Latest News

Perburuan Ikan Hiu Mencapai 10 Juta Ekor dalam Setahun

Anakan Ikan Hiu di Pasar Ikan Pantai Depok-Parangtritis. credit/Mutayasaroh
Narayatrip.com-Saat itu saya ingin membeli ikan untuk makan malam dan sekaligus meminta salah satu warung di Pantai Depok-Parangtritis untuk memasakkan ikan yang saya pilih. Saya diantar seorang perempuan berkerudung asal Kalimantan.


Ia bekerja sebagai porter pelanggan ikan untuk warungnya. Kerjanya sederhana mengajak pengunjung pantai untuk membeli ikan di Pasar Ikan Pantai Depok kemudian membuatnya bersedia memasak serta makan hasil olahannya di warung tempatnya bekerja. Ia akan mendapatkan upah dari upayanya itu.

Saya bertemu dengannya setelah saya mencuci kaki saya yang penuh dengan air di kamar mandi dekat parkiran. Ia bertanya maukah saya makan dulu sebelum pulang?

Kebetulan, saya memang sedang ingin makan di dekat pantai dan membawa pulang ikan untuk makan malam. Saya dan teman saya pun mengiyakan, kami berjalan beriringan sampai ke Pusat/Pasar Ikan Pantai Depok-Parangtritis.

Pas di pintu masuk pandangan mata saya langsung tertumbuk pada ikan hiu anakan yang tergeletak menggoda di meja penjual ikan. Jumlahnya tiga ekor.

Saya masuk, memperhatikan ikan-ikan segar yang tergeletak di sana. Rupanya tak hanya tiga ekor ikan hiu anakan tadi saja yang ada di pasar itu, masih ada ikan hiu lain di sepanjang meja pasar ikan itu. Keinginan saya teralihkan sebentar, dari yang awalnya hanya ingin beli ikan menjadi mengambil foto ikan-ikan itu.
Pasar Ikan Pantai Depok-Parangtritis, Yogyakarta. credit/Mutayasaroh
Setelah cukup puas mengambil foto, saya baru memilih. Ada cumi, udang, kerang, ikan bawal, dan ikan cakalang yang menggoda. Saya tertarik dengan ketebalan daging ikan cakalang, maka saya pilih itu. Saya beli satu kilo berisi empat ekor, harganya Rp20.000,-. Saya juga ditawari ikan pari, namun saya jawab saya tidak ingi makan ikan pari, cukup cakalang saja.

Ikan yang saya beli pun saya bawa ke warung untuk di masak. Selama menunggu, saya melihat-lihat kembali hasil jepretan yang saya lakukan dengan handphone Redmi 3 tadi. Foto-foto yang saya ambil dari pantai sampai pasar memberi saya kesan-kesan tersendiri dan membut saya teringat pada hal-hal tertentu. Kebanyakan foto-foto itu membawa saya pada kenangan pribadi. Satu per satu foto-foto itu saya edit sederhana, beberapa saya crop, cerahkan, atau saya pertegas warnanya. Ketika saya sampai pada foto ikan hiu, barulah pikiran saya mengembara.

Perdagangan Hiu

Anakan Ikan Hiu di Pasar Ikan Pantai Depok-Parangtritis. credit/Mutayasaroh

Saya teringat, sudah lama ikan hiu yang diperdagangkan menjadi kontroversi. Peraturan terkait hal ini pun tidak diindahkan oleh banyak pihak, aturan mengenai ikan hiu seperti apa yang dilindungi dan tidak tak dipahami oleh semua nelayan. Di samping itu, harga sirip dan daging ikan hiu  pasaran cukup tinggi, sehingga perburuan ikan hiu masih marak.

Sebagai contoh pada bulan Januari Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Jawa Timur mengamankan sekitar 50 ekor hiu yang telah dipotong siripnya, serta potongan sirip siap jual di TPI Pandean, Situbondo.

Hiu yang ditangkap nelayan ini merupakan jenis hiu lanjaman jawa (Carcharhinus amblyrhynchoides) dan hiu martil (Sphyrna lewini).

“Kami amankan kapal dan barang bukti ke Ditpolair Polda Jatim di Surabaya. Nakhoda dan dua awak kapalnya sedang diproses,” jelas AKBP Heru Prasetyo, Kasat Patroli Daerah, Ditpolair Polda Jawa Timur, seperti dilansir dari Mongabay, Selasa (14 Maret 2017).

Tak hanya seperti yang saya lihat di Depok atau pun di Situbondo dalam laporan Mongabay, di Muncar Banyuwangi, juga di Blitar, berburu hiu masih banyak dilakukan pada musim-musim tertentu.

Yudi Herdiana, Marine Program Manager Wildlife Conservation Society (WCS) menjelaskan perburuan atau penangkapan hiu tidak dapat dilepaskan dari faktor ekonomi, yang mendatangkan keuntungan melalui penjualan sirip serta daging. Menurutnya harga sirip hiu cukup tinggi di pasaran ekspor maupun dalam negeri.

“Harga sirip hiu ini cukup mahal, belum lagi dagingnya yang memang bisa jual,” ujar Yudi.
Berdasarkan laporan Rappler Indonesia, Senin (2 Januari 2017) para nelayan di Malang menjual sirip ikan hiu bekam dengan harga Rp18.000- Rp28.000 per kilo. Sementara Ikan hiu tanpa sirip dijual dengan harga Rp9.000 per kilo. Dilaporkan pula bahwa seekor hiu dengan berat sekitar 70 kilogram bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp 2 juta. Pendapatan ini tentu menggiurkan bagi banyak pihak.

Angka Perburuan Hiu

Berdasarkan data dari Lembaga konservasi hutan dan satwa Protection of Forest and Fauna (ProFauna) angka perburuan hiu di Indonesia mencapai jumlah puluhan juta ekor dalam satu tahun.

“Beberapa sumber mengatakan perburuan hiu di Indonesia mencapai angka 10 juta ekor dalam satu tahun. Tingginya potensi pasar dan aturan yang tidak menyeluruh membuat perburuan hiu terus berlanjut,” kata Chairman ProFauna Rosek Nursahid seperti dilansir dari Rappler Indonesia, Selasa (14 Maret 2017).
Anakan Ikan Hiu di Pasar Ikan Pantai Depok-Parangtritis, Yogyakarta. credit/Mutayasaroh

Sedangkan ProFauna mencatat temuan penyelundupan 10 kilogram insang ikan pari manta, 4 karung campuran tilang ikan hiu dan ikan pari manta, serta 2 karung tulang ikan hiu dan 4 buah sirip hiu di Flores Timur pada Juli 2015.

ProFauna juga mencatat 25 persen dari total kasus 67 kasus perdagangan satwa yang terdokumentasi di media sepanjang tahun 2015 didominasi oleh perdagangan satwa laut yaitu penyu, pari, hiu dan yang lain, disusul satwa jenis kucing besar seperti harimau, kucing hutan dan yang lannya sebanyak 16 kasus, burung paruh bengkok 12 kasus, primata 11 kasus dan berbagai jenis burung berkicau 10 kasus.

Perdagangan sirip hiu bahkan sudah ditemukan sejak tahun 1997 dan 1998. Saat itu, lembaga konservasi yang berbasis di Malang ini sedang melakukan investigasi perburuan Penyu di Flores. Dari salah satu perairan, terdapat informasi adanya kapal berbendera asing yang sering berburu paus dan hiu.

Didukung dengan pertumbuhan ekonomi Cina, perdagangan sirip hiu secara global melonjak dalam beberapa tahun terakhir, yakni tumbuh 5 persen setiap tahun. Akibatnya, diperkirakan 73 juta hiu dibunuh setiap tahun, terutama untuk diambil siripnya.

Pada 2007, 114 spesies atau 20,4 persen hiu mask daftar mera IUCN dengan ancaman kepunahan global. Perburuan adalah ancaman terbesar untuk semua jenis spesies hiu. Daftar merah ini meningkat 8 kali lipat dalam waktu 11 tahun. Tiga jenis spesies hiu, yakni Hiu Penjemur (Basking Shark), Hiu Paus, dan Hiu Putih (Great White Shark) masuk daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) pada 2006.

Bagi Yudi perburuan hiu untuk diambil sirip maupun dagingnya juga dipengaruhi tidak adanya ketegasan regulasi larangan menangkap hiu di perairan Indonesia. Regulasi yang ada masih sebatas ekspor.

“Di dunia, terdapat sekitar 816 spesies hiu, dan baru beberapa saja yang diatur maupun dilarang.”
Selain itu, menurut Yudi selain belum adanya aturan tegas, penangkapan hiu terus terjadi karena ada perbedaaan perspektif antara nelayan, dengan aktivis lingkungan, dan pemerhati satwa.

“Penangkapan hiu oleh nelayan karena dianggap sebagai komoditas ikan tangkap biasa, yang dapat dijual untuk menghasilkan uang. Sedangkan pandangan yang tidak setuju menjelaskan, perburuan hiu dapat mempengaruhi ekosistem laut,” jelasnya.

Hiu merupakan predator yang menjadi salah satu penyeimbang ekosistem alam. Yudi menjelaskan mangsa tingkat satu di laut adalah hiu, apabila populasi hiu berkurang ini bisa menyebabkan populasi ikan yang setingkat di bawahnya akan membengkak. Kondisi itu bisa berakibat buruk pada populasi lainnya.

“Mangsa tingkat satu setelah hiu akan membengkak populasinya bila hiu tidak ada. Akibatnya, spesies di bawahnya akan ikut berkurang, padahal spesies yang secara ekonomis penting itu justru yang dimanfaatkan masyarakat misalnya tuna atau tongkol.”

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.