Latest News

Aku Menjemput Matahari, Kamu Menunggu Senja

Matahari mulai terbit di Spot Riyadi. credit/Mutayasaroh
Narayatrip.com-Lima kalimat ini muncul begitu saja dalam perjalanan pulang dari Spot Riyadi, Prambanan Yogyakarta.
Aku menjemput metahari terbit
Kau menunggu senja
Aku menantikan bintang bersinar
Kau tersenyum pada bulan

kapan ketemune?

Spot Riyadi saya datangi bersama dua kawan yang sama-sama suka menantikan matahari terbit. 
Sebetulnya kami tidak menentukan destinasi sejak awal, keinginan melihat matahari terbit itu
tiba-tiba muncul saat kami sedang santai. Sebuah grub Whatsapp mengawali semuanya. 
Panorama Spot Riyadi. credit/Mutaya


Malam Kamis, salah seorang teman menanyakan adakah acara ngumpul ngopi bareng seperti biasa via whatsapp grub. Tidak, tak ada yang sedang ngopi di luar malam itu. Masing-masing sedang berkutat dengan kegiatannya sendiri-sendiri, ada yang bilang via chat whatsapp pribadi kalau dia sedang mengerjakan artikel, kemungkinan akan selesai pada tengah malam sehingga tak bisa berkumpul sekalipun dia sedang di Yogyakarta. 

Percakapan pun ramai, sampai tiba-tiba saja, salah seorang dari kami mengajak melihat matahari terbit, soal destinasi tak penting yang penting adalah perjalanannya. Saya yang tertarik melihat matahari terbit langsung mengatakan "Aku ikuut!"

Obrolan tentang melihat matahari terbit ini pun berlanjut. 

Salah seorang teman kami, yang seorang pemandu, memperlihatkan foto-foto beberapa lokasi, dan terpilihlah Puncak Suroloyo pada detik itu juga. Namun, sebelum berangkat, kami harus bertemu dulu di suatu tempat untuk memastikan keputusan itu. 

Meskipun melihat matahari terbit dibicarakan ramai di grub, yang berangkat untuk betul-betul melihatnya hanya bertiga. 

Saya dan dua orang teman memutuskan bertemu, pertama di Indomaret Poin Jalan Colombo, tempat yang selalu ramai diisi oleh pemuda itu memang strategis. Berada di perempatan Jalan Samirono, berdekatan dengan Gor Universitas Negeri Yogyakarta dan Kampus UNY itu sendiri.

Tak jauh dari keberadaannya, ada Kampus UGM, rumah sakit, warung makan, dan destinasi nongkrong anak muda lainnya. Jadi, tak heran kalau Indomaret Poin yang dibuka 24 jam ini ramai selalu. 

Kami membeli kopi di sana, untuk menghangatkan suasana dan badan sekaligus kami ngobrol. Awal mula obrolan dibuka dengan rencana pernikahan seorang teman. Kamu bisa bayangkan topik apa saja yang membuat kami makin seru. 

Menjelang tengah malam, barulah destinasi melihat matahari terbit itu dipastikan. Benarkah ke Puncak Suroloyo?

Puncak Suroloyo

Puncak Suroloyo. doc. Istimewa

Puncak Suroloyo merupakan puncak tertinggi di perbukitan Menoreh, Yogyakarta. Perbukitan Menoreh, memiliki ketinggian kurang lebih 2000 meter dpl, membentang sepanjang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Puncak Suroloyo juga merupakan titik temu antara empat gunung, yaitu Gunung Merapi, Gunung Sindoro,  Gunung Sumbing, dan Gunung Merbabu. 

Dari Puncak Suroloyo, kita bisa menyaksikan Yogyakarta berselimut awan dan bisa melihat langsung landskap Cando Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. 

Di Puncak Suroloyo, terdapat tiga buah gardu pandang yang secara umum disebut pertapaan. Masing-masing gardu pandang memiliki nama, yakni Suroloyo, Sariloyo, dan Kaendran. 

Gardu pandang pertama, Pertapaan Suroloyo berada di paling bawah bukit, bila dibandingkan dengan dua lainnya. Dari sinilah Traveler bisa melihat landskap Candi Borobudur. 

Gardu pandang kedua, Pertapaan Sariloyo, terletak 200 meter ke arah barat. Dari Pertapaan Sariloyo, Traveler bisa melihat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Sementara gardu pandang ketiga, Pertapaan Kaendran, Traveler harus menaiki tangga kurang lebih 200 meter lagi. Dari Pertapaan Kaendran, Traveler bisa melihat siluet Pantai Glagah di Kulonprogo. 

Agar bisa menjangkau Puncak Suroloyo, Traveler bisa melalui rute Jalan Godean-Sentolo-Kalibawang. Ada rute lainnya, yaitu Jalan Magelang-

Pasar Muntilan-Kalibawang. Traveler harus melalui jalan yang berkelok, naik turun dengan kelokan tajam, serta tanjakan curam. 

Jalan menuju Puncak Suroloyo bisa dilalui motor, sedangkan untuk mobil harus berhati-hati karena lebar jalan hanya tiga meter.

Dengan pertimbangan perjalanan dilakukan sudah dini hari, jalan gelap, berkelok, dan di sisi kanan kirinya jurang kami putuskan untuk menunda menikmati Puncak Suroloyo. Kami tidak ingin celaka di perjalanan. Setelah itu, kami mencari-cari lokasi lain yang nampaknya lebih menjanjikan. Melalui akun Instagram, kami menemukan satu tempat yang kami perkirakan cocok, yaitu Spot Riyadi.

Spot Riyadi

Taman bunga di SPor Royadi. credit/Mutayasaroh

Spot Riyadi berada dalam wilayah topografi Prambanan. Dari pusat kota Yogyakarta, akan makan waktu kurang lebih 35 menit itupun jika tidak macet agar bisa  menjangkau lokasi. Saat ini Spot Riyadi ramai diperbincangkan karena sering muncul di akun-akun Instagram pada traveler. 

Keterkenalan Spot Riyadi ini berkaitan erat dengan Candi Prambanan dan Gunung Merapi. Betapa tidak, dari Spot Riyadi, dalam keadaan cerah, Traveler bisa melihat Candi Prambanan dan Gunung Merapi sekaligus. Dua Objek yang sudah sangat terkenal di dunia itu tentu akan menarik perhatian banyak orang yang memiliki perhatian khusus pada keduanya. 

Selain itu, dari Spot Riyadi Traveler bisa merasakan pemandangan pedesaan, sawah-sawah yang membentang, dan landskap kota. 

Saya dan dua teman saya yang memutuskan untuk sampai di Spot Riyadi. Dari Yogyakarta kami berangkat melalui Jalan Jogja-Solo menuju Pramabanan. Kemudian, kami lewat Jalan Piyungan agar bisa sampai ke Spot Riyadi yang lokasinya berdekatan dengan Sumberwatu Heritage Resort dan Abhayagiri Restaurant. Jalan menuju SPot Riyadi berada di sisi kiri resort. Di sana, ada sebuah jalan yang dicor semen. Jalan menanjak itu merupakan jalan menanjak, sehingga Anda harus hati-hati untuk bisa menjangkaunya. 

Ambil jalan lurus tersebut, Traveler akan bertemu jalan bercabang, pilihlah jalur ke kiri. Kemudian, ikuti jalur tersebut sampai bertemu dengan jalan bercabang lagi, ambil kiri, tak kurang dari 100 meter, Traveler sudah bisa mencapai Spot Riyadi. 

Kami mendapati pemandangan malam yang terasa unik pada saat kami sampai di lokasi tepat pukul 02.43 WIB. Mau apa kami di sana pada jam tersebut? 

Tentu saja, kami mengeluarkan kamera dari ponsel masing-masing. Sebelum memotret, kami melihat-lihat dulu, apa saja yang bisa kami ambil. Di depan kami terhampar pemandangan lampu kota, sesekali kereta dari arah Solo lewat di depan kami. Sementara lampu yang menyinari Candi
Prambanan menarik perhatian kami seketika saat kami melihat-lihat.

Lampu kota dari Spot Riyadi. credit/Mutayasaroh


Pemandangan Candi Prambanan yang terfoto dari Spot Riyadi sudah banyak beredar di media sosial. Lokasi yang membuat kami bisa melihat siluet Merapi, Lawu, Sindoro, dan Sumbing ini memang sangat menarik dijadikan objek fotografi. 

Kami yang datang sedini itu tak kekurangan bahan untuk foto. Selain landskap kota, pemandangan yang terdapat di depan sebuah rumah milik Riyadi itu juga tak kalah menarik untuk dijadikan objek foto. Dengan keisengan eh kreativitas kami main-main dengan teknik. 

Ada taman bunga, jembatan cinta, dan spot camp di sekitar pendopo rumah Riyadi itu. Spot-spot foto ini nampak rapi, terlihat jelas disetting untuk membuat wisatawan semakin menyukai Spot Riyadi. 

Puncak Watu Patog

Merapi dari Spot Riyadi. credit/Mutayasaroh

Saya lupa nama lengkapnya, namun di Spot Riyadi, tidak sebatas halaman Riyadi saja yang bisa menjadi sebuah spot fotografi alam. Saya dan dua teman saya menjajal sebuah destinasi. Pada jam kurang lebih 5.00 wib, kami memutuskan membawa diri mencari spot lain. Kami mengikuti jalan cor semen. 

Destinasi yang belum kami ketahui ini entah di mana sebenarnya. Kami asal saja mengikuti jalan untuk mencapai sesuatu yang belum pasti menarik. Jalan itu menanjak, cor semennya tidak sampai atas, sehingga kami masih harus melewati jalan tanah yang hari itu berlumpur. Kami tetap melanjutkan perjalanan meski tak tahu ada atau tidak lokasi yang  lebih menarik dari Spot Riyadi di bawah sana. Kami berhenti setelah tidak ada lagi jalan. Di depan kami, sebuah bukit kecil, dipenuhi vegetasi. 

Saat menginjakkan kaki di sana, kami bisa mendengar suara burung mulai beraktivitas. Agak ragu-ragu, tapi karena rasa penasaran tak bisa ditolak, kami tetap melanjutkan langkah dengan berjalan kaki mengikuti jalur yang nampak sudah sering menjadi jalur manusia di sekitar sana. Kami naik, mendapati sebuah plang bertulis Puncak Watu Patog. Saya melihat papan nama puncak dipatok di sebuah pohon.

Di sanalah kami memutuskan berhenti melanjutkan langkah. Selain karena matahari mulai terbit, kami tidak yakin jika terus berjalan akan menemukan lokasi yang lebih baik dari tempat itu.

Dari Puncak Watu Patog itu, kami bisa melihat Merapi, hamparan sawah, dan landskap deretan pegunungan dalam siluet. Puas menikmati suasana, sebelum ngantuk menyerang kami lebih hebat,
kami putuskan untuk pulang, kembali ke realitas dan rutinitas.



No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.