Latest News

Hal-hal yang Mulai Dilupakan Orang-orang dari Parangtritis

Menikmati pantai di bawah payung. credit/Mutaya

ASIA, Yogyakarta - Karena saya sering ke Parangtritis dan pantai di sekitarnya, saya ingin menceritakan beberapa hal yang saya lihat dan ketahui dari Parangtritis. Pantai ini tak terlepas dari hal-hal mistis, ombaknya juga sering menelan korban, lingkungannya yang sekarang dipenuhi dengan para pedagang membuat Parangtritis tetap menjadi salah satu destinasi wisata yang diminati banyak orang. Termasuk saya, yang mulai beberapa waktu lalu datang ke Parangtritis hanya untuk mencari foto artistik. Dapatkah? Saya kira tidak, kemampuan saya masih harus terus diasah. 


Selama kunjungan itu, saya pernah bertanya-tanya apa saja yang terjadi di masa lalu di Pantai Parangtritis ini? Pantai yang memiliki hubungan erat dengan roh Nyai Roro Kidul ini, berdasarka cerita yang beredar juga memiliki hubungan erat dengan Keraton Mataram. Kemudian dari jaman ke jaman, Pantai Parangtritis erat kaitannya dengan perubahan sosial, budaya, dan politik di Yogyakarta. 
Suatu hari saya berkunjung ke Bentara Budaya Yogyakarta, di sana selain melihat-lihat pameran yang sedang didisplay di dinding Bentara, saya melihat sebuah buku berjudul Pesanggrahan Parangtritis 1933-2011. Saya tertarik pada buku itu. 

Saat itu ada sebuah buku yang sudah dibuka dari pembungkusnya, maka aku ambil buku itu, aku buka halamannya untuk membaca sekilas isinya. Yup, saya betul-betul tertarik, apalagi sekelibat saya yakin bahwa pengetahuan ini tak banyak generasi milenial yang mengetahuinya, ini membuat saya ingin membelinya dan menyebarluaskannya di kemudian hari. 

Buku terbitan Bentara Budaya Yogyakarta itu pun saya bawa pulang setelah membayarnya. 

Dalam kata pengantar buku itu ditulis Pantai Parangtritis rupanya memiliki nilai tersendiri, yaitu dianggap sebagai pantai yang paling banyak memiliki sejarah dan legenda tentang tanah jawa. Kawasan Pantai Parangtritis ternyata mempunyai banyak tempat yang dianggap keramat seperti Parang Wedang, Gua Payung, Gua Semin, dan Gua Langse. Di samping itu, sebenarnya ada beberapa tempat mempersona selain pantai dan ombak laut selatan. Tempat tersebut ada di sepanjang Pegunungan Kelir yang membujur dari daerah Grogol (Parangtritis) ke timur sampai di atas Gua Langse. Ada juga sebuah pemandian alam yang memiliki air jernih walaupun tidak jauh dari pantai. Pemandian ini dahulu dibangun oleh seorang mantan masinis kereta api bernama John Kersch yang berada di pesisir Pantai Parangtritis sekitar Parang Endong. 

Di samping itu, Parangtritis sejak jaman dahulu merupakan tempat untuk ritual labuhan, baik yang dilakukan oleh keraton maupun masyarakat, seperti Upacara Labuhan Pek Cun dari masyarakat keturunan Cina. 

Asal Usul Parangtritis
Anak-anak bermain di Pantai Parangtritis. credit/Mutaya

Parangtritis yang lembut itu tetap memiliki cerita, minimal asal usul penamaannya. Saya sebelumnya juga tak tahu nama Parangtritis itu diambil dari mana, namun melalui buku yang disusun oleh Hermanu dan tim saya mengetahuinya. 

Saya tak sempat menghafalnya, namun saya menulis ulang asal usul cerita penamaan Parangtritis itu. Bersumber dari buku Pasanggragan Parangtritis 1933-2011, begini asal usul Parangtritis. 

Terdapat sebuah Pasanggrahan Parangtritis di pesisir pantai Laut Selatan, berada di di pojok tenggara Desa Mancingan, Kelurahan Grogol, Onderdistrik Kreteg, Distrik Kebonongan. Sebelum tahun Masehi 1923, berada di bawah onderdistrik Grogol, distrik Kreteg, Kabupaten Bantul, negeri Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Pasanggrahan Parangtritis tadi berada di dalam perkampungan menghadap ke selatan, berada di tepi jalan di depannya ada bukit pasir, dan menghadap ke laut. Di sebelah utara pesanggrahan, ada kebun yang ditanami pohon kelapa yang cukup banyak dan di pojok sebelah barat ada mata air (umbul) yang airnya turun ke bawah melalui lereng Bukit Senara. Senara adalah intisari dari batu stalagnid dan stalagmid yang berwarna putih. 

Jatuhnya air menyembur kembali ke atas seperti air hujan yang jatuh di genteng tritis (serambi) pesanggrahan sehingga air tadi lalu jatuh kebali ke bawah lewat teritisan tersebut. Di bawah diterima oleh kolam di sekitar serambi. Suaranya kumrasak (deras) seperti air hujan atau cling clang kumarenceng, berkumandang membuat tenteramnya hati dan pendengaran. Sementara itu, di sebelah kiri umbul (sumber) ada tumbuh pepohonan yang besar-besar dan rindang sehingga membuat suasana menjadi asri. Kalau dinamakan Grogojan Sewu cukup pantas. 

Berdasarkan uraian dari buku tersebut, nama Parangtritis itu ada hubungannya dengan tritisan di Pasanggrahan Parangtritis tadi. Parang artinya batu, tritis artinya air yang jatuh menetes di trititsan. Dari kedua kata tersebut maka jadilah kata Parangtritis. 

Keramaian Parangtritis
Menikmati ombak. credit/Mutaya

Kita semua sudah terbiasa dengan keramaian Parangtritis. Kapan saja, kita masih bisa melihat orang-orang di sekitar Parangtritis, baik pelancong maupun pedagang. Banyak diantara mereka yang bahkan rela menginap di sekitar pantai. Bagaimana tidak, sudah ada penginapan yang di didirkan tak jauh dari bibir pantai itu. orang-orang yang melancong dari jauh tentu takkan sulit menemukan penginapan yang sesuai dengan standar mereka sendiri. 

Nah, di masa lalu, keramaian Parangtritis pun tak jauh beda dengan sekarang ini. Sesuatu yang membedakannya hanyalah tipe warung dan jumlahnya. 

Sekitar tahun 1900, Parangtritis dikunjungi oleh banyak orang yang ingin berziarah. Kunjungan dengan tujuan seperti itu sudah biasa, pada tahun tersebut, tak sedikit pula yang datang hanya sekedar untuk santai. Banyaknya pelancong yang berdatangan untuk berziarah atau pun hanya sekedar santai itu membuka peluang dagang bagi penduduk sekitar. Sehingga, penduduk asli Parangtritis mulai berdagag dengan cara tradisional. Beberapa diantaranya berjualan minuman kelapa muda saja. 

Lama kelamaan, Parangtritis makin ramai dikunjungi. Labat laun, penduduk asli mendirikan warung di tepi pantai. Dari satu warung kemudian berkembang menjadi banyak. Perkembangan pun menjadikan penduduk asli makin kreatif dengan menyatukan konsep warung dan tempat tinggal. Pada tahun 1900-an, ada kurang lebih 15 watung yang berfungsi sebagai tempat tinggal. 

Kondisi itu tak berkurang, tapi justeru bertambah. Seperti semut mendekati gula, tahu ada potensi rezeki maka mereka berdatangan. Terutama pada saat ada labuhan, pedagang yang berdagang di Pantai Parangtritis tak hanya penduduk asli. 

Dulu, makanan dan minuman yang dijual di sekitar Pantai Parangtritis ialah soto, tahu, pecel, sate, pecel gendongan, dan peyek undur-undur. Kini? Sudah lebih dari itu. Kita takkan kesulitan mendapatkan ikan bakar, ayam goreng, minuman bersoda, dan lain sebagainya. 

Orang Belanda Pernah Tinggal di Parangtritis
Pedagang di pesisir Pantai Parangtritis. credit/Mutaya

Setelah terkenal bahwa Pantai Parangtritis merupakan tempat yang ramai dikunjungi orang dan juga dianggap keramat, seorang warga Belanda kelahiran Jawa bernama John Kersch meminta izin pada pemerintah Hindia Belanda untuk tinggal, menetap, dan membangun usaha di Pantai Parangtritis. Hal itu terjadi pada tahun 1912. Ia tinggal di sebelah barat Pesanggrahan Parangtritis. 

John, begitu ia lebih akrab dikenal memang tidak punya rumah tinggal karena rumahnya di kampong Jayaningratan yang berada di dalam kota Yogyakarta terkena imbas pelebaran kantor Pegadaian Gondokusuman. Ia setuju melepas hak atas rumahnya kemudian mengajukan izin menetap di Parangtritis.

John, yang seorang mantan masinis ini mendapatkan ijin tinggal dari Gupremen (Gouvernement). Tanah yang menjadi tempat tinggalnya ialah tnah sawah di sebelah barat Pesanggrahan Parangtritis milik warga Mancingan. 

Dia membeli sawah tersebut kemudian membangun rumah tinggal yang juga difungsikan sebagai penginapan atau hotel bagi pegunjung Parangtritis. Di sana, dia juga menjual makanan dan minuman sebagai mata pencahariannya. 

Sebagai pajak, John tidak diperkenankan mengambil uang sewa bagi kerabat Keraton Yogyakarta atau Pamongpraja yang berkunjung dan menginap di rumahnya. John menyetujui hal itu. 

John dikenal sebagai pekerja keras. Ia selalu mempunyai keinginan untuk memajukan usahanya, yang berarti juga akan memajukan wilayah Parangtritis. Orang Belanda ini ulet dan menjadi contoh bagi warga pada waktu itu.

Lalu, bagaimana kondisi Parangtritis saat ini?

Sekarang, tidak hanya lima belas pedagang yang membuka usaha di sana. Sudah ada ratusan pedagang yang membuka usaha. Usaha yang dibuka pun sudah beraneka ragam, terutama di bidang kulinernya, kita bisa dengan mudah mendapatkan cumi, udang, atau kepiting goreng. Bahkan ada pula yang menyewakan motor, dokar, dan payung untuk wisatawan yang datang ke Parangtritis. 

Ijinkan Naraya Trip Planner menjadi mitra perjalanan Anda. Persiapan Traveling, mulai dari tiket, penginapan, sampai kuliner akan dipersiapakan oleh tim Naraya Trip Planner. Silahkan hubungi NarayaTour (0857 004 747 43).
Naraya Trip Planner, “Your Best Trip Assistant”

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.