Latest News

Pameran Pra Biennale Yogya, Perkenalan para Seniman Terpilih di Ajang Internasional

Biennale Jogja XI EQUATOR #4 di PKKH UGM  20-25 Maret 2017. credit/Mutayasaroh

ASIA,YOGYAKARTA - Traveler yang penasaran dengan Biennale Jogjaa XIV Equator #4 bisa datang ke Pameran Pra Bienale di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. Yayasan Biennale Yogyakarta mengawali kegiatan Biennale Jogja XIV Equator dengan menyelenggarakan pameran pra biennale di PKKH UGM dari tanggal 20 sampai 25 Maret 2017.

Pius Sigit Kucoro selaku kurator pameran mengatakan penyelenggaraaan pameran pra biennale ini  bertujuan untuk mengumumkan nama-nama perupa Indonesia yang terpilih kepada publik, serta memberikan materi perkenalan berkaitan dengan Brasil sebagai negara mitra pilihan Biennale Yogya kali ini.

Brasil dan Indonesia memiliki beberapa kesamaan, kata Pius. Kesamaan pertama adalah jumlah populasi yang besar. Kesamaan kedua adalah tingkat keragaman hayati yang tinggi, persaingan hidup yang panas dan beragam persoalan yang muncul di kedua wilayah ini akan menjadi medan eksplorasi penyelenggara Biennale Yogya VIX Equator #4.

Kreativitas menghadapi persoalan yang mencemaskan, hingga cara-cara memperjuangkan hidup dalam usaha menemukan harapan, menjadi gagasan yang ingin kami tampilkan dalam Biennale Jogja VIX Equator #4 yang akan datang.
Instalasi karya Narpati Awangga dalam pameran Pra Biennala Jogja XIV EQUATOR #4, tangal 20-25 Maret 2017 di PKKH UGM. Credit/Mutayasaroh
Keterbatasan ruang hidup dan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan hidup adalah masalah utama yang dihadapi negara-negara dengan jumlah populasi besar, sehingga soal keadilan merupakan isu yang sensitif

Hal ini, menurut Putu menjadi dasar untuk menentukan perupa-perupa Indonesia yang akan dilibatkan dalam Biennale Jogja VIX Equator #4. Putu mengungkap dana yang dimiliki hanya mampu memfasilitasi 40 perupa, sedangkan jumlah perupa di kota Yogyakarta sudah menembus angka 1000 orang, sehingga jumlah 40 perupa yang difasilitasi sebenarnya tidak sebanding. 

"Kenyataan ini menjadikan kami harus memilih secara adil supaya tidak menimbulkan persoalan-persoalan yang akan menjauhkan kenyataan dari harapan yang dikehendaki," ujar Putu. 

Maka untuk memilih perupa yang akan diilibatkan dalam Biennale Jogja XIV Equator #4 mendatang, pihak penyelenggara berupaya menyusun konsep pemilihan yang dapat memicu persaingan yang sehat dalam dunia seni rupa, atau setidaknya memperlihatkan peta kompetisi dunia seni rupa Indonesai pada hari ini. 
Display pameran karya Pra Biennale Jogja EQUATOR #4 tanggal 20-25 Maret 2017 di PKKH UGM. Credit/Mutayasaroh
"Kami mengawali pemilihan perupa Indonesia dengan mengumpulkan nama-nama yang aktif berkegiatan antara tahun 2011-2016. Rekan jejak aktivitas pameran selama lima tahun terakhir menjadi rujukan utama bagi kami untuk melacak seniman-seniman yang aktif di beberapa kota. Ada sekitar 900 nama kami kumpulkan, lalu dari 900 nama tersebut kami lakukan proses penyaringan. Setelah melewati tiga tahap penyaringan, kami mendapatkan setidaknya 40 nama perupa, termasuk di dalamnya kelompok atau komunitas perupa yang aktif membuat kegiatan-kegiatan mandiri. Ke-40 nama tersebut kami peras lagi berdasarkana keragaman ekspresi dan kami coba dekati tidak sebagai "objek" melainkan sebagai"subjek" yang kami ajak bicara," jelas Putu. 

"Langkah selanjutnya adalah mendatangi studio kerja mereka dan melakukan wawancara untuk mendalami lebih lanjut tentang kegelisahan yang melatarbelakangi proses kreatif mereka dan harapan-harapan yang hendak mereka capai di masa depan. Pada tahap terakhir ini kami memutuskan 27 nama terpilih," sambung Putu mengakhiri penjelasan terkait proses penjaringan. 

Meskipun demikian, penjelasan itu belum selesai, Putu Sigit Kuncoro melanjutkan bahwa sebetulnya hasil pemilihan perupa dari proses penyaringan tersebut sesungguhnya masih menyisakan kecemasan. Menyatukan keragaman karya dari proses kreatif yang beragam tentu bukan hal yang mudah dilakukan, untuk itulah diselenggarakan kegiatan pra Biennale. Di samping sebagai usaha mengumumkan kepada publik nama-nama perupa Indonesia terpilih, kegiatan Pra Biennale juga bertujuan untuk menampilkan karya-karya perupa terpilih secara apa adanya, supaya dapat terpahami persoalan-persoalan dari keragaman yang dihadapi.

Sementara itu, Kepala PKKH UGM, Prof.Dr. Faruk, H.T menyampaikan pesan kepada Biennale Jogja. "Dalam pergaulan internasioal Biennale Jogja jangan sampai kehilangan spirit-nya yang membedakan Biennale Jogja dengan ajang seni rupa lain. Sebagai acara seni rupa internasional yang berada di Yogyakarta dan diwujudkan oleh orang-orang Yogyakarta, maka Biennale Jogja harusnya memberikan tawaran yang khas dan unik," kata Faruk.

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.