Latest News

Berkenalan dengan Fotografi Macro Teguh Santosa

Teguh Santosa, Fotografer Mikro. credit/ Mutayasaroh

Narayatrip.com - Dunia macro itu kecil, tapi unik dan sensitif. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah mengikuti diskusi fotografi macro dengan seorang fotografer senior, Teguh Santosa di Gudang Digital, jalan Gejayan Yogyakarta, Selasa, 18 April 2017.

Diskusi yang dilaksanakan di lantai dua gedung Gudang Digital itu berlangsung kurang lebih pukul 18.30 WIB. Menghadirkan pemantik luar kota, seorang senior di bidang fotografi dan tentu saja ia fokus pada dunia fotografi macro yang seturut ceritanya merupakan dunia fotografi yang pernah dicibir oleh banyak orang.

Meskipun demikian, semangat dan motifasinya dalam menghadirkan dunia dari jagad macro tak patah arang. Ia terus bergerak sejak tahun 2008 di dunia macro. Lelah? sudah pasti, tapi ia selau merasa bangga dengan hasilnya. Sebab, ia bisa menghadirkan luasnya dunia dari dalam embun dengan lensanya.

Ia berjuang sejak dunia macro dipandang sebelah mata hingga tahun 2010. Oleh karenanya, ia sempat berpikir bahwa dunia macro merupakan sebuah jagad kecil yang (sering) terlupakan.

"Pernah mengalami masa-masa makro dipandang sebelah mata hingga tahun 2010. Seolah-olah motret macro itu kegiatan iseng ketika motret model tidak bisa dilakukan.  Dunia macro dianggap sebagai aktivitas iseng.  Justru dr olok-olok, memacu saya membuat karya yang berbeda," ungkap Teguh Santosa, di Gudang Digital, Selasa, 18 April 2017.

Ia menerangkan dunia macro adalah kreasi asli orang Indonesia. Di dunia internasional macro bukan aliran fotografi namun teknik memotret dengan perbandingan satu banding satu objek dengan sensor kamera. "Kita buat sub aliran sendiri di Indonesia," tuturnya.


Ia menuturkan beberapa jenis fotografi macro yang sebetulnya tak jauh beda dengan fotografi lainnya, hanya saja subjek dan objek fotonya berbeda dari kebanyakan foto.

Model atau jenis fotografi macro yang pertama ialah natural, apa adanya di alam tanpa direka atau disetting.  Kedua concept, disetting agar satu momentum dimungkinkan terjadi.  Ketiga macro ekstrem, kita mendekatka diri pada objek foto hingga zoom besar, seperti memotret ular, atau detail anatomi hewan. Keempat, Still Life, memotret untuk benda mati, atau benda-benda kecil yang diatur sehingga terasa hidup. Kelima, macro art atau digital imaging, menggabungkan lebih dari satu foto bahkan bisa lebih dari satu momen.  Jenis ini masih debatable dalam perlombaan, namun untuk mengukur daya seni seorang fotografer, model ini bisa dipraktikkan.

Lalu, apakah foto indah dan gambar indah itu sama? Menurut Teguh Santosa, keduanya berbeda. Apanya yang berbeda? rasanya, jawabnya. Ia menurutkan jika sebauh foto hanya menyajikan gambar indah tidak akan memberikan kesan mendalam sehingga akan menghadirkan repetisi-repetisi.

Menukil kata-kata Agus leonardus, "Jika hanya mengutamakan teknis dan keindahan visual dan melupakan isi fotonya maka fotografer macro terjebak menjadi perajin foto," kata Teguh.

Ia menyambungkan kalimat itu dengan nada reflektif, "Begitu bisa memotret detail, lalu apa? Antarkan pesan ke benak.  Ini tidak mudah, tapi cobalah.  Triknya, tambahkan judul, tambahkan cerita di dalamnya, cerita inilah yang bisa disebut dengan personifikasi objek.," saran Teguh.

Dalam dunia fotografi juga terdapat sisi-sisi yang belum dijelajahi. Teguh berpesan untuk mendapatkan dunia yang belum terjelajahi itu untuk bisa menjadi fotografer handal. Istilahnya, Terra incoqnita, dunia yang belum terjelajahi.

"Jangan jadi epigon, kalau perlu jalan sendiri, nggak usah takut aneh dilihat oleh orang lain," pesannya.

Teguh berkisah, dalam perjalanannya di dunia fotografi macro, ia pun jalan-jalan sendiri ke lokasi tertentu untuk mendapatkan foto tertentu. Ia tak ragu, karena ia sangat menghayati perannya dan kesukaannya di dunia fotografi macro. Kenapa? karena di dunia fotografi macro ia bisa memasukkan langit ke dalam embun!

Kesuksesannya di dunia fotografi macro tak terlepas dari caranya melihat dunia. Baginya, ketika memotret, secara psikologis ia sedang menyusut menjadi lebih kecil dari subjek foto.

"Saya menyusut sehingga mampu melihat subjek foto kita lebih baik. Secara pikiran dan perasaan mengecil, lebih kecil dari subjek foto kita, agar bisa merasakan sisi 'humannya' juga," paparnya.

Foto makro sebaiknya memang mengarah pada 'manusia', kata Teguh. Dengan mengarahkan setiap subjek foto sebagai 'manusia' atau membuatnya menjadi human interest, hal-hal yang tak terungkap oleh subjek ketika dipandang mata bisa terungkap lebih jelas oleh mata karena kita membuatnya demikian. Foto benda mati, manusia, binatang, tanpa 'ruh' kemanusiaan, akan lepas dari makna, begitulah yang saya dapat di akhir sesi diskusi.


No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.