Latest News

Cara Membedakan Berita Hoax dan Bukan Hoax

pict.from Pixabay

Narayatrip.com-Cara untuk mengetahui apakah informasi yang sedang dibaca merupakan hoax atau tidak ialah tidak mengikuti kaidah 5W + 1H (what, where, when, who, why, how); ajakan kirimkan, "share", "like", ..... Selain itu, bahasa yang dipergunakan terlalu berempati, huruf kapital, tanda seru yang over, tidak ada di media resmi, narasumber tidak jelas, tanpa otoritas. dan bahasa tidak baku.


Hoaks (hoax) diketahui secara umum merupakan berita bohong yang sengaja disebar untuk dipercayai oleh orang banyak. Penyebaran hoaks seringkali berada di media sosial yang jumlahnya sudah sangat banyak di internet, sehingga untuk membendung atau menghindarkan netizen dari berita hoax tidak dapat dilakukan hanya oleh pihak berwajib saja, melainkan netizen sendiri harus memiliki pengetahuan untuk membedakan berita hoax dan bukan hoax.

Beberapa cara telah diungkap di atas. Cara-cara tersebut di atas merupakan kesimpula dari hasil diskusi dalam seminar "Melawan Hoaks" yang di adakan di Semarang. Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hubungan Masyarakat Semarang Yanuar Luqman mengimbau masyarakat untuk tak mengindahkan postingan dengan tambahan kata-kata seperti "Katakan like atau amin jika doa Anda pada tahun ini dijabah" agar terhindar dari jebakan hoax.

"Makin banyak yang like dan comment maka nilai jual halaman itu akan makin tinggi," kata Ketua Yanuar Luqman, dalam seminar "Melawan Hoaks" di Semarang, awal pekan ini, seperti dilaporkan dalam Antara, Rabu, (15 Maret 2017).

Selanjutnya, Facebook akan menghubungi akun orang yang populer tersebut dan izin untuk memasang iklan di halaman orang tersebut.

"Dia dapat uang dan keuntungan, sementara kita yang komentar mencaci maki sesama saudara sebangsa, malah menjadikan halaman dia makin populer. Kita kehilangan kewarasan, harga diri, dan persaudaraan. Kita dipecundangi," katanya lagi.

Yanuar menyebutkan di beberapa media sosial, seperti Facebook, kalau artikel atau postingan banyak di-"like", harga halaman tersebut menjadi mahal. Selanjutnya, akan banyak tawaran iklan di situ.

Beberapa orang yang pandai mencari peluang, menurut dia, biasanya akan membuat halamannya akan di-"like" banyak orang.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro Semarang itu lantas mengemukakan latar belakang netizen mempercayai hoaks, antara lain, keterbatasan informasi.

"Individu percaya hoaks bukan karena individu tersebut mudah dibohongi, melainkan karena keterbatasan informasi," kata Yanuar dalam seminar yang diadakan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dan Yayasan Adi Bakti Wartawan (ABW).

Selain itu, tingkat popularitas informasi. Pemberitaan yang terus-menerus dan mencolok dapat menyebabkan mata (hati) seakan menjadi tertutup pada kebenaran yang ada.

Berikutnya, terkait dengan ketertarikan. Individu cenderung melakukan "selective attention" sehingga seseorang tidak begitu memperhatikan topik hoaks dan langsung percaya dengan hoaks.

"Hal lainnya, confirmation bias. Jika hoaks berkaitan dengan hal yang dipercayai, info palsu akan lebih mudah diterima," kata Yanuar Luqman.

Oleh karenanya, edukasi terkait dengan berita hoax itu penting supaya mereka tidak mudah memercayai informasi yang beredar di media sosial sekaligus mencegah netizen berurusan dengan hukum.

Dalam Pasal 28 Ayat (1) UU ITE, disebutkan bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik, dapat dituntut di sidang pengadilan.

Informasi hoaks sangat rentan menimbulkan hal-hal negatif, apalagi bersangkutan dengan unsur kekerasan, suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta politik. Menurut Pemimpin Redaksi Wawasan Gunawan Permadi, netizen paling sering menerima informasi terkait dengan sosial politik, seperti pilkada dan pemerintah, atau persentasenya sekitar 91,8 persen.

Jenis hoaks lainnya, yakni SARA sekitar 88,6 persen; kesehatan 41,2 persen; makanan dan minuman 32,6 persen; penipuan keuangan 24,5 persen; ilmu pengetahuan dan teknologi 23,7 persen; berita duka 18,8 persen; candaan 17,6 persen; bencana alam 10,3 persen; lalu lintas 4 persen.

No comments:

Post a Comment

Berbagi cerita berbagi petualangan berbagi rasa gembira berbagi ilmu pengetahuan, silahkan poskan komentar.

Naraya Trip Planner Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.