saya tak tahan untuk berdiam diri, saya coba melihat-lihat sekeliling. Saya berjalan ke bukit yang ditumbuhi pohon pinus. Untuk menuju tempat itu, saya harus melewati jalan setapak di antara sabana. Tak apa, jalannya sudah cukup ramah untuk dua kaki manusia. Saya terus berjalan sampai bukit. Sesampainya saya di antara pohon pinus, saya membalik badan dan melihat ke arah perkemahan. Saya melihat pemandangan yang menarik, kombinasi warna-warna tenda yang tergabung dengan alam berwarna hijau, memang kontras, tapi semuanya terasa serasi. 

Saya tak tahu hal itu sampai saya berada di bukit itu. Saya juga bisa melihat orang-orang yang keluar dari tenda masing-masing nampak sangat menikmati pengalamanannya. Mereka tak menyesal telah berjalan dan mendaki hingga ketinggian lebih dari 2.500 mdpl agar bisa mendirikan tenda di tempat yang aman itu. 

Terlihat jelas bahwa tenda-tenda kami terlindungi dari angin. Pernahkah kau bayangkan angin gunung itu tenang? Memang nampak tenang, tapi sebetulnya gerakannya teramat cepat. Ukurannya bisa kau lihat dari awan yang bergerak di atasmu. Saat kau melihat ada awan yang bergerak dengan cepat, secepat itulah sebetulnya kecepatan angin di gunung.  

Oleh karenanya, setiap pendaki akan memilih area kemah yang terlindungi atau memilih area yang tidak menjadi jalur angin. 

Saat itu, saya mengamati tenda-tenda satu per satu dari jauh. Saya juga mengamati orang-orang yang mulai beraktivitas dari jauh. Seru, ada karakter yang tak bisa saya gambarkan saat itu juga, juga ada ekspresi yang belum saya temukan istilah yang paling tepat untuk menggambarkan. Apakah itu sejenis kegembiraan, rasa syukur yang muncul, ataukah puas? dari masing-masing wajah yang saya lihat itu? Saya belum tahu, karena saya merasakan kombinasi dari berbagai macam perasaan di wajah mereka. Entah bagaimana, saya merasa seperti pulang dan menemukan keluarga baru. 

Padahal sebetulnya mereka tidak mengenal saya, saya juga tidak mengenal mereka, bahkan banyak diantara mereka yang baru saya kenal satu hari lalu, dan ada pua yang baru beberapa menit lalu. Namun, perasaan menemukan saudara itu tak lepas dari diri saya pagi itu, sampai seekor burung mengagetkan saya.
Burung Jalak, Endemik Gunung Lawu. credit/Mutayasaroh

Burung Jalak dengan bulu berwarna hitam gading dan paruh berwarna kuning bertengger di batang pohon yang ada di depan saya. Saya kaget untuk sesaat karena kedatangannya yang tiba-tiba namun kemudian saya tak melewatkan kesempatan untuk mengambil fotonya. 

Saya heran kenapa burung itu tak terbang menjauh saja saat saya mencoba semakin dekat dengannya. Dia malah santai bertengger di sana. Yah, saya sempat berharap dia mengepakkan sayap, seperti model, namun ia tidak melakukannya. 

Burung Jalak Gading di Gunung Lawu merupakan burung endemik gunung itu. Burung Jalak Gading yang ada di Gunung Lawu tidak bisa ditemukan di tempat lain. Dari beberapa artikel yang sudah saya baca, Burung Jalak di Gunung Lawu memang sudah akrab dengan para pendaki, sehingga mereka tidak nampak khawatir ketika ada manusia mencoba mendekatinya. Malah, burung-burung itu datang dengan sendirinya di sekitar pendaki. Bagi penduduk lokal lereng Gunung Lawu, Burung Jalak ini memiliki julukannya sendiri, yaitu Kiai Jalak, dan pendaki dilarang mengganggu atau pun menangkapnya.

Burung Jalak di Gunung Lawu juga berkaitan erat dengan legenda Majapahit. Di masa lalu, ada seorang raja bergelar Brawijaya V, penguasa Majapahit penganut Budha di tanah Jawa. Ia memiliki dua orang putra dari dua istrinya. Suatu hari, salah seorang putra menganut agama Islam dan berniat mendirikan Keraton berlandaskan agama Islam di tanah Jawa. Brawijaya V merestui keinginan putranya, lalu ia sendiri menyepi ke Gunung Lawu. Itulah akhir dari kejayaan Majapahit. Meskipun demikian, sisa-sisa dari kejayaannya masih nampak kokoh di lereng gunung Lawu. Salah satunya bisa dilihat di Candi Cetho. 

Cerita Brawijaya V ketika hendak menyepi ke Gunung Lawu ditemani oleh dua orang yang setia padanya. Salah satunya ialah seseorang bernama Wangsa Menggala yang menurut cerita setempat ia manusia yang bisa berubah menjadi burung. 

Cerita yang berkembang di kawasan tersebut ialah ketika Brawijaya V sampai di kawasan gunung ini, dia disambut oleh seekor buruk jalak gading sebutan lain jalak Lawu. Burung ini lantas berubah wujud menjadi seorang manusia yang mengaku bernama Wangsa Menggala. Selanjutnya mengantarkan Prabu Brawijaya menuju puncak Gunung Lawu. 

Cerita yang sesungguhnya seperti apa? Saya pun juga tidak tahu karena belum mendapatkan referensi yang saya harapkan. Yah, mungkin di masa depan, satu atau dua tahun lagi saya bisa mendapatkan cerita riwayat Brawijaya V di masa-masa akhir hidupnya kelak. :P

Burung Jalak yang saya lihat itu tetap tenang di ranting pohon yang ada di depan saya. Setelah beberapa kali jepretan, saya sendiri merasa akrab dengannya. Mungkin karena ia tidak membawa aura yang mengancam. 

Seandainya, ya saya berandai-andai, saya bisa bicara dengannya apakah saya bica mempercakapkan tentang Gunung Lawu? kesaksiannya tentang para pendaki sepanjang hidupnya, dan bisakah saya mendengar kisah tentang nenek moyangnya? 

Pasti menarik jika saya bisa melakukannya, sayang saya tak dianugerahi kemampuan itu. 

Saya kemudian pelan-pelan meninggalkan Burung Jalak itu. Saat saya berjalan menjauh, saya mendengar suaranya. Agak menyebalkan karena selama saya berada di dekatnya ia tidak bersuara sedikitpun, namun ketika saya berjalan menjauh dia mulai bersuara, ataukah burung lainnya yang ada di dekatnya yang bersuara?

Bertemu dengan burung jalak pagi itu bukanlah yang terakhir kalinya. Selama perjalanan mendaki, saya bisa melihat beberapa burung terbang dari satu pohon ke pohon yang lainnya di sekitar kami. Mereka seperti mengikuti kami. Sampai di puncakpun burung-burung itu tepat ada. Bahkan saya bisa mendapatkan fotonya dengan lebih baik dari sebelumnya. 

Burung-burung ramah ini juga saya temui ketika saya turun dari Gunung Lawu. Ada burung yang berhenti di depan saya saat saya berjalan turun, ada yang menempel di dahan pohon, ada pula yang terbang di sekitar lalu kemudian bertengger entah di mana dan mulai bersuara.


Ijinkan Naraya Trip Planner menjadi mitra perjalanan Anda. Persiapan Traveling, mulai dari tiket, penginapan, sampai kuliner akan dipersiapakan oleh tim Naraya Trip Planner. Silahkan hubungi NarayaTour (0857 004 747 43).

Naraya Trip Planner, “Your Best Trip Assistant”

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.